Monday, February 9, 2026

Serial Fikih Jual Beli: Transaksi Kelebihan Air

Manusia dalam hidupnya tidak bisa berdiri sendiri. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk pemenuhan kebutuhan primer perlu campur tangan manusia lain. Pemenuhan kebutuhan primer tersebut melalui transaksi jual beli antara satu manusia dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, kita sebagai orang Islam mesti mengetahui rambu-rambu yang digariskan oleh agama Islam mengenai jual beli. Adapun pada ulasan kali ini membahas tentang transaksi kelebihan air.

 

A. Riwayat Berkaitan Transaksi Kelebihan Air

Terdapat beberapa riwayat yang menerangkan tentang transaksi kelebihan air. Adapun berbagai riwayat terdapat dalam berbagai dalil berikut.

 

Hadis Ke-1

سنن أبي داوود ٣٠١٧: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْعَطَّارُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي الْمِنْهَالِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ عَبْدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ فَضْلِ الْمَاءِ.

Artinya: Sunan Abu Daud nomor 3017: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad An Nufaili, telah menceritakan kepada kami Daud bin Abdurrahman Al 'Aththar dari 'Amru bin Dinar dari Abu Al Minhal dari Iyas bin Abdu bahwa Rasulullah SAW melarang menjual kelebihan air.

 

Hadis Ke-2

سنن ابن ماجه ٢٤٦٨: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ فَضْلِ الْمَاءِ.

Artinya: Sunan Ibnu Majah nomor 2468: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad dan Ibrahim bin Sa'id Al Jauhari, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Waki' berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Abu Az Zubair dari Jabir ia berkata: "Rasulullah SAW melarang menjual kelebihan air."

 

Hadis Ke-3

مسند أحمد ٩٠٨٠: حَدَّثَنَا هَارُونُ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ حَيْوَةَ يَقُولُ حَدَّثَنِي حُمَيْدُ بْنُ هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى غِفَارَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَبِيعُوا فَضْلَ الْمَاءِ وَلَا تَمْنَعُوا الْكَلَأَ فَيَهْزُلَ الْمَالُ وَيَجُوعَ الْعِيَالُ.

Artinya: Musnad Ahmad nomor 9080: Telah menceritakan kepada kami Harun berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb berkata: Aku mendengar Haiwah berkata: telah menceritakan kepadaku Humaid bin Hani` Al Khaulani dari Abu Sa'id maula Bani Ghifar dari Abu Hurairah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian menjual kelebihan air dan jangan mencegah tumbuhnya rerumputan, hingga harta semakin berkurang dan binatang-binatang menjadi lapar."

 

Air sebagai komoditi pemenuh kebutuhan hidup dapat terbagi menjadi beberapa macam. Adapun macam air sebagai komoditi pemenuh kebutuhan hidup adalah sebagai berikut.

 

1. Air Milik Umum

Air yang menjadi milik umum adalah air yang biasa digunakan oleh manusia, hewan, tumbuhan, atau makhluk hidup lainnya untuk bertahan hidup. Air yang menjadi milik umum ini tidak dimiliki oleh seseorang atau segolongan pihak tertentu. Oleh sebab itu, dalam pemanfaatannya tidak perlu memberikan jasa kepada pihak tertentu.

 

Dalil Al-Qur’an Ke-1

﴿ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ﴾ ( البقرة: ٢٩)

Artinya: Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit.12) Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah/2: 29)

Catatan: 12) Langit yang bermakna ruang di luar bumi dengan segala isinya (bulan, planet, komet, bintang, galaksi) yang jumlahnya tidak berhingga (disimbolkan dengan ungkapan tujuh langit) sesungguhnya terus berevolusi. Banyak bintang yang mati, namun banyak juga bintang yang lahir. Adapun yang dimaksud dengan menyempurnakan adalah terus berlangsungnya proses pembentukan bintang-bintang baru sejak pembentukan alam semesta.

 

Dalil Al-Qur’an Ke-2

﴿ هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ ﴾ ( الملك: ١٥)

Artinya: Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. Al-Mulk/67: 15)

 

Hadis Ke-4

سنن ابن ماجه ٢٤٦٣: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ خِرَاشِ بْنِ حَوْشَبٍ الشَّيْبَانِيُّ عَنْ الْعَوَّامِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ. قَالَ أَبُو سَعِيدٍ يَعْنِي الْمَاءَ الْجَارِيَ.

Artinya: Sunan Ibnu Majah nomor 2463: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Khirasy bin Hausyab Asy Syaibani dari Al Awwam bin Hausyab dari Mujahid dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, rumput dan api. Dan harganya adalah haram." Abu Sa'id berkata: "Yang dimaksud adalah air yang mengalir."

Keterangan: Terkait rawi yang bernama Abdullah bin Khirasy bin Hawsyab merupakan tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan. Komentar ulama tentangnya di antaranya Abu Zur'ah mengatakan: dla'iful hadits; Abu Hatim mengatakan: dla'iful hadits; Al Bukhari mengatakan: mungkarul hadits; Ibnu Hibban mengatakan: disebutkan dalam 'ats tsiqaat; As Saji mengatakan: dla'iful hadits; Ad Daruquthni mengatakan: dla'if; An Nasa'i mengatakan: laisa bi tsiqah; Ibnu Hajar Al Atsqalani mengatakan: dla'if; Adz Dzahabi mengatakan: mereka mendaifkannya.

 

2. Air Berada di Tempat Milik Pihak Tertentu

Air yang berada di tempat milik pihak tertentu merupakan air yang ada di tempat seseorang atau sekelompok orang. Air ini sebagaimana air sumur atau air tampungan wadah hujan. Orang yang menampung adalah orang yang lebih berhak memanfaatkan air tersebut.

 

Hadis Ke-5

صحيح البخاري ٢١٨٢: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُمْنَعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُمْنَعَ بِهِ الْكَلَأُ.

Artinya: Shahih Bukhari nomor 2182: Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Jangan menahan kelebihan air, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman."

 

Hadis Ke-6

موطأ مالك ١٢٣٢: و حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُمْنَعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُمْنَعَ بِهِ الْكَلَأُ.

Artinya: Muwatha' Malik nomor 1232: Telah menceritakan kepadaku Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Jangan menahan kelebihan air, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman."

 

3. Air Milik Pihak Tertentu

Air yang menjadi milik pihak tertentu merupakan air yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang karena sengaja dikumpulkan. Hal tersebut diibaratkan sebagaimana dahan kayu yang jatuh dan digunakan sebagai kayu bakar. Sebab sengaja dikumpulkan itulah menjadi kepemilikan seseorang atau sekelompok orang.

 

Hadis Ke-7

صحيح البخاري ١٩٣٢: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ.

Artinya: Shahih Bukhari nomor 1932: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari Abu 'Ubaid sahayanya 'Abdurrahman bin 'Auf bahwa dia mendengar Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya."

 

B. Penjelasan Dalil

Kitab Mukhtasar Nailul Authar jilid 3 halaman 6 menerangkan bahwa: Pensyarah Rahimahullah Ta'ala mengatakan: Kedua hadis ini (hadis ke-1 dan ke-2) menunjukkan haramnya menjual kelebihan air bila kebutuhannya sendiri telah terpenuhi. Konteksnya menunjukkan tidak membedakan antara air yang berada di tanah umum dan yang berada di tanah bertuan, baik itu untuk air minum atau lainnya, baik itu untuk keperluan binatang ternak ataupun tanaman, dan baik itu berada di tanah lapang ataupun lainnya. An-Nawawi menuturkan pendapat dari para sahabat Asy-Syaf'i, "Wajib membebaskan air di tanah lapang dengan syarat: pertama, tidak ada air lainnya; kedua, pembebasan air itu untuk keperluan binatang ternak, bukan untuk menyirami tanaman; ketiga, pemiliknya tidak lagi membutuhkan." Hal ini ditegaskan oleh kedua hadis di atas yang menunjukkan larangan umum menjual air. Lain dari itu ada juga hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al Bukari dan Muslim secara marfuk dengan redaksi: "Kelebihan air tidak boleh ditahan sehingga mengakibatnya tertahannya kelebihan rumput." Juga hadis: "Manusia itu sama-sama (berhak menggunakan) tiga hal: air, rumput dan api." Larangan yang bersifat umum ini dikhususkan, yaitu untuk air yang berada di dalam tempayan (tempat air), air yang demikian ini boleh diperjualbelikan sebagai kiasan bolehnya memperjualbelikan kayu bakar yang telah dipungut oleh pemungut kayu bakar.

 

C. Menyikapi Tentang Transaksi Kelebihan Air

Sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhan. Berbagai kebutuhan barang atau jasa seorang manusia memerlukan uluran tangan manusia lain. Adanya kenyataan tersebut, sebagai umat Islam harus mengetahui garis besar aturan jual beli yang sudah ditentukan Agama Islam. Umat Islam mengetahui aturan jual beli supaya tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang Agama Islam. Allah menciptakan bumi untuk manusia. Sumber daya alam di bumi untuk kesejahteraan makhluk di dalamnya. Secara umum, sumber daya alam dikelola oleh manusia untuk kesejahteraan makhluk di bumi. Adapun pemanfaatannya, manusia memperoleh sumber daya alam secara gratis. Termasuk di dalamnya adalah sumber daya air, awalnya manusia dan bahkan makhluk hidup lainnya secara gratis memperoleh air. Namun dalam aturan Islam, ternyata menahan kelebihan air merupakan larangan. Oleh karenanya, semestinya manusia atau makhluk hidup lain memeroleh air secara gratis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apabila air di suatu tempat milik seseorang atau pihak tertentu, yang dahulu berhak menggunakan adalah pemilik tempat tersebut yang ada airnya. Namun apabila sudah terpenuhi kebutuhannya, pemilik mestinya tidak menjual kelebihan air atau menahan air untuk kebutuhan makhluk lainnya. Larangan secara umum ini dikhususkan sehingga air yang dikumpulkan wadah khusus (seperti botol) sebagaimana kayu bakar dikumpulkan boleh diperjualbelikan. Wallahu a’lam.

 

Semoga pengetahuan mengenai fikih jual beli mampu memberi rambu-rambu kita sebagai umat Islam dalam bertransaksi. Hal ini penting karena sebagai manusia, mereka tidak bisa lepas dari pemenuhan berbagai kebutuhan. Hal tersebut termasuk utamanya kebutuhan primer. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dan dijauhkan dari sesuatu yang terlarang atau haram sehingga apa yang kita konsumsi ataupun yang dipakai semuanya halal. Apa yang kita konsumsi dan apa yang kita pakai mempunyai andil terkabul atau tidaknya doa kita.

 


 

 

Monday, February 2, 2026

Serial Fikih Jual Beli: Transaksi Barang Najis, Alat Maksiat, dan Barang Tak Berguna

Manusia dalam hidupnya tidak bisa berdiri sendiri. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk pemenuhan kebutuhan primer perlu campur tangan manusia lain. Pemenuhan kebutuhan primer tersebut melalui transaksi jual beli antara satu manusia dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, kita sebagai orang Islam mesti mengetahui rambu-rambu yang digariskan oleh agama Islam mengenai jual beli. Adapun pada ulasan kali ini membahas tentang transaksi barang najis, alat maksiat, dan barang tak berguna.

 

A. Riwayat Berkaitan Transaksi Barang Najis, Alat Maksiat, dan Barang Tak Berguna

Terdapat beberapa riwayat yang menerangkan tentang transaksi barang najis (untuk dikonsumsi), alat maksiat, dan barang tak berguna. Adapun berbagai riwayat terdapat dalam berbagai dalil berikut.

 

Hadis Ke-1

صحيح البخاري ٢٠٨٢: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ، سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَامَ الْفَتْحِ وَهُوَ بِمَكَّةَ إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ. قَالَ أَبُو عَاصِمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ كَتَبَ إِلَيَّ عَطَاءٌ سَمِعْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Artinya: Shahih Bukhari nomor 2082: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abi Habib dari 'Atha' bin Abi Rabah dari Jabir bin 'Abdullah RA bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda ketika Hari Penaklukan saat Beliau di Mekah: "Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan khamar, bangkai, babi dan patung-patung." Ada yang bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak dari bangkai (sapi dan kambing) karena bisa dimanfaatkan untuk memoles sarung pedang atau meminyaki kulit-kulit dan sebagai bahan minyak untuk penerangan bagi manusia?" Beliau bersabda: "Tidak, dia tetap haram." Kemudian saat itu juga Rasulullah SAW bersabda: "Semoga Allah melaknat Yahudi, karena ketika Allah mengharamkan lemak hewan (bangkai) mereka mencairkannya (sehingga menjadi minyak) lalu memperjual belikannya dan memakan uang jual belinya." Berkata Abu 'Ashim: telah menceritakan kepada kami 'Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Yazid: 'Atha' menulis surat kepadaku yang katanya dia mendengar Jabir RA dari Nabi SAW.

 

Hadis Ke-2

سنن أبي داوود ٣٠٢٦: حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ أَنَّ بِشْرَ بْنَ الْمُفَضَّلِ وَخَالِدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَاهُمْ الْمَعْنَى عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ بَرَكَةَ قَالَ مُسَدَّدٌ فِي حَدِيثِ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ بَرَكَةَ أَبِي الْوَلِيدِ ثُمَّ اتَّفَقَا عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا عِنْدَ الرُّكْنِ قَالَ فَرَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَضَحِكَ فَقَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ ثَلَاثًا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ الشُّحُومَ فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ وَلَمْ يَقُلْ فِي حَدِيثِ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الطَّحَّانِ رَأَيْتُ وَقَالَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ.

Artinya: Sunan Abu Daud nomor 3026: Telah menceritakan kepada kami Musaddad bahwa Bisyr bin Al Mufadldlal dan Khalid bin Abdullah, telah mengabarkan kepada mereka secara makna, dari Khalid Al Hadzdza` dari Barakah. Musaddad menyebutkan dalam hadis Khalid bin Abdullah: dari Barakah Abu Al Walid, kemudian keduanya sepakat, dari Ibnu Abbas ia berkata: Aku melihat Rasulullah SAW sedang duduk di rukun. Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke langit seraya tertawa. Beliau bersabda: "Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi. Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali, sesungguhnya Allah telah mengharamkan lemak (bangkai) atas mereka, kemudian mereka menjual dan memakan hasil penjualannya. Sesungguhnya apabila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, berarti Allah pun mengharamkan hasil penjualannya." Namun dalam hadis Khalid bin Abdullah Ath Thahhan tidak disebutkan lafal: "Aku melihat." Beliau mengatakan: "Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi."

 

Hadis Ke-3

مسند أحمد ٢٨٠٩: حَدَّثَنَا مَحْبُوبُ بْنُ الْحَسَنِ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ بَرَكَةَ أَبِي الْوَلِيدِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَ عَلَيْهِمْ الشُّحُومُ فَبَاعُوهَا فَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ شَيْئًا حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ.

Artinya: Musnad Ahmad nomor 2809: Telah menceritakan kepada kami Mahbub bin Al Hasan, telah menceritakan kepada kami Khalid dari Barakah Abu Al Khalid dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda: "Allah melaknat kaum Yahudi, ketika diharamkan lemak (bangkai) atas mereka, mereka menyiasatinya dengan menjualnya dan memakan hasil penjualannya. Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu untuk suatu kaum, maka Dia pun mengharamkan hasil penjualannya."

 

Dalil-dalil di atas merupakan alasannya tidak diperbolehkan memperdagangkan lemak dari bangkai yang termasuk najis untuk dikonsumsi. Adapun bila disiasati dengan menjualnya lalu hasil penjualannya dikonsumsi adalah terlarang pula.

 

Hadis Ke-4

صحيح البخاري ٤٩٢٨: حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَوْنُ بْنُ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَآكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَنَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْبَغِيِّ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرِينَ.

Artinya: Shahih Bukhari nomor 4928: Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami 'Aun bin Juhaifah dari Bapaknya, ia berkata: "Nabi SAW telah melaknat Al Wasyimah (perempuan yang mentato) dan Al Mustausyimah (perempuan yang meminta untuk ditato), orang yang memakan riba, dan orang yang memberi dari hasil riba. Dan beliau juga melarang untuk memakan hasil keuntungan dari anjing, dan upah pelacur. Kemudian beliau juga melaknat para tukang gambar (sesembahan)."

 

Hadis Ke-5

صحيح البخاري ٢٠٨٣: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ.

Artinya: Shahih Bukhari nomor 2083: Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Abu Bakar bin 'Abdurrahman dari Abu Mas'ud Al Anshariy RA bahwa Rasulullah SAW melarang uang hasil jual beli anjing, upah pelacur, dan upah bayaran dukun.

 

Hadis Ke-6

سنن أبي داوود ٣٠٢١: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ أَبُو تَوْبَةَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ قَيْسِ بْنِ حَبْتَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَإِنْ جَاءَ يَطْلُبُ ثَمَنَ الْكَلْبِ فَامْلَأْ كَفَّهُ تُرَابًا.

Artinya: Sunan Abu Daud nomor 3021: Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Nafi' Abu Taubah, telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin 'Amru dari Abdul Karim dari Qais bin Habtar dari Abdullah bin Abbas ia berkata: Rasulullah SAW melarang dari hasil penjualan anjing, dan jika penjual tersebut datang meminta uang penjualan anjing maka penuhilah telapak tangannya dengan tanah.

 

Hadis Ke-7

صحيح مسلم ٢٩٣٣: حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ: سَأَلْتُ جَابِرًا عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ قَالَ زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ.

Artinya: Shahih Muslim nomor 2933: Telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib, telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin A'yan, telah menceritakan kepada kami Ma'qil dari Abu Az Zubair dia berkata: Saya bertanya kepada Jabir mengenai uang hasil usaha jual beli anjing dan kucing, dia menjawab, "Nabi SAW melarang perbuatan seperti itu."

 

Hadis Ke-8

سنن أبي داوود ٣٠١٨: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ ح و حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ أَبُو تَوْبَةَ وَعَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عِيسَى وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ أَخْبَرَنَا عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ.

Artinya: Sunan Abu Daud nomor 3018: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Ar Razi. Jalur lain disebutkan, telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Nafi' Abu Taubah dan Ali bin Bahr, mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Isa. Dan berkata Ibrahim: telah mengabarkan kepada kami dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi SAW melarang uang dari hasil penjualan anjing serta kucing.

 

B. Penjelasan Dalil

Kitab Mukhtasar Nailul Authar jilid 3 halaman 3 menerangkan bahwa: Pensyarah Rahimahullah Ta'ala mengatakan: Alasan diharamkannya penjualan babi dan bangkai adalah karena najis, demikian menurut Jumhur ulama, dan hal ini berlaku untuk semua yang najis. Adapun alasan diharamkannya penjualan patung adalah karena tidak adanya manfaat yang dibolehkan. Tapi bila dimanfaatkan setelah dihancurkan, maka dibolehkan menjualnya menurut sebagian ulama, namun sebagian besar melarangnya.

Ucapan para sahabat (Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu tentang lemak bangkai ... dst.), yakni, apakah dengan adanya manfaat-manfaat tersebut, dibolehkan menjualnya, karena hal tersebut seolah-olah membukakan sahnya penjualan. Demikian penjelasan yang dikemukakan di dalam Al Fath. Sabda beliau (Tidak. Itu haram), menurut mayoritas ulama, bahwa kata ganti (yakni kata "itu") maksudnya adalah "penjualan." Hal ini ditegaskan dengan ucapan beliau di akhir hadis ini, "kemudian menjualnya." Hadis Ibnu Abbas menunjukkan tidak berlakunya alasan dan sarana bila menuju kepada yang diharamkan, dan bahwa setiap yang diharamkan Allah atas para hamba, maka diharamkan juga penjualannya karena haramnya harga hasil penjualan itu, maka tidak ada yang keluar dari ketetapan ini kecuali yang dikhususkan oleh suatu dalil.

Ucapan perawi (Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengharamkan harga darah). Ada perbedaan pendapat mengenai maksudnya. Ada yang mengatakan. bahwa maksudnya adalah upah membekam, sehingga hadis ini menjadi dalil bagi yang berpendapat bahwa mengambil upah dari membekam tidak halal. Mengenai hal ini akan dibahas dalam bahasan tentang pengupahan. Ada juga yang mengatakan, bahwa maksudnya adalah harga darah itu sendiri, sehingga menunjukkan haramnya menjual darah, dan ini diharamkan menurut ijmak sebagaimana dikemukakan di dalam Al Fath.

Ucapan perawi (harga anjing) menunjukkan haramnya menjual anjing. Konteksnya menunjukkan tidak membedakan antara anjing yang terlatih dan yang tidak terlatih, baik itu anjing yang boleh dipelihara ataupun yang tidak boleh. Demikian menutur Jumhur. Sementara itu, Abu Hanifah mengatakan, "Boleh." 'Atha' dan An-Nakha'i mengatakan, "Boleh menjual anjing pemburu, tapi tidak boleh anjing lainnya." Hal ini ditunjukkan oleh riwayat yang dikeluarkan oleh An-Nasa'i dari hadis Jabir, ia mengatakan, 'Rasulullah SAW melarang (mengambil) harga anjing, kecuali anjing pemburu."' Disebutkan di dalam Al Fath, bahwa para perawinya tsiqah (sikah/ kredibel), hanya saja ada cacat dalam hal kesahihannya. Dikeluarkan juga riwayat serupa oleh At-Tirmidzi dari hadis Abu Hurairah, namun dari riwayat Abu Al Muhzim, ia seorang yang dinilai dla'if (daif/ lemah). Maka, semestinya mendahulukan yang mutlak daripada yang muqayyad (terikat/ terbatasi), sehingga kesimpulannya bahwa yang diharamkan itu adalah penjualan selain anjing pemburu. Demikian hasil kesimpulan ini bila hadis yang terikat itu bisa dijadikan argumen. Para ulama juga berbeda pendapat, apakah diharuskan membayar ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan anjing? Mereka yang mengharamkan penjualannya menyatakan tidak wajib mengganti, sedangkan yang berpendapat boleh menjualnya menyatakan wajib mengganti. Adapun yang merincikan jenis yang boleh dijual dan yang tidak boleh dijual menyatakan adanya perbedaan hukum dalam hal ini, tergantung status anjing tersebut. Diriwayatkan dari Malik, bahwa anjing tidak boleh dijualbelikan, tapi bila menimbulkan kerusakan maka (pemiliknya) wajib mengganti. Diriwayatkan juga darinya, bahwa penjualan anjing itu hukumnya makruh.

Ucapan perawi (hasil kerja pelacur), dalam riwayat kedua disebutkan dengan redaksi (upah pelacur), maksudnya adalah imbalan yang diterima oleh wanita pezina dari hasil berzina. Penghasilan ini disepakati haramnya.

Ucapan perawi (beliau juga telah melaknat tukang pembuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato). Pembahasan tentang ini insya Allah akan dikemukakan pada bahasan tentang hal-hal yang dimakruhkan dari berhiasnya wanita yang berupa tulisan walimah.

Ucapan perawi (beliau juga melaknat pula para tukang gambar), menunjukkan bahwa menggambar termasuk perbuatan yang dilarang keras.

Ucapan perawi "hulwaan al kaahin" (upah dukun). Disebutkan di dalam Al Fath: Hulwaan asalnya dari kata halaawah, yaitu menyerupai sesuatu yang manis karena diterima dengan cara yang mudah tanpa adanya upaya dan kesulitan yang berarti. Hulwaan berarti juga sogokan, bisa juga berarti sesuatu yang diterima oleh seseorang dari mahar putrinya untuk dirinya sendiri. Adapun kaahin, menurut Al Khithabi adalah orang yang mengakui mengetahui alam gaib dan bisa memberitahu manusia tentang yang akan terjadi. Disebutkan di dalam Al Fath: Upah dukun (para normal) hukumnya haram menurut ijmak (konsesus umat Islam), karena upah ini berarti menerima pengganti untuk sesuatu yang batil. Termasuk dalam kategori ini adalah ramalan, mengundi dengan tongkat (anak panah) dan hal-hal lainnya yang biasa dilakukan oleh “orang-orang pintar” yang menyatakan bisa mengetahui hal-hal yang gaib.

Ucapan perawi (dan kucing), ini menunjukkan haramnya menjual kucing, demikian pendapat Abu Hurairah, Mujahid, Jabir, Ibnu Zaid, dan Thawus, sementara Jumhur membolehkannya. Ada yang berpendapat, bahwa larangan ini mengindikasikan makruh, dan bahwa memperjual belikannya tidak termasuk akhlak terpuji, bahkan yang melakukannya termasuk yang merendahkan martabatnya sendiri.

 

C. Menyikapi Tentang Transaksi Barang Najis, Alat Maksiat, dan Barang Tak Berguna

Sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhan. Berbagai kebutuhan barang atau jasa seorang manusia memerlukan uluran tangan manusia lain. Adanya kenyataan tersebut, sebagai umat Islam harus mengetahui garis besar aturan jual beli yang sudah ditentukan Agama Islam. Umat Islam mengetahui aturan jual beli supaya tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang Agama Islam. Ketika menjual atau membeli barang, hendaknya bukan barang yang najis untuk dikonsumsi. Pengertian najis dan pembagiannya bisa disimak dengan cara klik di sini. Adapun terkait jasa pelacur dan jasa dukun adalah semuanya terlarang. Kita sebagai umat Islam hendaknya tidak memanfaatkan jasa dukun maupun pelacur. Gambar dan patung yang disembah dan dikhawatirkan disembah juga terlarang untuk diperjualbelikan. Demikian pula terlarang mengadakan transaksi jual beli anjing maupun kucing. Wallahu a’lam.

 

Semoga pengetahuan mengenai fikih jual beli mampu memberi rambu-rambu kita sebagai umat Islam dalam bertransaksi. Hal ini penting karena sebagai manusia, mereka tidak bisa lepas dari pemenuhan berbagai kebutuhan. Hal tersebut termasuk utamanya kebutuhan primer. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dan dijauhkan dari sesuatu yang terlarang atau haram sehingga apa yang kita konsumsi ataupun yang dipakai semuanya halal. Apa yang kita konsumsi dan apa yang kita pakai mempunyai andil terkabul atau tidaknya doa kita.