Islam merupakan agama yang mengajarkan
untuk peduli sesama sebagai bentuk ibadah. Adapun ibadah sebagai bentuk
kepedulian yang dimaksud itu beragam. Hal tersebut di antaranya adalah zakat.
Adapun zakat banyak macamnya. Di antara macam zakat yang ada yaitu zakat hasil
bumi. Supaya ada gambaran mengenai zakat hasil bumi, maka akan mengulas di antaranya:
(a) pengertian zakat hasil bumi; (b) hukum zakat hasil bumi; (c) nisab dan haul
zakat hasil bumi; (d) jumlah zakat yang ditunaikan; (e) orang yang mengeluarkan
zakat; (f) orang yang berhak menerima zakat; (g) ucapan orang yang menerima zakat;
(h) keutamaan menunaikan zakat; dan (i) ancaman bila zakat tidak dikeluarkan.
A.
Pengertian Zakat Hasil Bumi
Hasil bumi adalah segala
sesuatu yang dihasilkan dari bumi dan memiliki nilai guna dan manfaat. Hasil
bumi yang dikeluarkan zakatnya yaitu yang dapat dijadikan makanan pokok seperti
halnya padi, jagung, gandum, dan sebagainya. Sedangkan buah-buahan hendaknya
dikeluarkan pula zakatnya. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 52
Tahun 2014 Tentang Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah
Serta Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha Produktif menyebutkan bahwa zakat
pertanian, perkebunan dan kehutanan adalah zakat yang dikenakan atas hasil
pertanian, perkebunan dan hasil hutan pada saat panen. Pada buku yang berjudul
Petunjuk Pelaksanaan Pengumpulan Zakat terbitan Kementerian Agama Republik
Indonesia tahun 2011 menyebutkan bahwa hasil pertanian adalah hasil
tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian,
sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, dedaunan, dll.
Zakat hasil bumi adalah zakat
diwajibkan atas semua hasil tanaman dan buah-buahan yang ditanam dengan tujuan
untuk pengembangan dan inventasi. Tetapi tidak diwajibkan atas tanaman liar
yang tumbuh dengan sendirinya, seperti rumput, pohon kayu bakar, bambu, dan
lain-lain kecuali jika diperdagangkan, dalam hal ini harus dizakati seperti
zakat komoditas dagang. Zakat hasil bumi atau zakat pertanian biasa disebut
dengan istilah wasaq. Istilah tersebut mengacu pada ukuran atau timbangan
tertentu yang digunakan untuk mengukur jumlah hasil pertanian yang dikenai
kewajiban zakat.
B. Hukum
Zakat Hasil Bumi
Zakat hasil bumi hukumnya
adalah wajib sebagaimana zakat yang lain. Hal tersebut sebagaimana firman Allah
berikut.
Dalil
Al-Qur’an Ke-1
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا
مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ
اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ
وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ
اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ
حَمِيْدٌ. البقرة: 267.
Artinya: Wahai orang-orang yang
beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian
dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang
buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu tidak mau mengambilnya, kecuali dengan
memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi
Maha Terpuji. (QS. Al Baqarah: 267).
C. Nisab
dan Haul Zakat Hasil Bumi
Terdapat waktu kapan umat Islam
mengeluaran zakat. Haul dalam KBBI maksudanya adalah jangka waktu satu
tahun yang menjadi batas kewajiban membayar zakat bagi pemilikan harta
kekayaan, seperti perniagaan, emas, ternak. Secara umum dapat dikatakan bahwa
haul adalah batasan waktu satu tahun hijriah (12 bulan kamariah) kepemilikan
harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Waktu kapan umat Islam mengeluaran zakat
adalah ketika tiba haul. Adapun haul sebagaimana yang sudah disebutkan adalah
batasan waktu satu tahun hijriah (12 bulan kamariah). Nisab dalam KBBI
maksudanya jumlah harta benda minimum yang dikenakan zakat. Sehingga dapat
dikatakan bahwa nisab adalah batasan minimum harta yang wajib dikeluarkan
zakatnya. Adapun keterangan nisab dan haul zakat hasil bumi adalah sebagai
berikut.
Dalil
Al-Qur’an Ke-2
۞ وَهُوَ الَّذِيْٓ
اَنْشَاَ جَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَ مَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا
اُكُلُهٗ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ
مُتَشَابِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ
كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖٓ اِذَآ
اَثْمَرَ وَاٰتُوْا حَقَّهٗ
يَوْمَ حَصَادِهٖۖ وَلَا تُسْرِفُوْا
ۗاِنَّهٗ
لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ . الأنعام:
141.
Artinya: Dialah yang menumbuhkan
tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman
yang beraneka ragam rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan
warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan
berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya. Akan tetapi,
janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan. (QS. Al An’am: 141).
Zakat hasil bumi tidak disyaratkan
haul,
tetapi diwajibkan setiap panen. Oleh karena itu, seandainya tanah pertanian
dapat menghasilkan panen lebih dari sekali dalam setahun, maka wajib
dikeluarkan zakatnya setiap panen. Hal tersebut karena haul disyaratkan untuk
menjamin pertumbuhan harta, dalam hal ini pertumbuhan telah terjadi sekaligus. Nisab
hasil pertanian adalah 5 wasaq atau setara dengan 750 kg atau 300 sho’ atau 900
liter. Apabila hasil pertanian termasuk makanan pokok, seperti
beras, jagung, gandum, kurma, dll, maka nisabnya adalah 750 kg dari hasil
pertanian tersebut. Tetapi jika hasil pertanian itu selain makanan pokok, seperti
buah-buahan, sayur-sayuran, daun, bunga, dll, maka nisabnya disetarakan dengan
harga nisab dari makanan pokok yang paling umum di daerah (negeri) tersebut (di
negeri kita = beras). Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 52 Tahun
2014 Tentang Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah Serta
Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha Produktif pada pasal 14 ayat 1 menyebutkan
bahwa nisab
zakat pertanian, perkebunan, dan kehutanan senilai 653 kg gabah. Sebuah hadis menerangkan sebagai
berikut.
Hadis Ke-1
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا
مَالِكٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ الْمَازِنِيِّ
عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ
مِنْ التَّمْرِ صَدَقَةٌ وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنْ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ
وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ ذَوْدٍ مِنْ الْإِبِلِ صَدَقَةٌ. البخاري
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik
dari Muhammad bin 'Abdurrahman dari Abu Sha'sha'ah Al Maziniy
dari Bapaknya dari Abu Sa'id Al Khudriy bahwasannya Rasulullah
SAW bersabda: “Tidak ada kewajiban zakat pada kurma yang kurang dari lima wasaq
(1 wasaq = 60 sho’), tidak ada kewajiban zakat pada perak yang kurang dari lima
uqiyah ( 1 uqiyah = 40 dirham) dan tidak ada kewajiban zakat pada unta yang
kurang dari lima ekor.” (HR. Bukhari, no. 1366).
Keterangan: 1
Wasaq = 60 sho’, 1 sho’ = 3 liter, 5 wasaq = 300 sho’ = 900 liter. Sementara1
uqiyah = 40 dirham, 5 uqiyah = 200 dirham.
Bagi petani kecil, tentunya zakat
hasil bumi tidak mencapai nisab. Sebagaimana yang sudah kita tahu, zakat itu
menurut hukum Islam wajib. Tentang nisab dan haul ada perbedaan pemahaman. Ada
yang menggunakan nisab dan haul, ada yang tanpa nisab dan haul. Melalui
pemaparan yang ada, penulis lebih condong pada zakat itu tanpa menunggu sampai
nisab maupun tiba haul. Seandainya zakat dibayarkan sebelum mencapai nisab dan
haul, itu tidak menyalahi Undang Undang Nomor 23 Tentang Pengelolaan Zakat
maupun Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2014 Tentang
Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah Serta
Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha Produktif. Hal tersebut mengingat zakat yang
mencapai nisab dan tiba haul hampir tidak mungkin dilakukan di jaman sekarang.
Berbeda dengan jaman Rasulullah dan sahabat, umat di jaman ini rentan untuk
mengakali haul dan nisab. Apabila haul dan nisab diakali, maka tidak akan
tertunaikan zakat seorang muslim. Dampaknya adalah orang-orang yang termasuk
penerima zakat tidak akan pernah lagi menerima zakat. Oleh sebab itu, penulis
dalam berzakat berpegang kepada jiwa zakat. Berapapun rezeki yang Allah
titipkan hendaknya dizakati. Kapan rezeki datang, saat itulah langsung bisa
dizakati. Hal tersebut sebagaimana riwayat hadis
berikut.
Hadis Ke-2
حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ،
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فِي الرَّجُلِ يَسْتَفِيدُ مَالًا قَالَ: يُزَكِّيهِ حِينَ يَسْتَفِيدُهُ.
ابن أبي شيبة
Artinya: Telah menceritakan kepada
kami Abu Usamah, dari Hisyam, dari 'Ikrimah, dari Ibnu
'Abbas tentang seseorang yang memperoleh harta, (lalu) Ibnu 'Abbas
berkata: ‘(Hendaknya) ia menzakatinya pada saat memperolehnya.’ (HR. Ibnu
Abi Syaibah, no. 10010).
D. Jumlah
Zakat yang Ditunaikan
Peraturan Menteri Agama
Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2014 Tentang Syarat dan Tata Cara
Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah Serta Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha
Produktif pada pasal 14 ayat 2 menyebutkan bahwa kadar zakat pertanian,
perkebunan, dan kehutanan sebesar 10% jika tadah hujan atau 5% jika menggunakan
irigasi dan perawatan lainnya. Buku yang berjudul Petunjuk Pelaksanaan
Pengumpulan Zakat terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2011
menyebutkan bahwa kadar zakat untuk hasil pertanian, apabila diairi dengan air
hujan, atau sungai/mata/air, maka 10%, apabila diairi dengan cara disiram/
irigasi (ada biaya tambahan) maka zakatnya 5%. Melalui ketentuan ini dapat
dipahami bahwa pada tanaman yang disirami zakatnya 5% yang artinya 5% yang lainnya
didistribusikan untuk biaya pengairan.
Hadis
Ke-3
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ الزُّهْرِيِّ
عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ
كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ. قَالَ أَبُو
عَبْد اللَّهِ هَذَا تَفْسِيرُ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ لَمْ يُوَقِّتْ فِي الْأَوَّلِ
يَعْنِي حَدِيثَ ابْنِ عُمَرَ وَفِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ الْعُشْرُ وَبَيَّنَ فِي
هَذَا وَوَقَّتَ وَالزِّيَادَةُ مَقْبُولَةٌ وَالْمُفَسَّرُ يَقْضِي عَلَى الْمُبْهَمِ
إِذَا رَوَاهُ أَهْلُ الثَّبَتِ كَمَا رَوَى الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ. أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُصَلِّ فِي الْكَعْبَةِ. وَقَالَ بِلَالٌ
قَدْ صَلَّى فَأُخِذَ بِقَوْلِ بِلَالٍ وَتُرِكَ قَوْلُ الْفَضْلِ. البخاري
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Sa'id bin Abu Maram, telah menceritakan kepada kami 'Abdullah
bin Wahb, ia berkata: telah mengabarkan kepada saya Yunus bin Zaid
dari Az Zuhriy dari Salim bin 'Abdullah dari Bapaknya (‘Abdullah
bin ‘Umar bin Khaththab) RA dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Pada (tanaman)
yang mendapat air dari langit, atau mata air, atau ‘atsariy (tanaman yang
mengambil air dengan akarnya lantaran dekat dengan tempat air), maka zakatnya
adalah sepersepuluh (10%), dan tanaman yang disiram (diairi) dengan tenaga
manusia, maka zakatnya separuhnya sepersepuluh (5%).” Abu Abdullah Al Bukhari
berkata: "Ini adalah tafsiran pertama karena beliau tidak menentukannya
saat waktu pertama kali, yakni hadis Ibnu Umar: "Pada setiap
tanaman yang diairi dengan hujan adalah sepersepuluh." Lalu beliau
menjelaskan hal ini: "Dan menentukan waktu dan tambahan ini bisa diterima,
dan penafsiran adalah suatu tuntutan atas suatu hal yang belum jelas, jika
diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya. Seperti Al Fadlal bin 'Abbas
pernah meriwayatkan bahwa Nabi SAW tidak salat di dalam Kakbah tetapi Bilal
berkata bahwa beliau salat di sana. Maka perkataan Bilal diambil, sedangkan
perkataan Al Fadll ditinggal. (HR. Bukhari, no. 1388).
Hadis
Ke-4
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ وَهَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ
وَعَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ وَالْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ كُلُّهُمْ عَنْ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ
أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ
أَنَّ أَبَا الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَذْكُرُ.
أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيمَا سَقَتْ
الْأَنْهَارُ وَالْغَيْمُ الْعُشُورُ وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّانِيَةِ نِصْفُ الْعُشْرِ.
مسلم
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Abu Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh dan
Harun bin Sa'id Al Aili dan Amru bin Sawwad dan Al Walid bin
Syuja' semuanya dari Ibnu Wahb, Abu Thahir berkata telah
mengabarkan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Amru bin Harits
bahwa Abu Zubair telah menceritakan kepadanya, bahwa saya mendengar Jabir
bin Abdullah bahwasanya ia mendengar Nabi SAW bersabda: “Pada tanaman yang
diairi oleh sungai dan hujan, zakatnya adalah sepersepuluh (10%), sedangkah tanaman
yang diairi oleh unta (diari dengan air sumur yang diangkut dengan unta),
zakatnya adalah seperduapuluh (5%).” (HR. Muslim, no. 1630).
E.
Orang yang Mengeluarkan Zakat Hasil Bumi
Orang yang temasuk wajib mengeluarkan
zakat adalah orang beriman yang mampu. Kadar untuk mengukur mana yang mampu dan
belum mampu adalah dengan melihat kriteria seorang muslim. Kriteria yang
dimaksud adalah bukan termasuk orang-orang yang menerima zakat. Orang beriman
di luar orang orang yang berhak menerima zakat adalah wajib untuk mengeluarkan
zakatnya. Dalil bahwa orang beriman yang mampu untuk diwajibkan membayar zakat
adalah sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 267.
Dalil
Al-Qur’an Ke-3
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا
مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ
اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ
وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ
اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا
فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا
اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ. البقرة: 267
Artinya: Wahai orang-orang
yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan
sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih
yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu tidak mau mengambilnya, kecuali
dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya
lagi Maha Terpuji. (QS. Al Baqarah: 267).
F.
Orang yang Menerima Zakat
Sasaran atau orang yang berhak
menerima zakat diatur dalam firman Allah. Hal tersebut tertuang pada surat At
Taubah ayat 60.
Dalil
Al-Qur’an Ke-4
اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَآءِ
وَالْمَسٰكِيْنِ وَاْلعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى
الرِّقَابِ وَاْلغَارِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ، فَرِيْضَةً
مِّنَ اللهِ، وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ. التوبة:60
Artinya: Sesungguhnya zakat
itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang
dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk
(membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang
sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui,
Maha Bijaksana. (QS. At Taubah: 60).
Melalui Surat At Taubah ayat 60
dapat diketahui siapa saja yang berhak menerima zakat fitrah. Adapun yang
berhak menerima zakat sebagaimana Surat At Taubah ayat 60 meliputi: (1)
orang-orang fakir; (2) orang-orang miskin; (3) amil zakat; (4) mualaf; (5)
hamba sahaya; (6) orang terlilit hutang; (7) hal-hal terkait untuk jalan Allah;
dan (8) musafir. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai siapa saja yang berhak
menerima zakat dapat disimak dengan cara klik di sini.
G.
Ucapan Orang yang Menerima Zakat
Ketika kita diamanahi sebagai panitia
zakat atau pengurus zakat, hendaknya ketika kita menerima zakat yang
dikeluarkan oleh muzaki dengan mengucapkan sebagaimana yang dituntunkan
Rasulullah. Ucapan yang dimaksud sebagaimana hadis berikut.
Hadis
Ke-5
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي
أَوْفَى، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَةٍ قَالَ اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَيْهِمْ فَأَتَاهُ أَبِي بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
آلِ أَبِي أَوْفَى. البخارى
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Adam bin Abu Iyas, telah menceritakan kepada kami Syu'bah
dari 'Amru bin Murrah ia berkata; aku mendengar Abdullah bin Abu Aufa,
(dia adalah sahabat yang ikut berbai'at di bawah pohon) katanya; "Adalah
Rasulullah SAW, apabila ada suatu kaum datang kepada beliau untuk menyerahkan
zakat, beliau mengucapkan Alloohumma Shalli 'alaihim (Ya Allah berilah
selawat kepada mereka). Kemudian bapakku Abu Aufa datang kepada beliau untuk
menyerahkan zakatnya, lalu Nabi SAW mengucapkan Alloohumma Shalli 'alaa aali
Abi Aufa (Ya Allah berilah selawat kepada keluarganya Abu Aufa)".
(HR. Bukhari, no. 3848).
Melalui hadis tadi, ketika kita
diamanahi sebagai panitia zakat fitrah atau semacamnya, hendaknya ketika kita
menerima zakat yang dikeluarkan oleh muzaki dengan mengucapkan sebagaimana yang
dicontohkan Rasulullah. Adapun lafal ucapan yang dimaksud adalah Alloohumma
Shalli 'alaihim (Ya Allah berilah selawat kepada mereka) atau dengan
menyebut nama sehingga lafalnya adalah Alloohumma Shalli 'alaa aali (Fulan)
(Ya Allah berilah selawat kepada keluarganya (fulan)).
H.
Keutamaan Menunaikan Zakat
Zakat memiliki keutamaan yang
besar. Keutamaan menunaikan zakat adalah mampu menyucikan dan membersihkan diri
seorang muslim. Zakat mampu membersihkan diri seorang muslim dari kekikiran dan
cinta yang berlebihan terhadap harta. Hal tersebut sebagaimana dalil berikut.
Dalil
Al-Qur’an Ke-5
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ
وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ
اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ
وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ. التوبة: 103
Artinya: Ambillah zakat dari
harta mereka (guna) menyucikan332) dan membersihkan mereka, dan
doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka.
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At Taubah: 103).
Catatan: 332)
Zakat membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebihan terhadap
harta.
I.
Ancaman Bila Zakat Tidak Dikeluarkan
Terdapat ancaman bagi orang
beriman yang mampu dan tidak mau mengeluarkan zakat. Sebab orang beriman yang
menumpuk kekayaan tanpa dizakati diancam dengan azab Allah. Azab yang
dimaksud adalah kekayaan yang tidak dikeluarkan infaknya kelak itu dipanaskan
dalam neraka Jahanam lalu disetrikakan pada dahi, lambung, dan punggung mereka
yang tidak mengeluarkan zakat. Hal tersebut sebagaimana dalil Al-Qur’an
berikut.
Dalil
Al-Qur’an Ke-6
۞ يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ كَثِيْرًا
مِّنَ الْاَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ النَّاسِ
بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ
يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُوْنَهَا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
ۙفَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍۙ
يَّوْمَ يُحْمٰى عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوٰى بِهَا جِبَاهُهُمْ
وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْۗ
هٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ.
التوبة: 34 - 35
Artinya: Wahai orang-orang
yang beriman, sesungguhnya banyak dari para rabi dan rahib benar-benar memakan
harta manusia dengan batil serta memalingkan (manusia) dari jalan Allah.
Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tetapi tidak menginfakkannya di
jalan Allah, berikanlah kabar ‘gembira’ kepada mereka (bahwa mereka akan
mendapat) azab yang pedih (34), pada hari ketika (emas dan perak) itu
dipanaskan dalam neraka Jahanam lalu disetrikakan (pada) dahi, lambung, dan
punggung mereka (seraya dikatakan), “Inilah apa (harta) yang dahulu kamu simpan
untuk dirimu sendiri (tidak diinfakkan). Maka, rasakanlah (akibat dari) apa
yang selama ini kamu simpan.” (35). (QS. At Taubah : 34 – 35).
Demikian diantaranya yang
berkaitan dengan zakat. Semoga yang informasi yang didapat membuat kita semakin
paham dengan ilmu agama dan kita bisa mengamalkannya. Dalil yang kita gunakan
untuk beribadah adalah dalil dari Al-Qur’an yang sudah pasti benar dan/ atau
hadis shahih atau setidaknya hasan lidzatihi. Adapun selain dalil
yang ada, tidak menutup kemungkinan terdapat dalil yang shahih maupun sharih
lainnya yang bisa kita gunakan sebagai landasan hukum ibadah. Semoga kita
semuanya mampu melaksanakan ibadah dengan baik dan istikamah sebagai upaya kita
meraih kesempurnaan amal salih. Aamiin.