Monday, March 2, 2026

Serial Fikih Jual Beli: Transaksi Disertai Pengecuali yang Diketahui

Manusia dalam hidupnya tidak bisa berdiri sendiri. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk pemenuhan kebutuhan primer perlu campur tangan manusia lain. Pemenuhan kebutuhan primer tersebut melalui transaksi jual beli antara satu manusia dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, kita sebagai orang Islam mesti mengetahui rambu-rambu yang digariskan oleh agama Islam mengenai jual beli. Adapun pada ulasan kali ini membahas tentang transaksi disertai pengecuali yang diketahui.

 

A. Riwayat Berkaitan Transaksi Disertai Pengecuali yang Diketahui

Terdapat beberapa riwayat yang menerangkan tentang transaksi mengandung transaksi disertai pengecuali (tsunaya) yang diketahui. Tsunaya atau ada yang menulisnya dengan tsunya yaitu transaksi jual beli dengan harga tertentu, sedangkan barang yang jadi objek jual beli adalah sejumlah barang dengan pengecualian yang tidak jelas. Namun lain halnya jika pengecualinya jelas. Adapun berbagai riwayat terdapat dalam berbagai dalil berikut.

 

Hadis Ke-1

سنن الترمذي ١٢١١: حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ الْبَغْدَادِيُّ أَخْبَرَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ قَالَ أَخْبَرَنِي سُفْيَانُ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَالثُّنْيَا إِلَّا أَنْ تُعْلَمَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ.

Artinya: Sunan Tirmidzi nomor 1211: Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub Al Baghdadi, telah mengabarkan kepada kami Abbad bin Al 'Awwam ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Sufyan bin Husain dari Yunus bin Ubaid dari 'Atha` dari Jabir bahwa Rasulullah SAW melarang muhaqalah, muzabanah, mukhabarah dan tsunya kecuali jika diketahui. Abu Isa berkata: Hadis ini hasan sahih garib dari jalur ini dari hadis Yunus bin Ubaid dari 'Atha` dari Jabir.

 

Hadis Ke-2

سنن النسائي ٤٥٥٤: أَخْبَرَنَا زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ حُسَيْنٍ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَعَنْ الثُّنْيَا إِلَّا أَنْ تُعْلَمَ.

Artinya: Sunan Nasa'i nomor 4554: Telah mengabarkan kepada kami Ziyad bin Ayyub, ia berkata: telah menceritakan kepada kami 'Abbad bin Al Awwam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Husain, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Yunus dari 'Atho` dari Jabir bahwa Nabi SAW melarang dari muhaqalah, muzabanah dan mukhabarah serta tsunya (pengecualian) kecuali diketahui.

 

Hadis Ke-3

سنن النسائي ٣٨٢٠: أَخْبَرَنِي زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ حُسَيْنٍ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَعَنْ الثُّنْيَا إِلَّا أَنْ تُعْلَمَ. وَفِي رِوَايَةِ هَمَّامِ بْنِ يَحْيَى كَالدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ عَطَاءً لَمْ يَسْمَعْ مِنْ جَابِرٍ حَدِيثَهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا.

Artinya: Sunan Nasa'i nomor 3820: Telah mengabarkan kepada kami Ziyad bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami 'Abbad bin Al 'Awwam, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Husain, telah menceritakan kepada kami Yunus bin 'Ubaid dari 'Atha` dari Jabir bahwa Nabi SAW melarang dari muhaqalah, muzabanah dan mukhabarah, serta dari tsunya (mengecualikan dalam akad jual beli sesuatu yang tidak jelas) kecuali diberitahukan. Dan dalam riwayat Hammam bin Yahya seperti dalil yang menunjukkan bahwa 'Atha` tidak mendengar hadisnya dari Jabir dari Nabi yaitu: "Barang siapa yang memiliki tanah hendaknya dia menanaminya."

 

B. Penjelasan Dalil

Kitab Mukhtasar Nailul Authar jilid 3 halaman 15 menerangkan bahwa: Pensyarah Rahimahullah Ta'ala mengatakan: Ucapan perawi (tsunya), maksudnya adalah pengecualian dalam penjualan. Misalnya, seseorang menjual sesuatu dengan mengecualikan sebagiannya, bila yang dikecualikannya itu dapat diketahui. Umpamanya, ia mengecuali satu pohon atau satu rumah atau satu lokasi yang diketahui dari area tanah yang dijualnya, maka cara ini sah menurut ijmak. Tapi bila yang dikecualikannya itu tidak diketahui, misalnya ia mengecualikan yang tidak diketahui, maka cara penjualan ini tidak sah. Ada yang mengatakan bolehnya menjual dengan disertai pengecualian yang tidak diketahui bila disertai penetapan waktu tertentu, karena dengan begitu berarti termasuk kategori diketahui. Asy-Syaf’i mengatakan, "Tidak sah jual beli dengan status tidak diketahui saat penjualannya karena mengandung unsur penipuan (kesamaran)." Hikmah dilaranganya cara menjual disertai pengecualian yang tidak diketahui adalah karena cara ini mengandung unsur penipuan (kesaramaran) dan tidak diketahui.

 

C. Menyikapi Tentang Transaksi Disertai Pengecuali yang Diketahui

Sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhan. Berbagai kebutuhan barang atau jasa seorang manusia memerlukan uluran tangan manusia lain. Adanya kenyataan tersebut, sebagai umat Islam harus mengetahui garis besar aturan jual beli yang sudah ditentukan Agama Islam. Umat Islam mengetahui aturan jual beli supaya tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang Agama Islam. Allah menciptakan bumi untuk manusia. Sumber daya alam (SDA) di bumi untuk kesejahteraan makhluk di dalamnya. Oleh karenanya, SDA yang ada digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia yang semestinya dalam koridor ajaran agama Islam tidak menggunakan transaksi mengandung unsur penipuan (gharar). Unsur penipuan di dalamnya termasuk tsunya (transaksi disertai pengecuali). Namun lain halnya jika pengecuali itu jelas mana saja yang dikecualikan. Menurut riwayat yang ada, jual beli seperti ini hukumnya sah. Contohnya seperti seseorang berkata, “Aku jual kambing-kambing di kandang ini kepadamu kecuali kambing yang ini.” Hal tersebut diperbolehkan. Menjadi terlarang apabila pengecualinya tidak jelas. Tidak jelasnya transaksi akan merugikan salah satu pihak, yaitu konsumen. Berikut pesan Nabi kepada seseorang yang tertipu dalam transaksi jual beli.

 

Hadis Ke-4

صحيح البخاري ١٩٧٤: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَجُلًا ذَكَرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُخْدَعُ فِي الْبُيُوعِ فَقَالَ إِذَا بَايَعْتَ فَقُلْ لَا خِلَابَةَ.

Artinya: Shahih Bukhari nomor 1974: Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari 'Abdullah bin Dinar dari 'Abdullah bin 'Umar RA bahwa ada seorang laki-laki menceritakan kepada Nabi SAW bahwa dia tertipu dalam berjual beli. Maka Beliau bersabda: "Jika kamu berjual beli katakanlah 'Maaf, namun jangan ada penipuan.'"

 

Hadis tersebut menunjukkan bahwasannya sebagai orang yang sedang bertransaksi mesti berhati-hati dengan segala unsur penipuan. Hal tersebut dikarenakan unsur penipuan mengakibatkan bahaya atau kerugian (dlarar). Ajaran agama Islam melarang adanya penipuan dan mengakibatkan kerugian atau bahaya terhadap orang lain.

 

Hadis Ke-5

صحيح مسلم ١٤٦: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيُّ ح و حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ مُحَمَّدُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي حَازِمٍ كِلَاهُمَا عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا.

Artinya: Shahih Muslim nomor 146: Telah menceritakan kepada kami Qutabiah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, yaitu Ibnu Abdurrahman Al-Qari. Jalur riwayat lain disebutkan, dan telah menceritakan kepada kami Abu Al-Ahwash Muhammad bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Hazim, keduanya dari Suhail bin Abu Shalih dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa membawa pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami. Dan barangsiapa menipu kami, maka dia bukan golongan kami."

 

Agama Islam melarang praktek jual beli dengan unsur penipuan. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa orang menipu adalah sejatinya bukan golongan orang Islam. Wallahu a’lam.

 

Semoga pengetahuan mengenai fikih jual beli mampu memberi rambu-rambu kita sebagai umat Islam dalam bertransaksi. Hal ini penting karena sebagai manusia, mereka tidak bisa lepas dari pemenuhan berbagai kebutuhan. Hal tersebut termasuk utamanya kebutuhan primer. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dan dijauhkan dari sesuatu yang terlarang atau haram sehingga apa yang kita konsumsi ataupun yang dipakai semuanya halal. Apa yang kita konsumsi dan apa yang kita pakai mempunyai andil terkabul atau tidaknya doa kita.

 


 

 

Tuesday, February 24, 2026

Kultum: Memperbaiki Karakter, Sabar, Jujur, dan Meningkatkan Ketakwaan

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا. أَمَّا بَعْدُ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ رَحِمَكُمُ اللهُ،

Syukur alkhamdulillah tidak henti-hentinya kita haturkan kepada Allah SWT yang memberikan nikmat kepada kita semua untuk beramal salih. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa ajaran Agama Islam untuk diamalkan umatnya. Mengamalkan ajaran-ajaran agama merupakan bagian amanat sila pertama Pancasila, dan Undang Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 2.

Terima kasih saya haturkan kepada takmir Masjid, yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berdiri di mimbar ini. Pada kesempatan, ijinkanlah saya menyampaikan materi yang terkhusus untuk nasihat kepada saya pribadi dan kepada jamaah secara umum.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Alhamdulillah kita semuanya dipertemukan dengan bulan Ramadan 1447H. harapannya di bulan Ramadan ini, kita semuanya mampu memperoleh derajat takwa. Kita semuanya diminta untuk tidak hanya takwa secara vertikal, tetapi juga takwa secara horizontal. Berusaha menjadi orang salih itu baik. Namun menjadi salih belum cukup, mestinya juga muslih. Oleh karena itu, Allah SWT sudah menerangkan bagaimana role model yang mesti kita jadikan kiblat bagaimana mewujudkan takwa secara horizontal. Allah berfirman,

﴿ وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ ٩ ﴾ ( الحشر/59:9)

Artinya: Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr/59:9)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Terdapat unsur utama bagaimana ukhuwah islamiah terwujud, yaitu iman. Sebelum Nabi dan para sahabat hijrah, Nabi mengutus sahabat Mus’ab bin Umair untuk berdakwah di daerah Yatsrib (sekarang dikenal dengan Madinah). Dakwah Mus’ab bin Umair di sana diterima oleh masyarakat sehingga iman muncul dalam dada masyarakat di sana. Hingga pada akhirnya tiba waktunya Nabi dan para sahabat hijrah. Akhirnya Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Tidak kenal dan bahkan tidak ada garis nasab, mereka bersaudara melebihi hubungan nasab. Apa yang diperlukan kaum Muhajirin, kaum Anshar siap membantu. Namun karena punya jiwa perwira, kaum Muhajirin tidak aji mumpung dengan meminta harta sebanyak-banyaknya dari kaum Anshar. Kaum Anshar tetap menawarkan bantuan, meski mereka sangat memerlukannya. Hubungan ini merupakan hubungan istimewa karena didasarkan pada iman. Oleh karenanya, orang yang ada iman di dadanya senantiasa mendoakan saudara seimannya. Allah SWT berfirman,

﴿ وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٠ ﴾ ( الحشر/59:10)

Artinya: Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr/59:10)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Orang iman senantiasa mendoakan saudara seimannya. Hal tersebut karena orang iman menghendaki kebaikan, baik kebaikan untuk saudaranya maupun dirinya sendiri. Doa dalam ayat tersebut mengajarkan kepada kita untuk mendoakan orang iman yang mendahului kita maupun yang sekarang. Mohon doa juga supaya hati dijauhkan dari kedengkian. Hal itu karena kedengkian adalah bisa menghapus amal salih yang sudah dikerjakan. Dengki itu juga identic dengan kesombongan, yaitu merendahkan orang lain. Manusia tidak boleh sombong karena yang boleh sombong hanya Sang Khalik. Oleh karenanya, jauhi sifat dengki. Didik diri kita supaya jauh dari sifat dengki.

Harapannya dengan dasar iman, kita semuanya mampu menjadi manusia yang mengamalkan apa yang dicontohkan oleh Allah dalam kisah Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar. Hal tersebut adalah role model untuk menididik karakter, sabar dalam menghadapi cobaan, jujur dalam bertindak, sehingga kualitas takwa kian meningkat.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Semoga bisa menjadi pengingat bagi diri saya dan bermanfaat bagi jamaah secara umum. Mohon maaf apabila terdapat tutur kata yang kurang berkenan. Mari kita tutup dengan hamdalah dan doa penutup majelis.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Penyampai: Revolusi Prajaningrat Saktiyudha, S.Si.., M.Pd., S.Pd. Gr.