Monday, May 25, 2026

Serial Fikih Jual Beli: Lakukan Transaksi Jual Beli di Area Pasar

Manusia dalam hidupnya tidak bisa berdiri sendiri. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk pemenuhan kebutuhan primer perlu campur tangan manusia lain. Pemenuhan kebutuhan primer tersebut melalui transaksi jual beli antara satu manusia dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, kita sebagai orang Islam mesti mengetahui rambu-rambu yang digariskan oleh agama Islam mengenai jual beli. Adapun pada ulasan kali ini membahas tentang melakukan transaksi jual beli di area pasar.

 

A. Riwayat Berkaitan Melakukan Transaksi Jual Beli di Area Pasar

Mari kita mengenali lebih dalam mengenai etika berbelanja agar tercipta suasana pasar yang adil bagi semua orang. Pembahasan ini dibuat mengingat pentingnya menanti pedagang sampai di lokasi jualan resminya demi menghindari praktik Talaqqi Rukban. Adapun Talaqqi Rukban adalah tindakan mencegat pedagang di tengah jalan sebelum mereka sampai di pasar. Meninjau situasi tersebut, kita bisa melihat bahwa membeli barang di jalanan sering kali merugikan pedagang yang belum mengetahui harga pasar terkini serta menutup peluang pembeli lain untuk mendapatkan barang yang sama. Oleh karena itu, kita perlu mempraktikkan kebiasaan bertransaksi di area pasar agar proses tawar-menawar berjalan transparan dan harga tetap stabil bagi seluruh masyarakat. Prinsip keadilan ini selaras dengan tuntunan yang diajarkan sejak lama, sebagaimana kita dapat menyimak pesan dalam rujukan berikut ini:

 

Hadis Ke-1

صحيح البخاري ٢٠١٩: حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ قَالَ حَدَّثَنِي التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَنْ اشْتَرَى مُحَفَّلَةً فَلْيَرُدَّ مَعَهَا صَاعًا قَالَ وَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ تَلَقِّي الْبُيُوعِ.

Artinya: Shahih Bukhari nomor 2019: Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai', ia berkata: telah menceritakan kepadaku At-Taimi, dari Abu 'Utsman, dari Abdullah bin Mas'ud RA, ia berkata: 'Barangsiapa membeli hewan ternak yang sengaja tidak diperah susunya (agar terlihat banyak), maka ia boleh mengembalikannya dengan menyertakan satu sha' (kurma).' Ia (Abdullah) juga berkata: 'Dan Nabi SAW melarang mencegat pedagang sebelum sampai di pasar (untuk membeli barangnya).'

 

Hadis Ke-2

صحيح مسلم ٢٧٩٤: و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُبَارَكٍ عَنْ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ تَلَقِّي الْبُيُوعِ.

Artinya: Shahih Muslim nomor 2794: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Mubarak, dari At-Taimi, dari Abu 'Utsman, dari Abdullah (bin Mas'ud), dari Nabi SAW bahwasanya beliau melarang mencegat pedagang (sebelum sampai ke pasar) untuk membeli barang dagangannya."

 

Hadis Ke-3

سنن الترمذي ١١٤١: حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ تَلَقِّي الْبُيُوعِ. قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ وَابْنِ عُمَرَ وَرَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Artinya: Sunan At-Tirmidzi nomor 1141: Telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Sulaiman At-Taimi, dari Abu 'Utsman, dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi SAW: Bahwasanya beliau melarang mencegat pedagang (sebelum sampai ke pasar) untuk membeli barang dagangannya. (Abu 'Isa At-Tirmidzi) berkata: 'Dalam bab ini, terdapat pula riwayat dari Ali, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa'id, Ibnu Umar, dan seorang laki-laki dari sahabat Nabi SAW'."

 

Hadis Ke-4

سنن الترمذي ١١٤٢: حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الرَّقِّيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَلَقَّى الْجَلَبُ فَإِنْ تَلَقَّاهُ إِنْسَانٌ فَابْتَاعَهُ فَصَاحِبُ السِّلْعَةِ فِيهَا بِالْخِيَارِ إِذَا وَرَدَ السُّوقَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَيُّوبَ وَحَدِيثُ ابْنِ مَسْعُودٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ كَرِهَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ تَلَقِّي الْبُيُوعِ وَهُوَ ضَرْبٌ مِنْ الْخَدِيعَةِ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِنَا.

Artinya: Sunan At-Tirmidzi nomor 1142: Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabib, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja'far Ar-Raqqi, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin 'Amru, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW melarang pencegatan terhadap barang yang didatangkan (sebelum masuk pasar). Jika seseorang mencegatnya lalu membelinya, maka pemilik barang memiliki hak khiyar (pilihan untuk membatalkan atau melanjutkan transaksi) bila ia telah mendatangi pasar. Abu 'Isa berkata: 'Ini adalah hadis hasan gharib dari riwayat Ayyub, sementara hadis Ibnu Mas'ud adalah hadis hasan sahih. Sejumlah ahli ilmu telah membenci praktik mencegat dagangan karena hal itu termasuk salah satu bentuk tipu daya; ini adalah pendapat Syafi'i dan rekan-rekan kami lainnya'.

Keterangan: Hadis ini menunjukkan sahnya jual beli tersebut

 

B. Penjelasan Dalil

Kitab Mukhtasar Nailul Authar jilid 3 halaman 40 menerangkan bahwa: Pensyarah Rahimahullah Ta'ala mengatakan: Ucapan perawi (Nabi SAW melarang mencegat barang dagangan) menuniukkan bahwa mencegat barang dagangan (yang belum sampai di pasar) hukumnya haram. Ada perbedaan pendapat mengenai status larangan ini, apakah menyebabkan transaksinya rusak (batal) atau tidak? Ada yang berpendapat bahwa transaksi itu batal, ada juga yang rnengatakan tidak batal, dan ini yang tampak dari konteks hadis itu, karena larangan di sini merupakan hal lain (di luar lingkup jual beli) sehingga tidak mempengaruhinya, demikian sebagaimana dinyatakan di dalam ushul.

 

Sabda beliau (mempunyai hak pilih), para ulama berbeda pendapat, apakah si pemilik barang mempunyai hak pilih secara mutlak atau dengan syarat bila terjadi penipuan dalam transaksi? Golongan Hanbali berpendapat dengan yang pertama (yakni mutlak, tidak ada batasan), dan ini juga merupakan pendapat yang paling benar dari mazhab Syafi'i. Konteksnya mengindikasikan bahwa larangan itu untuk memelihara manfaat bagi si penjual dan menghilangkan mudarat darinya serta melindunginya dari orang-orang yang hendak menipunya. Ibnu Al-Mundzir mengatakan, “Malik menafsirkannya sebagai tindakan untuk melindungi kemaslahatan orang-orang pasar (yang beraktifitas di pasar).” Pensyarah mengatakan: Tidak ada salahnya bila dikatakan, bahwa alasan pelarangan ini adalah untuk menjaga kemasalahatan si penjual dan para praktisi pasar.

 

C. Menyikapi Tentang Melakukan Transaksi Jual Beli di Area Pasar

Sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhan. Berbagai kebutuhan barang atau jasa seorang manusia memerlukan uluran tangan manusia lain. Adanya kenyataan tersebut, sebagai umat Islam harus mengetahui garis besar aturan jual beli yang sudah ditentukan Agama Islam. Umat Islam mengetahui aturan jual beli supaya tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang Agama Islam. Allah menciptakan bumi untuk manusia. Sumber daya alam (SDA) di bumi untuk kesejahteraan makhluk di dalamnya. Pemenuhan kebutuhan hidup manusia dengan jual beli merupakan sesuatu yang halal. Hal tersebut menjadi terlarang apabila dalam jual beli menerjang larangan syariat Agama Islam. Salah satunya yang perlu diperhatikan adalah perintah untuk memusatkan transaksi di area pasar demi menghindari praktik Talaqqi Rukban. Adapun Talaqqi Rukban yaitu tindakan mencegat pedagang sebelum mereka tiba di pasar. Keempat hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi secara konsisten menunjukkan hubungan (korelasi) yang kuat dalam melarang pencegatan barang dagangan di tengah jalan. Korelasi antar-dalil ini membuktikan adanya upaya sistematis dari syariat untuk menutup celah penipuan, mencegah informasi tidak berimbang (tidak tahu tentang harga), dan memastikan terciptanya ruang tawar-menawar yang transparan bagi seluruh pihak. Selain melindungi pedagang, syariat juga sangat memperhatikan hak-hak konsumen di pasar agar tidak terjadi kelangkaan barang akibat pencegatan di jalan. Hal ini dipertegas dalam riwayat Abdullah bin Umar berikut.

 

Hadis Ke-5

صحيح البخاري ٢٠٢٠: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَبِيعُ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَلَا تَلَقَّوْا السِّلَعَ حَتَّى يُهْبَطَ بِهَا إِلَى السُّوقِ.

Artinya: Shahih Bukhari nomor 2020: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Nafi', dari Abdullah bin Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Janganlah sebagian dari kalian menjual atas jualan sebagian yang lain, dan janganlah kalian mencegat barang-barang dagangan hingga barang-barang itu dibawa masuk ke pasar.'

 

Sebagaimana hadis tersebut, kita semua diminta untuk membeli barang-barang dagangan yang sudah masuk pasar. Asumsinya yaitu barang-barang yang sudah masuk pasar adalah barang yang sudah diketahui harga pasarnya. Berdasarkan penjelasan dalam kitab Mukhtasar Nailul Authar, kita dapat melihat bahwa mayoritas ulama sepakat menghukumi tindakan pencegatan pedagang sebelum sampai pasar sebagai perbuatan yang haram karena mengandung unsur tipu daya (khadi'ah).

 

Menariknya, meskipun cara pencegatan tersebut haram, para fukaha menilai bahwa transaksi yang terlanjur terjadi secara hukum tetap sah. Sebagai kompensasi atas kerentanan tersebut, syariat memberikan hak khiyar (hak pilih) kepada pedagang untuk membatalkan atau melanjutkan transaksi setelah ia tiba di pasar dan mengetahui harga yang sebenarnya. Analisis ini menitikberatkan dua tujuan utama, yaitu: (1) melindungi pedagang kecil dari eksploitasi dan kerugian finansial; serta (2) menjaga kemaslahatan ekosistem pasar supaya harga barang tetap wajar dan tidak dimonopoli oleh segelintir pihak/ tengkulak. Penerapan larangan Talaqqi Rukban di era modern hendaknya kita perlu mengenali pola rantai pasok ekonomi saat ini.

 

Praktik tengkulak yang memotong jalur distribusi dengan membeli hasil panen petani di desa dengan harga sangat murah dengan memanfaatkan ketidaktahuan petani atas harga standar di pasar induk, merupakan bentuk nyata pelanggaran etika ini. Oleh karena itu, masyarakat perlu menerapkan prinsip ini dengan mendukung terciptanya fasilitas pasar yang terpusat dan mudah diakses. Di era digital, kita bisa mengambil semangat hadis ini dengan cara mengedukasi produsen atau petani menggunakan teknologi dan aplikasi informasi harga (seperti e-commerce atau sistem informasi komoditas). Hal ini memfasilitasi pedagang untuk membandingkan nilai jual secara mandiri sebelum menyepakati harga dengan perantara, sehingga transaksi tetap adil dan setara dengan mekanisme pasar yang sesungguhnya. Rangkaian panduan fikih ini menegaskan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi transparansi dan keadilan sosial dalam berekonomi.

 

Melalui komitmen untuk melaksanakan transaksi jual beli secara tertib di area pasar atau platform resmi, kita turut mewujudkan kesejahteraan bersama. Aturan ini secara brilian sukses mensinergikan perlindungan terhadap produsen dari eksploitasi, sekaligus mempertahankan stabilitas pasokan dan harga bagi seluruh konsumen. Mematuhi etika ini berarti kita berkontribusi langsung dalam memutus rantai mafia harga dan memelihara keberkahan dalam berniaga.

 

Agama Islam membolehkan jual beli asalkan sesuai rambu-rambu yang diberikan oleh syariat Agama Islam. Oleh karena itu, mari sebisa mungkin mengetahui rambu-rambu jual beli dalam Agama Islam, termasuk melakukan transaksi jual beli di area pasar. Wallahu a’lam.

 

Semoga pengetahuan mengenai fikih jual beli mampu memberi rambu-rambu kita sebagai umat Islam dalam bertransaksi. Hal ini penting karena sebagai manusia, mereka tidak bisa lepas dari pemenuhan berbagai kebutuhan. Hal tersebut termasuk utamanya kebutuhan primer. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dan dijauhkan dari sesuatu yang terlarang atau haram sehingga apa yang kita konsumsi ataupun yang dipakai semuanya halal. Apa yang kita konsumsi dan apa yang kita pakai mempunyai andil terkabul atau tidaknya doa kita.


 

 

Friday, May 22, 2026

Khotbah Jum’at: Pertolongan Allah itu Dekat

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكرِيْم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ {آل عمران: 102}. وَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ، وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً. وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ. اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا {النساۤء: ١} وَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ. وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. {الاحزاب: ٧٠ – ٧١} وَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَـمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. وَ قَالَ: لَا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِاَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ رَحِمَكُمُ اللهُ،

Syukur alkhamdulillah selalu kita haturkan kepada Allah SWT yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji hamba-Nya, siapa amalnya yang terbaik. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa ajaran Agama Islam untuk dipedomani dan diamalkan umatnya. Mengamalkan ajaran-ajaran agama merupakan bagian amanat sila pertama Pancasila, dan Undang Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 2. Selanjutnya dari mimbar ini saya serukan kepada diri saya sendiri dan umumnya kepada jamaah salat Jum’at agar senantiasa menjaga, mempertahankan, dan terus berusaha meningkatkan iman dan takwa. Pada kesempatan kali ini, nasihat ditujukan kepada diri saya sendiri dan apabila ada manfaatnya dihaturkan kepada jamaah semuanya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Orang iman tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Allah. Orang iman akan senantiasa diuji oleh Allah. Riwayat menerangkan bahwa Nabi Ibrahim AS senantiasa diuji oleh Allah. Nabi Ibrahim iman pada Allah, bukan berarti ujian hilang daripadanya. Nabi Ibrahim pada akhirnya tetap dibakar dengan api yang menyala-nyala. Setelah berkeluarga, Hajar sebagai istrinya pun juga diuji. Ketika persediaan makanan telah habis, Hajar bersama Ismail yang masih bayi, harus lari-lari dari Shafa ke Marwah. Oleh sebab itu, sebagai orang Islam mesti memahami bahwa mesti memegang tiga sikap, antara lain: (1) bila diuji ringan jadikan sebagai ujian syukur; (2) bila diuji berat disikapi sebagai ujian kesabaran; (3) bila diuji belum tahu ringan atau berat disikapi sebagai ujian tawakal. Hal tersebut sebagai para Nabi dahulu juga diuji oleh Allah.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Nabi Ibrahim setelah mempunyai keturunan juga diuji oleh Allah. Hingga pada akhirnya ujian tersebut menjadi latar belakang disyariatkan ibadah nusuk kurban. Salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan menjalankan ibadah nusuk kurban. Kedudukan hukum nusuk kurban adalah sunnah muakaddah (sunah yang dianjurkan). Secara pengertian, kurban adalah pendekatan diri kepada Allah dengan cara menyembelih binatang ternak dan dilaksanakan dengan tuntunan dalam rangka mencari rida Allah SWT.

Ibadah kurban ini tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tersebut terdapat dalam Alquran Surat As Saffat ayat 102 sampai dengan 107. Peristiwa kala itu Nabi Ibrahim mengabarkan tentang mimpinya kepada anaknya, yaitu Ismail. Nabi Ibrahim berkata,

يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ.

Artinya: “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”

Mendengar pertanyaan sang ayah, Ismail pun menjawab,

يَـٰۤأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ، سَتَجِدُنِىۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ.

Artinya: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Hingga tiba waktunya, mereka pun melaksanakan apa yang diperintahkan Allah. Padahal Ismail merupakan anak yang dicintai Nabi Ibrahim, anak yang selama ini menjadi salah satu kesenangan hidup Nabi Ibrahim di dunia, seorang anak yang kehadirannya dinanti untuk melanjutkan risalah dakwahnya. Saat keduanya berserah diri dan siap melaksanakan perintah Allah, lalu Allah pun melarang Nabi Ibrahim menyembelih Ismail. Kemudian untuk meneruskan kurban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya ibadah nusuk kurban yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha/ Haji. Peristiwa tersebut senantiasa menjadi pelajaran bagi umat di akhir zaman untuk senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Semua yang diupayakan seorang hamba adalah semata-mata mengharap rida Allah SWT.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Pelajaran penting bagi kita semuanya adalah, ketika kita semuanya sudah mengaku beriman, Allah tidak akan membiarkan begitu saja. Allah akan terus menguji kita. Oleh sebab itu, keimanan bukan berarti menghilangkan ujian ringan, berat, atau yang belum diketahui. Ujian akan senantiasa dating, tetapi tetap ingat bahwa pertolongan Allah itu dekat. Ketika diuji berat, kita diminta sabar. Bisa jadi perolongan Allah di detik-detik terakhir. Hal tersebut sebagaimana Nabi Ibrahim yang tetap dibakar, tetapi Allah memerintahkan api untuk tidak membakar Nabi Ibrahim. Hajar tetap berusaha mencari jalan-keluar dengan lari-lari dari Shafa ke Marwah hingga Allah berikan air zam-zam. Air yang kemudian menghidupi Hajar dan anaknya di padang tandus. Tak hanya itu kafilah-kafilah pun berdatangan untuk memanfaatkan air tersebut. Air zam-zam sampai sekarang tidak kering. Kita semua mesti yakin bahwa pertolongan Allah dekat.

﴿ اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ ٢١٤ ﴾ ( البقرة/2:214)

Terjemahan Kemenag 2019: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (QS. Al-Baqarah/2:214)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita semua menyikapi ujian dari Allah secara tepat. Kita tidak tahu hikmah dibalik semua itu. Maka jangan sampai kita justru menyalahkan Allah, sambat nggresulo atau menggerutu. Kita Yakini bahwa pertolongan Allah itu dekat. Semoga nasihat ini bisa menjadi pengingat bagi diri saya dan umumnya bermanfaat bagi jamaah semuanya. Mohon maaf apabila terdapat tutur kata yang kurang berkenan.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَٱلْعَصْرِ. إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

***

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الَّذِى لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ وَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.  اَمَّا بَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ، يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ:

                اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّـيْتَ عَلَى آلِ اِبـْرَاهِيْمَ. وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ اِبـْرَاهِيْمَ، فِى اْلعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

                اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

                رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا، غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

                رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

                رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

                سُبْحَانَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

                وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Penyampai: Revolusi Prajaningrat Saktiyudha, S.Si., M.Pd., S.Pd., Gr.