Kemarau
panjang mengurangi persediaan air minum atau air untuk sawah. Kemarau panjang
juga membawa serta debu pada angin di jalan-jalan dan di rumah. Pada saat
kemarau panjang dan air memang sulit didapat, umat Islam dianjurkan untuk berdoa
kepada Allah dan melakukan salat untuk turunnya hujan. Salat tersebut tidak
lain adalah salat istisqa. Adapun pada pembahasan kali ini akan sedikit
mengulas: (a) pengertian salat istisqa; (b) hukum salat istisqa; (c) waktu pelaksanaan
salat istisqa; dan (d) tata cara pelaksanaan salat istisqa.
A. Pengertian Salat Istisqa
Istisqa
artinya meminta hujan. Istisqa secara bahasa adalah meminta siraman berupa air
minum, air hujan, air masak, dan lainnya. Sedangkan secara istilah syariat
adalah permintaan hujan oleh seorang hamba kepada Allah SWT saat
membutuhkannya. Istisqa disyariatkan ketika putusnya air hujan atau minimnya
sumber air, semisal karena kemarau panjang. Salat istisqa ialah
salat yang dikerjakan untuk memohon hujan dikala lama tidak turun hujan. Kedudukan
salat istisqa menjadi sangat penting karena menjadi salah satunya solusi supaya
keluar dari krisis air yang berkepanjangan. Salat istisqa ini dilaksanakan
karena alasan tertentu, seperti kemarau berkepanjangan yang menyebabkan krisis
air ataupun kekeringan. Salat istisqa sering di laksanakan masyarakat sekitar lahan
pertanian yang mana kemarau panjang menyebabkan mereka mengalami kerugian
akibat hilangnya penghasilan karena tidak adanya air untuk mengairi lahan
pertanian.
B. Hukum Salat Istisqa
Hukum
salat istisqa adalah sunah muakkadah (sangat ditekankan) ketika dikala lama
tidak turun hujan sehingga terjadi kekeringan tidak ada air. Adapun dalil
tentang salat istisqa sehagaimana hadis berikut.
Hadis Pertama
حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ
نِزَارٍ، حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ مَبْرُورٍ، عَنْ يُونُسَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ،
عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: شَكَا النَّاسُ إِلَى
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُحُوطَ الْمَطَرِ، فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ
فَوُضِعَ لَهُ فِي الْمُصَلَّى، وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ، قَالَتْ
عَائِشَةُ: فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَدَا
حَاجِبُ الشَّمْسِ، فَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَكَبَّرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَحَمِدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدْبَ
دِيَارِكُمْ وَاسْتِئْخَارَ الْمَطَرِ عَنْ إِبَّانِ زَمَانِهِ عَنْكُمْ، وَقَدْ أَمَرَكُمُ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَدْعُوهُ وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ، ثُمَّ
قَالَ: { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ
يَوْمِ الدِّينِ } لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا
الْغَيْثَ، وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ، ثُمَّ
رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ فِي الرَّفْعِ حَتَّى بَدَا بَيَاضُ إِبِطَيْهِ، ثُمَّ
حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَقَلَبَ، أَوْ حَوَّلَ رِدَاءَهُ، وَهُوَ رَافِعٌ
يَدَيْهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، وَنَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، فَأَنْشَأَ
اللَّهُ سَحَابَةً فَرَعَدَتْ وَبَرَقَتْ، ثُمَّ أَمْطَرَتْ بِإِذْنِ اللَّهِ، فَلَمْ
يَأْتِ مَسْجِدَهُ حَتَّى سَالَتِ السُّيُولُ، فَلَمَّا رَأَى سُرْعَتَهُمْ إِلَى الْكِنِّ
ضَحِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ، فَقَالَ: أَشْهَدُ
أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَأَنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ. قَالَ
أَبُو دَاوُد: وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ إِسْنَادُهُ جَيِّدٌ، أَهْلُ الْمَدِينَةِ يَقْرَءُونَ
{ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ } وَإِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ حُجَّةٌ لَهُمْ.
أبي داود
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa'id Al Aili, telah
menceritakan kepada kami Khalid bin Nizar, telah menceritakan kepadaku Al
Qasim bin Mabrur dari Yunus dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya
dari Aisyah dia berkata: “Orang-orang telah datang mengadu pada
Rasulullah SAW tentang tidak adanya hujan. Maka Rasulullah SAW memerintahkan
agar diadakan mimbar, lalu mereka menyediakannya di tanah lapang tempat salat.
Dan Rasulullah SAW menentukan satu hari supaya orang-orang berkumpul di tempat
itu. ‘Aisyah melanjutkan ceritanya: Maka pada hari yang telah ditentukan,
Rasulullah SAW keluar pada waktu matahari terbit; kemudian beliau berdiri di
mimbar, lalu bertakbir dan memuji Allah 'Azza wa Jalla. Setelah itu beliau
bersabda, "Sesungguhnya kalian mengadu kekeringan dan keterlambatan hujan
daripada waktu yang biasa, sedang Allah 'Azza wa Jalla telah memerintahkan agar
kalian memohon kepada-Nya dan Dia menjanjikan akan memperkenankan permohonan
kalian". Kemudian beliau berdoa, "Al-hamdu lillaahi Robbil
'aalamiin, arrohmanirahiim, maalikiyaumidiin (Segala puji bagi Allah Tuhan
semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Raja di hari pembalasan) (QS.
Al Fatihah: 2-4). Laa ilaha illalloohu yaf’alu maa yuriid. Alloohumma
antallahu laa ilaha illa antal ghaniyyu wa nahnul fuqara`. Anzil alainal
ghaitsa waj’al maa anzalta lanaa quwwatan wa balaghan ilaa hiin (Tidak ada
Tuhan yang layak disembah melainkan Allah. Dia berbuat apa yang
dikehendaki-Nya. Ya Allah, Engkaulah Allah yang tidak ada Tuhan melainkan
Engkau, Yang Maha Kaya dan kamilah yang sangat membutuhkan(Mu), turunkanlah
atas kami hujan dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan untuk kami kekuatan dan
bekal hingga satu masa). Dan beliau mengangkat kedua tangannya dan tetap
demikian itu sehingga kelihatan putih kedua ketiaknya. Setelah itu beliau
berpaling membelakangi orang ramai dan membalikkan atau memindahkan ridaknya
(selendangnya), lalu beliau tetap mengangkat kedua tangannya, kemudian beliau
menghadap kepada khalayak ramai, lalu beliau turun dari mimbar dan salat dua
rakaat.” Seketika itu Allah mendatangkan awan yang di sertai dengan gemuruh dan
kilat, Maka turunlah hujan dengan izin Allah, beliau tidak kembali menuju
masjid sampai air bah mengalir (di sekitarnya), ketika beliau melihat
orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tersenyum hingga
terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: "Aku bersaksi bahwa Allah adalah
Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan rasul-Nya." Abu
Daud berkata: "Ini adalah hadits gharib, tapi sanadnya bagus, penduduk
Madinah mambaca "Malikiyaumid-din" dan hadis ini juga menjadi
argumentasi mereka." (HR. Abu Dawud, no. 992).
C. Waktu Pelaksanaan Salat Istisqa
Sebagaimana
hadis riwayat Abu Dawud nomor 992 disebutkan bahwa Rasulullah SAW keluar pada
waktu matahari terbit, kemudian beliau berdiri di mimbar, lalu bertakbir dan
memuji Allah 'Azza wa Jalla. Oleh sebab itu bisa dipahami bahwa salat istisqa
dilaksanakan pada saat pagi ketika matahari sudah terbit.
D. Tata Cara Pelaksanaan Salat
Istisqa
Tata
cara pelaksanaan meminta hujan setidaknya ada dua macam. Cara yang pertama
adalah melaksanakan salat istisqa itu sendiri dan cara yang kedua adalah berdoa
ketika khotbah Jum’at di hari Jum’at.
1.
Melaksanakan Salat Istisqa
Melaksanakan
salat istisqa dengan cara bersama-sama ke tanah lapang, berpakaian sederhana
dan dengan merendahkan diri serta penuh rasa harap kepada Allah SWT. Adapun
terkait khotbah, ada dua riwayat yang menjelaskan urutan khotbah terhadap
salat.
a.
Khotbah dilaksanakan sebelum salat istisqa
Terdapat
riwayat yang menjelaskan bahwa khotbah dilaksanakan sebelum ditegakkannya salat
istisqa’. Hal tersebut sebagaimana hadis riwayat Abu Dawud nomor 992 yang
bersandar pada Aisyah. Khotbah dan berdoa dengan mengangkat tangan
tinggi-tinggi. Lalu berpaling menghadap kiblat dengan tetap berdoa. Kemudian
salat dua rakaat dengan suara nyaring (jahr). Adapun dalil pelaksanaan
sebagaimana hadis berikut.
Hadis Kedua
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ
عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَرَجَ يَسْتَسْقِي قَالَ فَحَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ
وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ يَدْعُو ثُمَّ حَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ
جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ. البخاري
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Adam (bin Abu Ilyas), ia berkata:
telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'b dari Az Zuhri dari 'Abbad
bin Tamim dari Pamannya (Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim bin Ka’ab)
berkata: "Saya pernah melihat Nabi SAW di hari ketika beliau keluar minta
turunnya hujan. Kemudian beliau menghadap ke arah kiblat dengan menghadapkan
punggungnya ke arah manusia, lalu beliau berdoa sambil membalikkan kain
ridaknya (selendangnya). Setelah itu beliau mengimami kami salat dua rakaat
dengan mengeraskan bacaan (jahr)." (HR. Bukhari, no. 969).
b.
Khotbah dilaksanakan setelah salat istisqa
Terdapat
riwayat yang menjelaskan bahwa khotbah dilaksanakan setelah ditegakkannya salat
istisqa’. Hal tersebut sebagaimana hadis berikut.
Hadis Ketiga
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ وَالْحَسَنُ بْنُ أَبِي الرَّبِيعِ
قَالَا حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ
يُحَدِّثُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي
فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلَا أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا
اللَّهَ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ
فَجَعَلَ الْأَيْمَنَ عَلَى الْأَيْسَرِ وَالْأَيْسَرَ عَلَى الْأَيْمَنِ. ابن ماجه
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnul Azhar dan Al Hasan bin
Abu Rabi', keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Wahb bin
Jarir, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Bapakku (Jarir bin
Hazim bin Zaid), ia berkata: Aku mendengar An Nu'man (bin Rasyid)
menceritakan dari Az Zuhri dari Humaid bin 'Abdurrahman dari Abu
Hurairah, ia berkata: "Pada suatu hari Rasulullah SAW keluar salat
istisqa`, beliau salat dua rakaat bersama kami tanpa azan dan ikamah, kemudian
beliau berkhotbah di hadapan kami dan berdo`a kepada Allah, beliau mengarahkan
wajahnya ke arah kiblat seraya mengangkat kedua tangannya. Setelah itu beliau
membalik selendangnya, menjadikan bagian kanan pada bagian kiri dan bagian kiri
pada bagian kanan." (HR. Ibnu Majah, no. 1258).
Keterangan: Terkait rawi An Nu'man bin
Rasyid, ia adalah seorang tabi'in yang tidak jumpa Sahabat. Komentar ulama
tentangnya diantaranya adalah Yahya bin Ma'in mengatakan dla'if, An
Nasa'i mengatakan dla’if, An Nasa'i mengomentari shaduq terkadang
meriwayatkan hadis gharib, Al 'Uqaili mengatakan laisa bi qowi, Ibnu
Hajar mengomentari shaduq hafalannya buruk, dan Adz Dzahabi mengatakan dla'if.
c.
Salat istisqa lalu berdoa tanpa khotbah
Pendapat
ini menggunakan hadis riwayat berikut.
Hadis Keempat
حَدَّثَنَا النُّفَيْلِيُّ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ نَحْوَهُ قَالَا
حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ إِسْحَقَ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ كِنَانَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي قَالَ: أَرْسَلَنِي الْوَلِيدُ بْنُ
عُتْبَةَ قَالَ عُثْمَانُ ابْنُ عُقْبَةَ وَكَانَ أَمِيرَ الْمَدِينَةِ إِلَى ابْنِ
عَبَّاسٍ أَسْأَلُهُ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِي الِاسْتِسْقَاءِ فَقَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مُتَبَذِّلًا مُتَوَاضِعًا مُتَضَرِّعًا حَتَّى أَتَى الْمُصَلَّى زَادَ عُثْمَانُ
فَرَقَى عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ اتَّفَقَا وَلَمْ يَخْطُبْ خُطَبَكُمْ هَذِهِ وَلَكِنْ
لَمْ يَزَلْ فِي الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّكْبِيرِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدِ. قَالَ أَبُو دَاوُد وَالْإِخْبَارُ لِلنُّفَيْلِيِّ وَالصَّوَابُ
ابْنُ عُقْبَةَ. أبي داود
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami An Nufaili dan Utsman bin Abu
Syaibah semisalnya, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Hatim
bin Ismail, telah berkata kepada kami Hisyam bin Ishak bin Abdullah bin
Kinanah dia berkata: telah mengabarkan kepadau Bapakku (Ishaq bin
Abdullah bin Al Harits bin Kinanah) dia berkata: Al Walid bin Utbah, atau
Utsman bin Uqbah, gubernur Madinah mengutus aku untuk menemui Ibnu Abbas
untuk menanyakan kepadanya tentang salat istisqa yang dilakukan Rasulullah SAW,
maka Ibnu Abbas menjawab bahwa Rasulullah SAW keluar untuk melaksanakan
salat istisqa dalam keadaan lusuh, tawaduk dan khusyuk hingga beliau sampai di
tempat salat. Utsman menambahkan: Kemudian beliau naik mimbar. Dan
keduanya sepakat bahwa, beliau tidak khotbah, akan tetapi beliau berdo'a dan
betul-betul khusyuk dalam berdo'a dan beliau bertakbir kemudian beliau salat
dua rakaat sebagaimana salat Id. Abu Daud berkata ikhbar bagi Nufaili
dan yang benar adalah Ibnu Uqbah. (HR. Abu Dawud, no. 984).
Mengenai
berapa kali khotbah istisqa’ satu atau dua kali, belum ditemukannya dalil
sharih yang menjelaksan berapa jumlahnya. Hanya saja, apabila kita perhatikan
hadis-hadis mengenai khotbah istisqa’ itu tidak ada satupun yang menyebutkan
khotbah istisqa’ dua kali sepertihalnya khotbah Jum’at. Terkait tata cara dan
pembahasan khotbah Jum’at bisa disimak di sini. Melalui hadis-hadis tentang khotbah
istisqa’ itu tidak ada satupun yang menyebutkan khotbah istisqa’ dua kali
berarti khotbah istisqa’ hanya dilaksanakan satu kali seperti khotbah hari
raya. Bahkan bila kita amati hadis Abu Dawud dari ‘Aisyah, tidak ada penyebutan
duduk antara dua khotbah. Oleh karena itu,dapat dipahami bahwa khotbah istisqa’
itu adalah satu kali. Bahkan beberapa fuqaha memahami hadis Abu Dawud
menunjukkan bahwa khutbah istisqa’ adalah satu kali. Adapun penulis dalam hal
ini lebih condong pada apabila pelaksanaan salat istisqa secara berjamaah
maka dilaksanakan khotbah dan berdoa terlebih dahulu dan barulah kemudian diadakan salat istisqa. Hal tersebut didukung pada hadis-hadis yang telah disebutkan.
2.
Berdoa Ketika Khotbah Jum’at di Hari Jum’at
Memohon
hujan apabila dilakukan pada hari Jum'at, maka cukup dengan berdoa ketika
khotbah Jum'at. Hal tersebut sebagaimana hadis berikut.
Hadis Kelima
و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ
وَابْنُ حُجْرٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الْآخَرُونَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ
بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شَرِيكِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَجُلًا
دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ جُمُعَةٍ مِنْ بَابٍ كَانَ نَحْوَ دَارِ الْقَضَاءِ وَرَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُغِثْنَا قَالَ فَرَفَعَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ
أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا قَالَ أَنَسٌ وَلَا وَاللَّهِ
مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَلَا قَزَعَةٍ وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ
مِنْ بَيْتٍ وَلَا دَارٍ قَالَ فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ
فَلَمَّا تَوَسَّطَتْ السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ قَالَ فَلَا وَاللَّهِ
مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سَبْتًا قَالَ ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ فِي
الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ
يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ
وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُمْسِكْهَا عَنَّا قَالَ فَرَفَعَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ حَوْلَنَا
وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ
وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ فَانْقَلَعَتْ وَخَرَجْنَا نَمْشِي فِي الشَّمْسِ.
قَالَ شَرِيكٌ فَسَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَهُوَ الرَّجُلُ الْأَوَّلُ قَالَ لَا
أَدْرِي و حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ
الْأَوْزَاعِيِّ حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أَصَابَتْ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ قَامَ أَعْرَابِيٌّ
فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ وَسَاقَ الْحَدِيثَ
بِمَعْنَاهُ وَفِيهِ قَالَ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا قَالَ فَمَا
يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ إِلَّا تَفَرَّجَتْ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَدِينَةَ
فِي مِثْلِ الْجَوْبَةِ وَسَالَ وَادِي قَنَاةَ شَهْرًا وَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ
نَاحِيَةٍ إِلَّا أَخْبَرَ بِجَوْدٍ و حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ
وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ حَدَّثَنَا
عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَامَ
إِلَيْهِ النَّاسُ فَصَاحُوا وَقَالُوا يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَحَطَ الْمَطَرُ وَاحْمَرَّ
الشَّجَرُ وَهَلَكَتْ الْبَهَائِمُ وَسَاقَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ
الْأَعْلَى فَتَقَشَّعَتْ عَنْ الْمَدِينَةِ فَجَعَلَتْ تُمْطِرُ حَوَالَيْهَا وَمَا
تُمْطِرُ بِالْمَدِينَةِ قَطْرَةً فَنَظَرْتُ إِلَى الْمَدِينَةِ وَإِنَّهَا لَفِي
مِثْلِ الْإِكْلِيلِ و حَدَّثَنَاه أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ
سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ بِنَحْوِهِ وَزَادَ فَأَلَّفَ
اللَّهُ بَيْنَ السَّحَابِ وَمَكَثْنَا حَتَّى رَأَيْتُ الرَّجُلَ الشَّدِيدَ تَهُمُّهُ
نَفْسُهُ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ و حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ
حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ أَنَّ حَفْصَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ
بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُا جَاءَ
أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَاقْتَصَّ الْحَدِيثَ وَزَادَ فَرَأَيْتُ السَّحَابَ يَتَمَزَّقُ
كَأَنَّهُ الْمُلَاءُ حِينَ تُطْوَى. مسلم
Artinya:
Dan telah meceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Yahya bin
Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr. Yahya berkata: telah
mengabarkan kepada kami, sementara yang lain berkata: Telah menceritakan kepada
kami Isma'il bin Ja'far dari Syarik bin Abu Namir dari Anas
bin Malik bahwasanya ada seorang laki-laki masuk ke masjid pada hari Jum'at
dari pintu arah Darul Qadla’, ketika itu Rasulullah SAW sedang berkhotbah. Lalu
ia menghadap Rasulullah SAW sambil berdiri dan berkata, "Ya Rasulullah,
telah binasa hewan-hewan dan terputus perjalanan. Mohonkanlah agar Allah
memberi hujan kepada kami." Anas berkata: Maka Rasulullah SAW
mengangkat kedua tangannya dan berdoa, "Alloohumma aghitsnaa,
Alloohumma aghitsnaa, Aloohumma aghitsnaa (Ya Allah, berilah kami hujan. Ya
Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan).” Anas berkata:
Demi Allah, (sebelumnya) kami tidak melihat sedikitpun awan di langit maupun
gumpalan mendung, tidak ada dari (balik) sebuah rumahpun antara kami dan bukit
Sala’. Anas berkata: Tetapi tiba-tiba kami melihat awan naik dari belakang
bukit seperti perisai, setelah berada di tengah langit, awan itu terus menyebar
dan kemudian hujan pun turun. Anas berkata : Demi Allah, kami tidak
dapat melihat matahari selama enam hari. Kemudian pada hari Jum’at berikutnya
pada waktu Rasulullah SAW sedang berdiri berkhotbah ada seorang laki-laki
datang dari pintu itu juga menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya
Rasulullah, telah binasa harta benda dan telah terputus jalan-jalan, karena itu
berdoalah kepada Allah agar Dia menghentikan hujan.” Anas berkata:
Rasulullah SAW lalu mengangkat kedua tangan beliau, kemudian berdoa, “Alloohumma
Hawaalainaa Walaa 'Alainaa, Alloohumma ‘alaa alaakaami walzharaabii wabuthuuni
al audiyati wa manaabiti asy-syajari (Ya Allah, turunkanlah (hujan ini) di
sekitar kami dan janganlah di atas kami. Ya Allah, turunkanlah di bukit-bukit,
di gunung-gunung, di belukar-belukar, di lembah-lembah dan tempat-tempat
pepohonan.” (Anas berkata): Kemudian hujan pun berhenti, dan kami dapat
keluar berjalan di bawah sinar matahari. Syarik berkata: Aku bertanya
kepada Anas, “Apakah laki-laki itu orang yang dulu juga?” Jawab Anas,
“Aku tidak tahu.” Dan telah meceritakan kepada kami Dawud bin Rusyaidin,
telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Al Auza'i,
telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas
bin Malik ia berkata: Orang-orang tertimpa musim paceklik pada masa
Rasulullah SAW. Maka ketika Rasulullah SAW sedang menyampaikan khotbah kepada
orang banyak di atas mimbar pada hari Jum'at, tiba-tiba berdirilah seorang Arab
pegunungan dan berkata: "Wahai Rasulullah, harta telah binasa dan sanak
keluarga kami pun kelaparan." Ia pun menuturkan hadis yang semakna dengan
hadis di atas. Dan di dalamnya ia menyebutkan do'a: "Alloohumma Hawaalainaa
Walaa 'Alainaa (Ya Allah, hujanilah sekitar kami dan jangan kepada
kami)." Dan tidaklah beliau memberi isyarat dengan tangannya, kecuali
terlihat (gumpalan awan), hingga aku melihat kota Madinah bagaikan lobang. Dan
lembah Qanath mengalirkan airnya selama satu bulan, dan tidaklah seseorang
datang dari seberang, kecuali dengan membawa berita terjadinya hujan yang
lebat. Dan telah menceritakan kepadaku Abdul A'la bin Hammad dan Muhammad
bin Abu Bakar Al Muqaddami keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami
Mu'tamir, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Tsabit
Al Bunani dari Anas bin Malik ia berkata: Nabi SAW menyampaikan khotbah
pada hari Jum'at, kemudian orang-orang datang kepada beliau dengan berteriak
seraya berkata: "Wahai Nabi Allah, hujan tak lagi turun, pepohonan telah
memerah dan hewan ternak pun telah binasa." Ia pun menuturkan hadis. Dan
di dalamnya, dari riwayatnya Abdul A'la tercantum: "Kemudian (awan
itu pun) menyebar dari Madinah, hingga hujan pun turun membasahi sekelilingnya,
sementara di kota Madinah tak turun hujan setetes pun. Sesudah itu, aku melihat
Madinah, ternyata kota Madinah saat itu benar-benar seperti mahkota (lantaran
hujan telah merata membasahinya)." Dan telah menceritakan kepada kami Abu
Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Sulaiman
bin Al Mughirah dari Tsabit dari Anas semisalnya. Dan ia
menambahkan: "Maka Allah menyatukan gumpalan-gumpalan awan itu, lalu kami
tinggal di situ sejenak hingga aku melihat laki-laki itu tak sanggup lagi
menahan keinginannya untuk segera mendatangi keluarganya." Dan telah
menceritakan kepada kami Harun bin Sa'id Al Aili, telah menceritakan
kepada kami Ibnu Wahab, telah menceritakan kepadaku Usamah bahwa Hafsh
bin Ubaidullah bin Anas bin Malik telah menceritakan kepadanya, bahwa ia
mendengar Anas bin Malik berkata: "Ada seorang A'rabi (Arab pegunungan)
datang kepada Rasulullah SAW pada hari Jum'at saat beliau berada di atas mimbar."
Ia pun menuturkan hadis itu, dan ia menambahkan: "Maka aku pun melihat
awan yang saling memisah bagaikan air saat dituangkan." (HR. Muslim,
no. 1493).
Hadis Keenam
حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو
ضَمْرَةَ أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ قَالَ حَدَّثَنَا شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
أَبِي نَمِرٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَذْكُرُ أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ بَابٍ كَانَ وِجَاهَ الْمِنْبَرِ وَرَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
هَلَكَتْ الْمَوَاشِي وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُغِيثُنَا قَالَ
فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ
اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا قَالَ أَنَسُ وَلَا
وَاللَّهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَلَا قَزَعَةً وَلَا شَيْئًا
وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَلَا دَارٍ قَالَ فَطَلَعَتْ مِنْ
وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ فَلَمَّا تَوَسَّطَتْ السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ
ثُمَّ أَمْطَرَتْ قَالَ وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سِتًّا ثُمَّ دَخَلَ
رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ فِي الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا
فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ
فَادْعُ اللَّهَ يُمْسِكْهَا قَالَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا
عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ
وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ قَالَ فَانْقَطَعَتْ وَخَرَجْنَا
نَمْشِي فِي الشَّمْسِ. قَالَ شَرِيكٌ فَسَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَهُوَ
الرَّجُلُ الْأَوَّلُ قَالَ لَا أَدْرِي. البخاري
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad, ia berkata: telah
mengabarkan kepada saya Abu Dlamrah Anas bin 'Iyadl, ia berkata: telah
menceritakan kepada kami Syarik bin 'Abdullah bin Abu Namir bahwa dia
mendengar Anas bin Malik menceritakan, bahwa ada seorang laki-laki masuk
ke dalam Masjid pada hari Jum'at dari pintu yang berhadapan dengan mimbar,
sedangkan saat itu Rasulullah SAW sedang menyampaikan khotbah. Orang itu
kemudian menghadap ke arah Rasulullah SAW seraya berkata: "Wahai
Rasulullah, harta benda telah habis dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah
kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami." Anas berkata: Maka
Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: "Alloohummasqinaa,
Alloohummasqinaa, Alloohummasqinaa (Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah
berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan)." Anas melanjutkan
kisahnya: "Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik
yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu
rumah atau bangunan satupun. Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan
perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar
dan hujan pun turun." Anas melanjutkan: "Demi Allah, sungguh
kami tidak melihat matahari selama enam hari. Kemudian pada Jum'at berikutnya,
orang itu masuk kembali dari pintu yang sama dan Rasulullah SAW sedang berdiri
menyampaikan khotbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau seraya berkata:
"Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan pun terputus.
Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan" Anas berkata:
Rasulullah SAW lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: "Alloohumma
hawalainaa walaa ‘alainaa, Alloohumma ‘alaakaami waljabaali wal aajaami
wazharaabi wal audiyati wamanaabiti asy-syajari (Ya Allah turunkanlah hujan
di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah di atas
bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi,
jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan)." Anas
berkata: Maka hujan berhenti. Lalu kami keluar berjalan-jalan di bawah sinar
matahari. Syarik berkata: "Aku bertanya kepada Anas bin Malik:
Apakah laki-laki itu adalah laki-laki yang pertama? Anas menjawab: Aku
tak tahu. (HR. Bukhari, no. 957).
Melalui
hadis riwayat Muslim nomor 1493 dan hadis riwayat Bukhari nomor 957 dapat
diketahui tata cara pelaksanaan memohon/ meminta hujan ketika hari Jum’at saat
khotbah Jum’at. Adapun pelaksanaannya sebagaimana hadis dengan cara imam/
khatib melafalkan doa berikut ketika khotbah.
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
Transliterasi:
Alloohumma aghitsnaa, Alloohumma aghitsnaa, Aloohumma aghitsnaa
Artinya:
Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah
kami hujan.
Selain
itu juga dapat dilakukan dengan lafal berikut.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ
اسْقِنَا.
Transliterasi:
Alloohummasqinaa, Alloohummasqinaa, Alloohummasqinaa
Artinya: Ya
Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami
hujan.
Adapun
ketika berdoa dengan mengangkat/ menadahkan kedua tangan ke langit. Hal
tersebut sebagaiamana hadis berikut.
Hadis Ketujuh
و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا
حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ.
مسلم
Artinya:
Dan telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid, telah
menceritakan kepada kami Al Hasan bin Musa, telah menceritakan kepada
kami Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bin Malik
bahwasanya Nabi SAW minta hujan seraya menadahkan kedua telapak tangannya ke
langit. (HR. Muslim, no. 1492).
Demikianlah
berbagai dalil ataupun pelajaran yang bisa menjadi acuan kita dalam ibadah
salat istisqa. Dalil yang kita gunakan untuk beribadah adalah dalil dari
Al-Qur’an yang sudah pasti benar dan/ atau hadis shahih atau setidaknya hasan
lidzatihi. Adapun selain dalil yang ada, tidak menutup kemungkinan terdapat
dalil yang shahih maupun sharih lainnya yang bisa kita gunakan
sebagai landasan hukum ibadah. Semoga kita semuanya mampu melaksanakan salat
dengan baik dan istiqamah sebagai upaya kita meraih kesempurnaan amal salih.
Aamiin.