Friday, July 17, 2026

Khotbah Jum’at: Syarat Memperoleh Sakinah

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكرِيْم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ {آل عمران: 102}. وَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ، وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً. وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ. اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا {النساۤء: ١} وَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ. وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. {الاحزاب: ٧٠ – ٧١} وَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَـمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. وَ قَالَ: لَا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِاَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ رَحِمَكُمُ اللهُ،

Syukur alhamdulillah selalu kita haturkan kepada Allah SWT yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji hamba-Nya, siapa amalnya yang terbaik. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa ajaran Agama Islam untuk dipedomani dan diamalkan umatnya. Mengamalkan ajaran-ajaran agama merupakan bagian amanat sila pertama Pancasila, dan Undang Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 2. Selanjutnya dari mimbar ini saya serukan kepada diri saya sendiri dan umumnya kepada jamaah salat Jum’at agar senantiasa menjaga, mempertahankan, dan terus berusaha meningkatkan iman dan takwa. Pada kesempatan kali ini, nasihat ditujukan kepada diri saya sendiri dan apabila ada manfaatnya dihaturkan kepada jamaah semuanya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Kita sebagai orang Islam mesti bersyukur. Allah telah menjadikan agama Islam suatu kemudahan bagi pemeluknya. Oleh karena itu, agama Islam itu mudah. Praktik menjalankan agama Islam oleh pemeluknya itu mau berusaha mengamalkan atau tidak. Meski agama Islam itu mudah tetapi tidak dipraktikkan dalam beramal, berarti Islam tinggal namanya. Padahal Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi. Diriwayatkan Rasulullah bersabda dalam hadis berikut.

عَنْ عَائِذِ بْنِ عَمْرٍو الْمُزَنِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: الْإِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى. سنن الدارقطني ٣٥٧٨

Artinya: dari A'idz bin Amr Al Muzani, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Islam itu tinggi dan tak ada yang lebih tinggi darinya." (HR. Ad-Daruquthni, no. 3578)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Sebagaimana sabda Nabi tersebut, orang yang memberatkan agamanya pasti akan kalah. Menjalankan agama pasti malas karena sudah terbayang capeknya ibadah. Selamanya akan seperti itu, kecuali berazam untuk berubah. Allah sudah memberikan kemudahan dalam agama ini. Allah menghendaki kemudahan bagi kita umat Islam. Oleh karenanya, mengapa justru mempersulit diri? Kalau ada bisikan setan untuk mengajak malas, jangan didengarkan. Sebab kalau seperti itu terus akan kalah. Penting bagi kita supaya dalam menjalankan syariat Islam itu kita mesti tenang/ sakinah. Menjalankan agama Islam tidak boleh dengan ketergesa-gesaan atau merasa terbebani. Supaya ibadah tidak terasa berat, kita perlu menghadirkan ketenangan atau sakinah di dalam hati. Oleh karenanya, kita mesti tahu bagaimana syaratnya supaya mencapai sakinah. Allah SWT berfirman,

﴿ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَـٰنًۭا مَّعَ إِيمَـٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًۭا ﴾ ( الفتح: ٤ )

Terjemahan Kemenag 2019: Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Fath/48: 4)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Tafsir Lengkap Kementerian Agama Republik Indonesia menerangkan bahwa Allah menganugerahkan nikmat-Nya dengan menanamkan ketenangan dalam hati orang-orang yang beriman, terutama dalam hati para sahabat yang ikut bersama Rasulullah SAW dalam Perjanjian Hudaibiyyah. Melalui ketenangan hati itu, para sahabat patuh kepada hukum Allah dan keputusan Rasul-Nya. Dengan ketenangan hati itu juga, Allah menambah iman para sahabat. Beberapan pendapat disampaikan mufasirin dalam Tafsir Kemenag RI. Namun Tafsir Kemenag RI juga menerangkan terkait ayat ini dapat berarti umum dan dapat pula berarti khusus.

Makna arti umum, ayat ini berarti bahwa Allah akan menanamkan ketenangan hati, kesabaran, dan ketabahan bagi setiap orang yang beriman sehingga tidak ada lagi perbedaan pendapat di antara mereka yang dapat menimbulkan perpecahan. Hanya orang-orang yang kurang imannya saja yang mudah berselisih dengan orang yang beriman lainnya. Sedangkan arti khususnya adalah bahwa Allah menimbulkan ketenangan hati pada setiap orang yang bersama Rasulullah SAW dalam menghadapi Perjanjian Hudaibiyyah. Arti khusus inilah yang dimaksud dalam ayat ini karena ini yang sesuai dengan sebab turunnya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Allah menerangkan bahwa Dialah yang mengatur dan menguasai langit dan bumi. Dia mempunyai “tentara langit” dan “tentara bumi”, yang dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Tidak ada satu pun dari tentara-Nya yang mengingkari perintah-Nya. Jika Allah menghendaki, Dia dapat menghancurkan segala sesuatu dengan satu macam tentara-Nya saja termasuk menghancurkan setan. Tetapi Dia tidak berbuat demikian, bahkan Dia memerintahkan kepada kaum Muslimin agar berjihad dan berperang di jalan-Nya. Semuanya itu ditetapkan sesuai dengan hikmah, tujuan, dan kemaslahatan yang diketahui-Nya, sedangkan manusia boleh jadi tidak mengetahuinya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Melalui uraian yang ada, bisa kita mengerti bahwa sakinah/ tenang/ tentram akan turun kepada orang-orang yang benar imannya. Syarat memperoleh sakinah adalah iman. Pembuktian iman harus dengan menjalankan syariat agama Islam. Harapannya dengan keimanan yang benar, kita semuanya memperoleh ketenangan/ sakinah. Oleh karena itu, kita dalam menjalankan syariat Islam itu berlandaskan keimanan dan menghadirkan ketenangan/ sakinah. Semoga nasihat ini bisa menjadi pengingat bagi diri saya dan umumnya bermanfaat bagi jamaah semuanya. Mohon maaf apabila terdapat tutur kata yang kurang berkenan.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَٱلْعَصْرِ. إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

***

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الَّذِى لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ وَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.  اَمَّا بَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ، يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ:

                اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّـيْتَ عَلَى آلِ اِبـْرَاهِيْمَ. وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ اِبـْرَاهِيْمَ، فِى اْلعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

                اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

                رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا، غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

                رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

                رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

                سُبْحَانَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

                وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Penyampai: Revolusi Prajaningrat Saktiyudha, S.Si., M.Pd., S.Pd., Gr.


 

 

Monday, July 13, 2026

Serial Fikih Jual Beli: Ketentuan Menggabungkan Dua Syarat dalam Satu Transaksi

Manusia dalam hidupnya tidak bisa berdiri sendiri. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk pemenuhan kebutuhan primer perlu campur tangan manusia lain. Pemenuhan kebutuhan primer tersebut melalui transaksi jual beli antara satu manusia dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, kita sebagai orang Islam mesti mengetahui rambu-rambu yang digariskan oleh agama Islam mengenai jual beli. Adapun pada ulasan kali ini membahas tentang ketentuan menggabungkan dua syarat dalam satu transaksi.

 

A. Riwayat Berkaitan Ketentuan Menggabungkan Dua Syarat dalam Satu Transaksi

Pembahasan ini menelusuri lebih dalam mengenai dinamika muamalah jual beli, khususnya ketika muncul keinginan untuk menggabungkan lebih dari satu syarat tambahan ke dalam sebuah transaksi. Praktik perdagangan di masyarakat menunjukkan bahwa kesepakatan semacam ini kerap terjadi demi alasan kepraktisan atau untuk mengejar nilai tambah dari sebuah barang dagangan. Memahami batasan hukum Islam terkait penggabungan dua syarat dalam satu akad menjadi sangat penting agar transaksi yang dilakukan tetap sah, berkeadilan, dan terhindar dari unsur ketidakpastian (gharar) yang dapat merugikan salah satu pihak.

 

Kaidah dalam dunia bisnis menunjukkan bahwa negosiasi dan persyaratan tambahan sering kali menjadi kunci tercapainya suatu kesepakatan. Namun tantangan muncul ketika seorang penjual atau pembeli membebankan berbagai syarat sekaligus dalam satu waktu. Hal itu misalnya, penjual bersedia menjual sehelai kain dengan syarat ia juga yang harus menjahitkan sekaligus menyetrikanya. Tanpa pemahaman fikih yang tepat, niat awal untuk memborong layanan demi kemudahan ini justru berisiko merusak esensi akad jual beli, memberatkan salah satu pihak yang bertransaksi, dan menimbulkan sengketa di kemudian hari akibat rancunya tanggung jawab.

 

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan panduan yang sangat bijak dan adil terkait batasan syarat dalam transaksi. Meskipun pada dasarnya Islam sangat menghargai kesepakatan antarmanusia, syariat mengatur dengan tegas agar sebuah syarat tidak digunakan sebagai celah eksploitasi. Melalui pemahaman prinsip fikih mengenai ketentuan penggabungan syarat ini, kita diajarkan untuk membedakan mana kesepakatan yang mendukung kemaslahatan dan mana yang dilarang. Dengan demikian, kita dapat membangun hubungan bisnis yang sehat, melindungi hak masing-masing pihak, dan memastikan setiap transaksi tetap berjalan atas dasar kejujuran dan saling rida.

 

Supaya memahami lebih jauh mengenai aturan emas dalam ketentuan menggabungkan dua syarat pada sebuah akad jual beli, mari kita simak bersama berbagai rujukan dalil dari sumber-sumber tepercaya berikut ini:

 

Hadis Ke-1

سنن الترمذي ١١٥٥: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ حَتَّى ذَكَرَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يُضْمَنُ وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ. قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ قَالَ إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ قُلْتُ لِأَحْمَدَ مَا مَعْنَى نَهَى عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ قَالَ أَنْ يَكُونَ يُقْرِضُهُ قَرْضًا ثُمَّ يُبَايِعُهُ عَلَيْهِ بَيْعًا يَزْدَادُ عَلَيْهِ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ يُسْلِفُ إِلَيْهِ فِي شَيْءٍ فَيَقُولُ إِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ عِنْدَكَ فَهُوَ بَيْعٌ عَلَيْكَ قَالَ إِسْحَقُ يَعْنِي ابْنَ رَاهَوَيْهِ كَمَا قَالَ قُلْتُ لِأَحْمَدَ وَعَنْ بَيْعِ مَا لَمْ تَضْمَنْ قَالَ لَا يَكُونُ عِنْدِي إِلَّا فِي الطَّعَامِ مَا لَمْ تَقْبِضْ قَالَ إِسْحَقُ كَمَا قَالَ فِي كُلِّ مَا يُكَالُ أَوْ يُوزَنُ قَالَ أَحْمَدُ إِذَا قَالَ أَبِيعُكَ هَذَا الثَّوْبَ وَعَلَيَّ خِيَاطَتُهُ وَقَصَارَتُهُ فَهَذَا مِنْ نَحْوِ شَرْطَيْنِ فِي بَيْعٍ وَإِذَا قَالَ أَبِيعُكَهُ وَعَلَيَّ خِيَاطَتُهُ فَلَا بَأْسَ بِهِ أَوْ قَالَ أَبِيعُكَهُ وَعَلَيَّ قَصَارَتُهُ فَلَا بَأْسَ بِهِ إِنَّمَا هُوَ شَرْطٌ وَاحِدٌ قَالَ إِسْحَقُ كَمَا قَالَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ قَدْ رُوِيَ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ رَوَى أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ وَأَبُو بِشْرٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ أَبُو عِيسَى وَرَوَى هَذَا الْحَدِيثَ عَوْفٌ وَهِشَامُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا حَدِيثٌ مُرْسَلٌ إِنَّمَا رَوَاهُ ابْنُ سِيرِينَ عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ هَكَذَا.

Artinya: Sunan At-Tirmidzi nomor 1155: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ayyub, telah menceritakan kepada kami 'Amr bin Syu'aib, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Bapakku, dari Bapaknya, sampai ia menyebutkan Abdullah bin 'Amr, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Tidak dihalalkan menggabungkan pinjaman (utang) dengan jual beli, tidak pula dua syarat dalam satu jual beli, tidak pula keuntungan dari sesuatu yang belum menjadi tanggung jawabmu, dan tidak pula menjual sesuatu yang tidak ada padamu." Abu Isa (At-Tirmidzi) berkata: "Ini adalah hadis hasan shahih." Ishaq bin Manshur berkata: "Aku bertanya kepada Ahmad: 'Apa makna larangan menggabungkan pinjaman dengan jual beli?'" Ia (Ahmad) menjawab: "Yaitu seseorang meminjamkan pinjaman kepadanya (orang lain), kemudian ia melakukan jual beli dengannya yang ia (penjual) mengambil tambahan darinya. Bisa juga kemungkinan bahwa ia (penjual) memberikan pinjaman (modal) kepadanya dalam suatu barang, lalu ia berkata: 'Jika barang itu tidak tersedia bagimu, maka itu menjadi jual beli yang wajib atasmu'." Ishaq (yakni Ibnu Rahawaih) berkata seperti yang ia (Ahmad) katakan. Aku bertanya kepada Ahmad tentang (larangan) menjual sesuatu yang belum menjadi tanggung jawabmu, ia menjawab: "Menurutku, itu tidak terjadi kecuali pada makanan yang belum engkau terima fisiknya." Ishaq berkata sebagaimana yang ia (Ahmad) katakan, "Pada segala sesuatu yang ditakar atau ditimbang." Ahmad berkata: "Jika seseorang berkata: 'Aku jual baju ini kepadamu, dan wajib atasku menjahitnya serta mencucinya,' maka ini termasuk bagian dari dua syarat dalam satu jual beli. Namun jika ia berkata: 'Aku jual baju ini kepadamu, dan wajib atasku menjahitnya,' maka tidak mengapa. Atau jika ia berkata: 'Aku jual baju ini kepadamu, dan wajib atasku mencucinya,' maka tidak mengapa, karena itu hanya satu syarat saja." Ishaq berkata sebagaimana yang ia (Ahmad) katakan. Abu Isa berkata: "Hadis Hakim bin Hizam adalah hadis hasan, telah diriwayatkan darinya dari bukan satu jalur. Ayyub As-Sakhtiyani dan Abu Bisyr meriwayatkannya dari Yusuf bin Mahak dari Hakim bin Hizam." Abu Isa berkata: "Hadis ini juga diriwayatkan oleh 'Auf dan Hisyam bin Hassan dari Ibnu Sirin, dari Hakim bin Hizam, dari Nabi SAW, dan ini adalah hadis mursal. Ibnu Sirin hanyalah meriwayatkannya dari Ayyub As-Sakhtiyani, dari Yusuf bin Mahak, dari Hakim bin Hizam, demikianlah."

 

Hadis Ke-2

سنن النسائي ٤٥٣٢: أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ وَحُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ عَنْ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ.

Artinya: Sunan An-Nasa'i nomor 4532: Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali dan Humaid bin Mas'adah, dari Yazid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari 'Amr bin Syu'aib, dari Bapaknya, dari Kakeknya, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Tidak dihalalkan menggabungkan pinjaman (utang) dengan jual beli, tidak pula dua syarat dalam satu jual beli, dan tidak pula menjual sesuatu yang tidak ada padamu."

 

Hadis Ke-3

سنن ابن ماجه ٢١٧٩: حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ مَرْوَانَ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ قَالَا حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يُضْمَنْ.

Artinya: Sunan Ibnu Majah nomor 2179: Telah menceritakan kepada kami Azhar bin Marwan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid. Dalam jalur lain, dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ulayyah, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari 'Amr bin Syu'aib, dari Bapaknya, dari Kakeknya, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Tidak dihalalkan menjual sesuatu yang tidak ada padamu, dan tidak pula mengambil keuntungan dari sesuatu yang belum menjadi tanggung jawabmu."

 

Hadis Ke-4

مسند أحمد ٦٣٣٩: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ وَعَنْ بَيْعٍ وَسَلَفٍ وَعَنْ رِبْحِ مَا لَمْ يُضْمَنْ وَعَنْ بَيْعِ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ.

Artinya: Musnad Ahmad nomor 6339: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Hanafi, telah menceritakan kepada kami Adh-Dhahhak bin Utsman, dari 'Amr bin Syu'aib, dari Bapaknya, dari Kakeknya, ia berkata: Rasulullah SAW melarang dua transaksi dalam satu akad, melarang jual beli yang digabungkan dengan pinjaman (utang), melarang mengambil keuntungan dari sesuatu yang belum menjadi tanggung jawabmu, dan melarang menjual sesuatu yang tidak ada padamu.

 

B. Penjelasan Dalil

Kitab Mukhtasar Nailul Authar jilid 3 halaman 55 menerangkan bahwa: Pensyarah Rahimahullah Ta'ala mengatakan: Sabda beliau (Tidak dihalalkan menyatukan pinjaman dengan penjualan), Al Baghawi mengatakan, "Yang dimaksud dengan salaf di sini adalah pinjaman." Ahmad mengatakan, "Yang dimaksud adalah meminjamkan suatu pinjaman kemudian menjadikannya sebagai penjualan yang ditambahkan padanya (yakni menambah keuntungan). Ini cara transaksi yang tidak sah, karena ia telah meminjamkannya dengan tujuan untuk menambah harga." Sebagian salaf mengartikan salaf di sini dengan makna salam (pemesanan), misalnya dengan mengatakan, "Aku menjual budakku ini kepadamu seharga seribu dengan syarat engkau meminjamiku seratus untuk anu dan anu." Atau menyerahkan sesuatu kepadanya dengan mengatakan, "Jika yang pesan itu tidak ada padamu, maka itu menjadi penjualanmu." Sabda beliau (dan tidak halal pula menyatukan dua persyaratan dalam satu akad jual beli), Al Baghawi mengatakan, "Yaitu si penjual mengatakan, 'Aku menjual budak ini kepadamu dengan harga seribu secara kontan atau dua ribu dengan penangguhan.' Ini bentuk penjualan yang mengandung dua syarat, masing-masing mempunyai maksud berbeda dengan perbedaan bentuk transaksinya, dan itu sama saja baik dua syarat maupun banyak syarat." Penafsiran ini diriwayatkan juga dari Zaid bin Ali dan Abu Hanifah. Ada juga yang mengatakan, bahwa pengertiannya adalah, si penjual mengatakan kepada si pembeli, "Aku menjual baju ini dengan harga sekian, adapun model dan jahitannya adalah sekian." Transaksi ini tidak sah menurut mayoritas ulama, namun Ahmad mengatakan sah. Al Hafizh mengatakan tentang hadis Barirah, "Hadis ini mengandung pembolehan adanya banyak syarat berdasarkan ucapan beliau 'walaupun dengan seratus syarat'."

 

Hadis Ke-5

صحيح البخاري ٢٥٣٠: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ يَحْيَى عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: أَتَتْهَا بَرِيرَةُ تَسْأَلُهَا فِي كِتَابَتِهَا فَقَالَتْ إِنْ شِئْتِ أَعْطَيْتُ أَهْلَكِ وَيَكُونُ الْوَلَاءُ لِي فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَّرْتُهُ ذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْتَاعِيهَا فَأَعْتِقِيهَا فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَلَيْسَ لَهُ وَإِنْ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ.

Artinya: Shahih Al-Bukhari nomor 2530: Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Yahya, dari 'Amrah, dari 'Aisyah RA, ia berkata: Barirah mendatanginya untuk meminta bantuannya terkait perjanjian tebusan pembebasan dirinya (mukatabah). Lalu ia ('Aisyah) berkata: "Jika engkau mau, aku akan memberikan (uang tebusan) kepada keluargamu (majikanmu), tetapi hak wala' (hak kekerabatan/ waris mantan budak) menjadi milikku." Ketika Rasulullah SAW datang, aku ('Aisyah) menyebutkan hal itu kepada beliau. Nabi SAW bersabda: "Belilah ia, lalu merdekakanlah, karena sesungguhnya hak wala' itu hanyalah milik orang yang memerdekakan." Kemudian Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar lalu bersabda: "Ada apa dengan orang-orang yang membuat syarat-syarat yang tidak terdapat di dalam Kitabullah? Barang siapa yang membuat syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah, maka syarat itu tidak berlaku baginya (batal), walaupun ia membuat seratus syarat."

 

Sedangkan Al Qurthubi mengatakan tentang sabda beliau 'walaupun dengan seratus syarat' bahwa ini tidak menunjukkan jumlah, akan tetapi yang dimaksudnya adalah syarat-syarat batil yang tidak disyariatkan walaupun banyak. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa syarat-syarat yang sejalan dengan syariat adalah sah. Sabda beliau (dan tidak halal pula mengambil keuntungan dari barang yang helum dimiliki), yakni tidak boleh mengambil keuntungan dari barang dagangan yang belum dimilikinya, misalnya seseorang membeli suatu barang lalu menjual kembali kepada orang lain sebelum diterimanya dari si penjual pertama. Jual beli ini tidak sah sehingga keuntungannya tidak halal, karena barang tersebut masih dalam tanggungan si penjual pertama dan tidak berada dalam tanggungan si pembeli pertama karena ia belum menerimanya.

 

C. Menyikapi Tentang Ketentuan Menggabungkan Dua Syarat dalam Satu Transaksi

Sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhan. Berbagai kebutuhan barang atau jasa seorang manusia memerlukan uluran tangan manusia lain. Adanya kenyataan tersebut, sebagai umat Islam harus mengetahui garis besar aturan jual beli yang sudah ditentukan Agama Islam. Umat Islam mengetahui aturan jual beli supaya tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang Agama Islam. Allah menciptakan bumi untuk manusia. Sumber daya alam (SDA) di bumi untuk kesejahteraan makhluk di dalamnya. Pemenuhan kebutuhan hidup manusia dengan jual beli merupakan sesuatu yang halal. Hal tersebut menjadi terlarang apabila dalam jual beli menerjang larangan syariat Agama Islam. Salah satunya yang perlu diperhatikan adalah ketentuan Islam mengenai ketentuan menggabungkan dua syarat dalam satu transaksi.

 

Memahami dan mempraktikkan aturan ini berarti melakukan akad jual beli dengan memisahkan transaksi utama dari persyaratan tambahan yang berpotensi mengubah esensi harga atau membebani salah satu pihak, seperti praktik bai'ataini fi bai'ah (dua transaksi dalam satu akad jual beli). Secara mendasar, hukum asal pemenuhan kebutuhan hidup melalui jual beli adalah halal, namun ia bisa menjadi haram apabila pelaksanaannya menerjang larangan syariat, terutama saat mencampuradukkan salaf (utang piutang) dengan bai' (jual beli) demi meraup keuntungan ganda.

 

Kebenaran dalil-dalil yang melarang praktik tersebut tidak perlu diragukan lagi kedudukannya. Hadis-hadis dari Sunan At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah, hingga Musnad Ahmad memiliki derajat yang kuat, mulai dari hasan hingga shahih. Kebenaran dalil secara valid ini menjadi fondasi hukum yang pasti bagi umat Islam dalam bermuamalah. Kebenaran dalil tersebut juga sangat berhubungan erat dengan penjelasan para ulama terdahulu, di mana larangan mencantumkan "dua syarat" bukan berarti mematikan ruang negosiasi, melainkan mencegah terjadinya gharar (ketidakjelasan yang memicu penipuan) dan eksploitasi pihak yang lemah. Hal ini terbukti dari hubungan penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar terkait hadis Barirah, yang menegaskan bahwa syarat sebanyak apa pun, bahkan hingga seratus syarat, tetap dinilai sah dan halal asalkan mendukung tujuan akad dan tidak bertentangan dengan syariat. Sebaliknya, syarat menjadi batil (rusak dan tidak sah) jika ia mencederai keadilan, seperti menggabungkan pinjaman uang dengan keharusan membeli barang dagangan si pemberi utang dengan harga yang dimanipulasi.

 

Pentingnya pembahasan larangan dua syarat ini era modern adalah menlihat model bisnis dan strategi pemasaran berkembang dengan sangat pesat. Saat ini, masyarakat awam sering kali dihadapkan pada tawaran promosi berbalut kemudahan, padahal di dalamnya memuat jeratan syarat ganda yang merugikan. Praktik komersial modern kerap mengaburkan batas antara transaksi yang sah dengan pemerasan tersembunyi. Oleh karena itu, memahami larangan menggabungkan dua syarat ini menjadi tameng perlindungan dan literasi finansial bagi konsumen muslim dari jebakan riba serta transaksi manipulatif yang marak beredar, baik di pasar tradisional maupun di platform niaga digital (e-commerce).

 

Penerapannya di era sekarang terkait dalil-dalil tersebut berfungsi sebagai parameter kehalalan berbagai instrumen keuangan dan jual beli kontemporer. Sebagai contoh, skema pembayaran tunda (paylater) atau cicilan yang menggabungkan biaya pinjaman berbunga, denda keterlambatan, dan syarat pembelian barang secara paksa sering kali masuk dalam kategori larangan salaf wa bai' (menggabungkan utang dan jual beli). Penerapan dalil ini mengharuskan kita untuk memisahkan setiap jenis transaksi dalam apa yang disebut uqud al-murakkabah (akad multi-kontrak) yang dibenarkan. Akad pinjaman harus murni bertujuan tolong-menolong tanpa embel-embel keuntungan komersial dan terbebas dari riba, sedangkan akad jual beli harus berdiri sendiri dengan kejelasan harga dan spesifikasi barang. Jika ada persyaratan tambahan yang sejalan dengan kelaziman ('urf), seperti layanan garansi atau pemasangan, hal tersebut dibolehkan selama menjadi satu kesatuan layanan yang tidak menciptakan ketidakpastian.

 

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa Islam sejatinya sangat menjunjung tinggi kebebasan berbisnis dan kesepakatan yang dilandasi oleh asas an-taradhin (saling rida dan ikhlas). Larangan menggabungkan dua syarat dalam satu akad, mencampuradukkan utang dengan jual beli, serta mengambil keuntungan dari barang yang belum berada dalam penguasaan (tanggung jawab) diturunkan oleh syariat semata-mata untuk menutup celah kezaliman. Selama syarat yang diajukan membawa kemaslahatan, sejalan dengan syariat, dan tidak menciptakan ketidakpastian hak maupun kewajiban, maka kesepakatan tersebut sah dan membawa keberkahan. Bertransaksi sesuai rambu-rambu fikih bukanlah sebuah pengekangan terhadap kemajuan bisnis, melainkan satu-satunya jalan untuk memastikan setiap rupiah harta yang kita peroleh bernilai halal, berkah, dan menyelamatkan kita di dunia hingga di akhirat kelak.

 

Agama Islam membolehkan jual beli asalkan sesuai rambu-rambu yang diberikan oleh syariat Agama Islam. Oleh karena itu, mari sebisa mungkin mengetahui rambu-rambu jual beli dalam Agama Islam, termasuk ketentuan Islam mengenai ketentuan menggabungkan dua syarat dalam satu transaksi. Wallahu a’lam.

 

Semoga pengetahuan mengenai fikih jual beli mampu memberi rambu-rambu kita sebagai umat Islam dalam bertransaksi. Hal ini penting karena sebagai manusia, kita tidak bisa lepas dari pemenuhan berbagai kebutuhan. Hal tersebut termasuk utamanya kebutuhan primer. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dan dijauhkan dari sesuatu yang terlarang atau haram sehingga apa yang kita konsumsi ataupun yang dipakai semuanya halal. Apa yang kita konsumsi dan apa yang kita pakai mempunyai andil terkabul atau tidaknya doa kita.