Monday, April 6, 2026

Serial Fikih Jual Beli: Seseorang Menjual Barang Kepada Dua Orang

Manusia dalam hidupnya tidak bisa berdiri sendiri. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk pemenuhan kebutuhan primer perlu campur tangan manusia lain. Pemenuhan kebutuhan primer tersebut melalui transaksi jual beli antara satu manusia dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, kita sebagai orang Islam mesti mengetahui rambu-rambu yang digariskan oleh agama Islam mengenai jual beli. Adapun pada ulasan kali ini membahas tentang seseorang menjual barang kepada dua orang.

 

A. Riwayat Berkaitan Seseorang Menjual Barang Kepada Dua Orang

Terdapat riwayat yang menerangkan tentang seseorang menjual barang kepada orang lain. Adapun berbagai riwayat terkait seseorang menjual barang kepada orang lain terdapat dalam berbagai dalil berikut.

 

Hadis Ke-1

سنن الترمذي ١٠٢٨: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ زَوَّجَهَا وَلِيَّانِ فَهِيَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا وَمَنْ بَاعَ بَيْعًا مِنْ رَجُلَيْنِ فَهُوَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا نَعْلَمُ بَيْنَهُمْ فِي ذَلِكَ اخْتِلَافًا إِذَا زَوَّجَ أَحَدُ الْوَلِيَّيْنِ قَبْلَ الْآخَرِ فَنِكَاحُ الْأَوَّلِ جَائِزٌ وَنِكَاحُ الْآخَرِ مَفْسُوخٌ وَإِذَا زَوَّجَا جَمِيعًا فَنِكَاحُهُمَا جَمِيعًا مَفْسُوخٌ وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ.

Artinya: Sunan At-Tirmidzi nomor 1028: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ghundar, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abi 'Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah bin Jundab, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Wanita mana saja yang dinikahkan oleh dua orang wali, maka dia (menjadi istri sah) bagi yang pertama dari keduanya. Dan barangsiapa yang menjual suatu barang kepada dua orang laki-laki, maka (barang) itu milik yang pertama dari keduanya." Abu 'Isa (At-Tirmidzi) berkata: "Ini adalah hadis hasan. Pengamalan atas hal ini menurut para ahli ilmu (ulama) adalah: kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah tersebut, yaitu: Apabila salah satu dari dua wali menikahkan sebelum yang lainnya, maka pernikahan yang pertama boleh (sah) dan pernikahan yang terakhir dibatalkan (fasakh). Dan apabila keduanya menikahkan secara bersamaan, maka pernikahan keduanya dibatalkan. Ini merupakan pendapat (Sufyan) Ats-Tsauri, Ahmad (bin Hanbal), dan Ishaq (bin Rahawaih)."

 

Hadis Ke-2

مسند أحمد ١٩٢٨٢: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْهَيْثَمِ أَبُو قَطَنٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَنْكَحَ الْوَلِيَّانِ فَهِيَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا وَإِذَا بَاعَ بَيْعًا مِنْ رَجُلَيْنِ فَهُوَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا.

Artinya: Musnad Ahmad nomor 19282: Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin al-Haitsam Abu Qathan, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Qatadah, dari al-Hasan, dari Samurah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Apabila dua orang wali menikahkan (wanita yang sama), maka wanita itu bagi (milik sah) yang pertama dari keduanya. Dan apabila seseorang menjual suatu jualan kepada dua orang laki-laki, maka (barang) itu bagi yang pertama dari keduanya."

 

Hadis Ke-3

سنن ابن ماجه ٢١٨١: حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَوْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ بَاعَ بَيْعًا مِنْ رَجُلَيْنِ فَهُوَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا.

Artinya: Sunan Ibnu Majah nomor 2181: Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas'adah, telah menceritakan kepada kami Khalid bin al-Harits, telah menceritakan kepada kami Sa'id, dari Qatadah, dari al-Hasan, dari 'Uqbah bin 'Amir atau dari Samurah bin Jundab, dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Laki-laki mana saja yang menjual suatu jualan kepada dua orang laki-laki, maka (barang) itu adalah bagi yang pertama dari keduanya."

 

B. Penjelasan Dalil

Kitab Mukhtasar Nailul Authar jilid 3 halaman 23 menerangkan bahwa: Pensyarah Rahimahullah Ta'ala mengatakan: Sabda beliau (maka ia mengikuti wali yang pertama) menunjukkan bahwa bila seorang wanita dinikahkan oleh dua wali kepada dua suami, maka ia mengikuti wali yang lebih dulu menikahkannya. Demikian menurut pendapat Jumhur, dan baik itu ia telah bercampur dengan suami kedua ataupun belum. Namun pendapat ini diselisihi oleh Malik, Thawus dan Az-Zuhri serta riwayat dari Umar, yang mana mereka mengatakan, bahwa wanita itu menjadi istri suami yang kedua bila ia telah bercampur dengannya, karena bercampur itu lebih kuat (untuk mengukuhkan status).

 

Sabda beliau (dan laki-laki mana pun yang menjual suatu barang kepada dua orang, maka barang itu meniadi hak orang yang pertama) menunjukkan, bahwa seseorang yang menjual sesuatu kepada seseorang, kemudian ia menjualnya lagi kepada orang lain, maka penjualan yang kedua ini tidak dihukumi sebagai penjualan, bahkan hukumnya batal, karena dengan begitu berarti si penjual telah menjual sesuatu yang bukan miliknya, karena barang itu telah menjadi milik pembeli pertama. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara terjadi pada masa memilih (memilih untuk jadi membeli atau tidak) atau setelah terjadinya transaksi, sebab saat itu barang tersebut telah keluar dari kepemilikannya karena dijual.

 

C. Menyikapi Tentang Seseorang Menjual Barang Kepada Dua Orang

Sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhan. Berbagai kebutuhan barang atau jasa seorang manusia memerlukan uluran tangan manusia lain. Adanya kenyataan tersebut, sebagai umat Islam harus mengetahui garis besar aturan jual beli yang sudah ditentukan Agama Islam. Umat Islam mengetahui aturan jual beli supaya tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang Agama Islam. Allah menciptakan bumi untuk manusia. Sumber daya alam (SDA) di bumi untuk kesejahteraan makhluk di dalamnya. Pemenuhan kebutuhan hidup manusia dengan jual beli merupakan sesuatu yang halal. Hal tersebut menjadi terlarang apabila dalam jual beli menerjang larangan syariat Agama Islam. Salah satu yang diperhatikan adalah seseorang menjual barang kepada dua orang. Hadis yang ada menunjukkan pembahasan tentang akad pernikahan dan jual beli. Hadis yang sudah disebutkan mengatur situasi di mana seorang wanita memiliki dua wali yang setingkat (misalnya dua saudara laki-laki kandung) atau wali yang berbeda urutan tetapi keduanya melakukan akad nikah untuk wanita tersebut dengan dua pria yang berbeda. Hadis yang telah disebutkan menarik karena menggabungkan hukum keluarga (munakahat) dengan hukum jual beli (muamalah). Rasulullah SAW seakan memberikan kaidah hukum yang konsisten: "Siapa yang lebih dahulu, dia yang berhak (Prior in tempore, potior in jure)." Secara tahapan dalam jual beli terdapat khiar (atau ditulis khiyar) yang merupakan pilihan untuk melanjutkan atau membatalkan akad. Pada tahapan tersebut, ada larangan menawar tawaran orang lain (ba'i 'ala ba'i al-akhi). Terdapat riwayat larangan untuk menawar tawaran orang lain. Hal tersebut sebagaimana hadis berikut.

 

Hadis Ke-4

صحيح مسلم ٤٦٥٠: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ يَعْنِي ابْنَ قَيْسٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ. حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ أُسَامَةَ وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ دَاوُدَ وَزَادَ وَنَقَصَ وَمِمَّا زَادَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ.

Artinya: Shahih Muslim nomor 4650: Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab, telah menceritakan kepada kami Dawud yaitu Ibnu Qais dari Abu Sa'id budak 'Amir bin Kuraiz dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling bersaing yang tidak sehat, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, janganlah seseorang di antara kalian menawar tawaran orang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Orang Islam itu saudaranya orang Islam yang lain. Tidak boleh berlaku dhalim kepadanya, tidak boleh membiarkannya (dengan tidak mau menolongnya), dan tidak boleh menghinakannya. Takwa itu di sini (Beliau sambil mengisyaratkan ke dadanya, tiga kali). Cukuplah seseorang itu berbuat jahat apabila ia merendahkan saudaranya orang Islam. Setiap orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darahnya, harta bendanya dan kehormatannya. Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir Ahmad bin Amru bin Sarh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab dari Usamah yaitu Ibnu Zaid bahwa dia mendengar Abu Sa'id (budak) dari Abdullah bin Amir bin Kuraiz berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW bersabda. Kemudian perawi menyebutkan hadis yang serupa dengan hadis Daud, dengan sedikit penambahan dan pengurangan. Di antara tambahannya adalah: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian. (seraya mengisyaratkan telunjuknya ke dada beliau).

 

Hadis tersebut merupakan landasan hukum larangan menawar tawaran orang lain. Pada tahapan jual beli, larangan dalam Shahih Muslim nomor 4650 ini justru paling berlaku saat para pihak berada dalam masa khiar majelis atau khiar syarat yang mana intervensi pihak ketiga menjadi masa yang terlarang.

 

Khiar majelis adalah hak bagi penjual dan pembeli untuk membatalkan akad selama keduanya masih berada di tempat transaksi (majelis) dan belum berpisah secara fisik. Khiar syarat adalah hak pilih yang ditetapkan oleh salah satu pihak atau keduanya dalam akad untuk menentukan masa tenggang tertentu guna memikirkan apakah akad akan diteruskan atau dibatalkan. Oleh karena itu, perlu diperhatikan apabila A dan B sudah sepakat harga (masih dalam masa pilihan), lalu C datang menawarkan harga lebih kompetitif kepada A supaya A membatalkan kesepakatan dengan B, maka C telah melakukan suatu keharaman. Hikmahnya adalah Islam tidak hanya mengatur hasil akhir (siapa yang sah memiliki barang), tetapi juga mengatur prosesnya (larangan merusak tawaran orang lain). Larangan intervensi ini adalah upaya preventif agar tidak terjadi sengketa seperti yang digambarkan dalam hadis dua wali atau dua pembeli. 

 

Agama Islam membolehkan jual beli asalkan sesuai rambu-rambu yang diberikan oleh syariat Agama Islam. Oleh karena itu, mari sebisa mungkin mengetahui rambu-rambu jual beli dalam Agama Islam, termasuk larangan seseorang menjual barang kepada dua orang sehingga menimbulkan sengketa. Wallahu a’lam.

 

Semoga pengetahuan mengenai fikih jual beli mampu memberi rambu-rambu kita sebagai umat Islam dalam bertransaksi. Hal ini penting karena sebagai manusia, mereka tidak bisa lepas dari pemenuhan berbagai kebutuhan. Hal tersebut termasuk utamanya kebutuhan primer. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dan dijauhkan dari sesuatu yang terlarang atau haram sehingga apa yang kita konsumsi ataupun yang dipakai semuanya halal. Apa yang kita konsumsi dan apa yang kita pakai mempunyai andil terkabul atau tidaknya doa kita.

 


 

 

Friday, April 3, 2026

Khotbah Jum’at: Membangun Keluarga SAMARA (Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah)



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكرِيْم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ {آل عمران: 102}. وَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ، وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً. وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ. اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا {النساۤء: ١} وَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ. وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. {الاحزاب: ٧٠ – ٧١} وَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَـمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. وَ قَالَ: لَا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِاَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ رَحِمَكُمُ اللهُ،

Syukur alkhamdulillah selalu kita haturkan kepada Allah SWT yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji hamba-Nya, siapa amalnya yang terbaik. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa ajaran Agama Islam untuk dipedomani dan diamalkan umatnya. Mengamalkan ajaran-ajaran agama merupakan bagian amanat sila pertama Pancasila, dan Undang Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 2. Selanjutnya dari mimbar ini saya serukan kepada diri saya sendiri dan umumnya kepada jamaah salat Jum’at agar senantiasa menjaga, mempertahankan, dan terus berusaha meningkatkan iman dan takwa. Pada kesempatan kali ini, nasihat ditujukan kepada diri saya sendiri dan apabila ada manfaatnya dihaturkan kepada jamaah semuanya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Alhamdulillah, kita semuanya sudah masuk di bulan Syawal. Oleh karena itu, di bulan Syawal ini menghaturkan taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Bulan Syawal ini, kaum muslimin di Indonesia saling maaf memaafkan, mulai dari lingkup keluarga, sanak saudara, tetangga, dan masyarakat umum. Hal tersebut adalah wujud takwa secara horizontal. Harapannya dengan saling maaf memaafkan, tujuan puasa di bulan Ramadan itu tercapai. Sudah sepatutnya, sebagai kaum muslimin itu merasakan kebaikan antara satu dengan yang lain. Tidak patut sebagai kaum muslimin itu senantiasa mengingat-ingat kesalahan orang lain. Kaum muslimin itu senantiasa mengingat-ingat kebaikan orang lain.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Antara satu muslim dengan muslim lainnya, hendaknya saling memberikan kebaikan. Hal tersebut berlaku di lingkungan masyarakat, pekerjaan atau sekolah, dan bahkan di lingkungan keluarga. Adapun keluarga inti meliputi suami/ bapak, istri/ ibu, dan anak. Sebagai keluarga muslim, akan senantiasa memegang teguh tujuan berkeluarga. Allah SWT berfirman,

﴿ وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ ﴾ ( الرّوم: ٢١ )

Terjemahan Kemenag 2019: Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum/30: 21)

Tafsir Lengkap Kementerian Agama Republik Indonesia menerangkan bahwa dalam ayat tersebut diterangkan tanda-tanda kekuasaan Allah yaitu kehidupan bersama antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah perkawinan. Manusia mengetahui bahwa mereka mempunyai perasaan tertentu terhadap jenis yang lain itu ditimbulkan oleh daya tarik satu sama lain. Puncak dari semuanya itu ialah terjadinya perkawinan antara laki-laki dengan perempuan. Tujuan perkawinan adalah: (1) sakinah; (2) mawadah; dan (3) rahmah (SAMARA).

Sakinah maksudnya bagi laki-laki hanya istrinya perempuan yang paling baik, sedang bagi perempuan hanya suaminya laki-laki yang menarik hatinya. Masing-masing merasa tenteram hatinya dengan adanya pasangan itu.

Khusus mengenai kata-kata mawaddah (rasa kasih) dan rahmah (sayang), Mujahid dan Ikrimah berpendapat bahwa mawaddah sebagai ganti dari kata nikah (bersetubuh) dan rahmah sebagai kata ganti anak. Ada yang berpendapat bahwa mawaddah bagi anak muda, dan rahmah bagi orang tua. Ada pula yang menafsirkan bahwa mawaddah ialah rasa kasih sayang yang makin lama terasa makin kuat antara suami istri.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Allah menetapkan ketentuan-ketentuan hidup suami istri untuk mencapai kebahagiaan hidup, ketenteraman jiwa, dan kerukunan hidup berumah tangga. Apabila hal itu belum tercapai, mereka semestinya mengadakan introspeksi terhadap diri mereka sendiri. Kemudian mereka menetapkan cara yang paling baik untuk berdamai dan memenuhi kekurangan tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tujuan perkawinan yang diharapkan itu tercapai, yaitu ketenangan (sakinah), saling mencintai (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah).

Sakinah, mawaddah, dan rahmah merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau menggunakan pikirannya. Namun, sedikit sekali manusia yang menggunakan pikirannya untuk mengingat kekuasaan Allah.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Kita sebagai orang Islam hendaknya senantiasa berbuat baik. Orang pertama kali merasakan kebaikan kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Seorang suami, paling dekat dengan istri. Seorang istri paling dekat dengan suami. Orang tua paling dekat dengan anaknya, begitu pula sebaliknya.

Semua unsur dalam keluarga senantiasa berbuat baik. Mari kita mulai lembaran baru di bulan Syawal ini dengan berlaku baik kepada pasangan dan anak-anak kita. Selain itu, kita juga berlaku baik terhadap orang lain. Melalui tujuan pernikahan yang tercapai, tidak akan terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Harapannya dengan tujuan perkawinan yang tercapai, keluarga jadi sejahtera secara khusus, dan umumnya negara Indonesia menjadi negeri yang aman, tentram, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, gemah ripah loh jinawi. Semoga nasihat ini bisa menjadi pengingat bagi diri saya dan umumnya bermanfaat bagi jamaah semuanya. Mohon maaf apabila terdapat tutur kata yang kurang berkenan.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَٱلْعَصْرِ. إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

***

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الَّذِى لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ وَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.  اَمَّا بَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ، يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ:

                اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّـيْتَ عَلَى آلِ اِبـْرَاهِيْمَ. وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ اِبـْرَاهِيْمَ، فِى اْلعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

                اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

                رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا، غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

                رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

                رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

                سُبْحَانَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

                وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Penyampai: Revolusi Prajaningrat Saktiyudha, S.Si., M.Pd., S.Pd., Gr.