Sunday, September 20, 2020

Kultum: Pendidikan Akhlak dalam Alquran Surat Luqman Ayat 18 dan 19

 

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rakhimakumullah.

 

Islam mengajarkan bahwa akhlak tidak dapat dipisahkan dengan iman. Sebagaimana yang kita tahu bahwa iman merupakan pengakuan hati, ucapan, dan perbuatan, sementara akhlak sendiri sebagai cerminan iman pada setiap perilaku dan ucapan. Kita sebagai masing-masing individu memegang peranan penting terhadap kepribadian yang ada pada diri kita, sehingga akhlak kita sebagaimana yang telah ditunjukkan dalam Alquran dan sunah. Begitu pentingnya pendidikan akhlak ini, maka Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Tujuan dari pendidikan akhlak ialah untuk menciptakan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Kebahagiaan tersebut dibangun dengan hubungan yang baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama manusia.

 

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rakhimakumullah.

 

Hubungan dengan Allah dibangun dengan mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Sedangkan hubungan sesama dibangun dengan interaksi. Kita sebagai makhluk sosial tidak jarang berinteraksi dengan orang lain. Sebelum membangun hubungan baik dengan sesama, perlu adanya pendidikan akhlak. Diantara pendidikan akhlak dalam Islam, salah satunya ada pada wasiat Luqman yang diberikan kepada anaknya. Wasiat Luqman yang dimaksud terdapat pada Alquran Surat Luqman ayat 18 sampai dengan 19.

 

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا، إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (١٨) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ، إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (١٩)

Artinya: (18) Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. (19) Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan launakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”. (QS. Luqman: 18-19)

 

Melalui Surat Luqman ayat 18 sampai dengan 19 dapat kita ketahui beberapa pelajaran yand dapat kita petik. Pelajaran yang ada pada ayat tersebut adalah larangan berperilaku sombong. Oleh karenanya, hendaknya seorang muslim itu tidak berlaku sombong. Wujud perilaku tidak sombong diantaranya adalah sebagai berikut:

 

1.     Mengingatkan untuk tidak memalingkan muka kepada orang yang berbicara dengan wajah yang sombong, angkuh, dan meremehkannya

Kita dalam berinteraksi diajarkan untuk tidak memalingkan muka kepada orang yang berbicara dengan wajah yang sombong. Pribadi yang sombong biasanya diberikan Allah suatu kelebihan sehingga membuatnya sombong. Kelebihan yang Allah berikan diantaranya adalah kelebihan harta kekayaan, fisik berupa ketampanan atau kecantikan, jabatan, kedudukan, keturunan, dan kepandaian. Memiliki harta berlimpah tetapi berlaku semena-mena terhadap saudaranya yang kehidupannya sederhana. Justru malah dipameri, iki lho barang-barang larang, kowe bakalan ora iso tuku. Mempunyai fisik yang tampan atau cantik, tapi tidak mau bergaul dengan orang yang selevel dengannya. Memiliki jabatan dan kedudukan, tetapi meremehkan orang biasa dan tidak peduli kepada sesama. Sapa aruh saja tidak mau. Termasuk dalam keturunan bangsawan, ningrat, atau darah biru, tetapi meremehkan orang biasa. Punya kepintaran hingga memperoleh gelar sarjana, magister, doktor, atau professor, tetapi meremehkan saudaranya yang lulusan SLTA, SLTP, SD, dan bahkan tidak mengenyam bangku sekolah sekalipun.

 

Berbagai kelebihan yang Allah berikan merupakan anugerah dari Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Apabila tidak berhati-hati, kelebihan tersebut akan membuat seseorang berlaku sombong. Kesombongan terjadi karena merasa lebih baik daripada orang lain. Kesombongan justru menggiring setiap pelakunya sehingga mendekat ke neraka.

 

Sombong karena merasa lebih dari pada yang lainnya mesti dihindari. Rasulullah telah menyampaikan definisi sombong. Definisi sombong menurut Rasulullah adalah sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَا يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ: اِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ اَنْ يَكُوْنَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً؟ قَالَ: اِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ اْلجَمَالَ. اَلْكِبْرُ بَطَرُ اْلحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ. مسلم 1: 93

Dari Abdullah bin Mas'ud, dari Nabi SAW beliau bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari sombong".  Lalu ada seorang laki-laki bertanya : "Sesungguhnya ada orang senang bajunya itu bagus dan sandalnya bagus, (yang demikian itu bagaimana, ya Rasulullah ?"). Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah itu indah dan suka pada keindahan. Sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan manusia". [HR. Muslim juz 1, hal. 93]

 

Berdasarkan hadis tadi, Rasulullah menjelaskan bahwa terdapat dua sifat, yaitu menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Oleh karenanya, sebagai seorang muslim kita hendaknya menjauhi sombong.

 

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rakhimakumullah.

 

2.     Melarang berjalan di muka bumi ini dengan angkuh dan membanggakan diri

Perlu kita ingat kisah tentang Qarun di masa lalu. Qorun memiliki banyak harta yang berlimpah. Banyak harta yang dimilikinya justru membuatnya sombong dan justru memamerkan harta yang dia miliki ke hadapan orang lain. Hingga pada akhirnya, dia diingatkan bahwa harta yang dimiliki digunakan untuk mencari kebahagiaan hidup di akhirat. Namun ketika dingatkan bahwa kelebihan harta yang dimiliki mestinya untuk ibadah, darol aqirah, dia justru malah mengelak. Dia bersikeras bahwa harta yang dimilikinya dikarenakan kepandaian yang dimilikinya. Qarun lupa bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah anugerah dari Allah. Hal tersebut mengakibatkan azab Allah turun dan meluluhlantakkan hartanya.

 

Pelajaran tersebut mestinya menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai peristiwa yang telah terjadi malah justru terjadi lagi di masa berikutnya. Kita mestinya mendayagunakan seluruh tenaga dan pikiran untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Namun kita juga jangan melupakan kebahagian hidup di dunia. Memang dunia ini fana, sehingga kita utamakan kehidupan di akhirat. Ketika mengutamakan kebahagiaan hidup di akhirat, maka kesenangan hidup di dunia akan menyertai. Dunia ini fana, sebab harta yang kita miliki kelak akan berpindah pada ahli waris, jabatan yang ada pada diri kita akan dilimpahkan ke orang lain. Namun hanyalah amal perbuatan baik yang menjadi bekal menghadap Allah kelak.

 

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rakhimakumullah.

 

3.     Memerintah untuk berjalan dengan langkah yang sederhana

Fisik tubuh yang baik adalah anugerah dari Allah. Anugerah dari Allah hendaknya kita jaga sebaik-baiknya amanah tersebut. Kelak amanah tersebut akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Oleh karenanya, sudah menjadi suatu kemestian bagi kita untuk tidak berbangga diri. Mudah bagi Allah dalam mencabut kenikmatan akan anugerah fisih yang baik. Apabila fisik yang dibanggakan tersebut misalnya diberi kanker, tumor, atau stroke oleh Allah, maka apa yang bisa dibanggakan. Anugrah Allah tersebut adalah titipan. Kita saat bercermin bisa melihat akan anugerah dari Allah berupa wajah maupun fisik yang baik. Kita pun diajarkan supaya berdoa ketika bercermin sebagaimana hadis berikut:

 

عَنْ عَلِيّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ اِذَا نَظَرَ وَجْهَهُ فِى اْلمِرْآةِ قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ، اَللّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِى فَحَسِّنْ خُلُقِى. ابن السنى

Dari ‘Ali bin Abu Thalib RA, bahwasanya Nabi SAW apabila beliau melihat wajahnya di cermin, beliau berdoa, “Al-hamdu lillaah, Aloohumma kamaa hassanta kholqii fa hassin khuluqii” (Segala puji bagi Allah, Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku). [HR. Ibnus Sunni, hal. 62]

 

Melalui lafal doa tadi dapat di kita ketahui bahwa ketika kita bercermin, kita berdoa memohon supaya memperbagus akhlak sebagaimana Allah telah memperbagus fisik keadaan kita. Marilah kita semua memperbagus akhlak kita.

 

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rakhimakumullah.

 

4.     Memerintahkan untuk melunakkan suara dalam berbicara

Kita diberi pelajaran supaya berbicara dengan melunakkan suara. Hal tersebut kita lakukan terhadap individu yang lain. Hendaknya di dalam berbicara berlaku sopan dan lemah lembut. Rasulullah saja mengajarkan supaya berkata baik atau diam (فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ).  Hal tersebut sebagaimana hadis berikut:

عَنْ اَبِى شُرَيْحٍ اْلخُزَعِيِّ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُحْسِنْ اِلَى جَارِهِ، وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَسْكُتْ. مسلم

Dari Abu Syuraih Al-Khuza'i RA bahwasanya Nabi SAW telah bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam". [HR. Muslim]

 

Selain itu dalam kebudayaan Jawa, kita diajarkan supaya berbicara dengan basa krama terhadap orang yang lebih tua. Kemudian juga ada tata krama dalam bergaul terdadap yang lebih tua, sepantaran, ataupun kepada yang lebih muda.

 

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rakhimakumullah.

 

Pelajaran akhlak yang ada pada Alquran Surat Luqman ayat 18 sampai dengan 19 mesti kita petik. Mau tidak mau, hal tersebut berimplikasi terhadap kita sebagai seorang muslim. Implikasi pendidikan pada Alquran Surat Luqman ayat 18 sampai dengan 19 adalah sebagai berikut:

1. Memperkuat iman dan keyakinan dengan mengingat bahwa keturunan, kecantikan, atau ketampanan, harta kekayaan, dan pengetahuan adalah bagian dari amanah Allah SWT. Dengan demikian kita mesti mengingat bahwa kita dihadapan Allah itu sama, tidak membedakan mana keturunan ningrat dan bukan ningrat. Kecantikan atau ketampanan yang Allah anugerahkan kepada kita mesti kita syukuri. Hal tersebut mesti diikuti dengan akhlak karimah sebagaimana Allah ciptakan kecantikan atau ketampanan yang ada pada diri kita. Kita juga mengingat bahwa harta kekayaan adalah titipan Allah yang kelak dipertanggungjawabkan. Harta kekayaan mestinya digunakan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Kita mesti mengingat bahwa pengetahuan adalah anugerah dari Allah yang kelak dipertanggung jawabkan. Manusia adalah khalifah fil ard (penguasa di bumi). Tentu tugas penguasa adalah mengelola. Melalui pengetahuan dan kepandaian, manusia mengelola bumi ini.

2. Membina keyakinan bahwa anugerah yang diberikan Allah SWT dapat  dipertanggung jawabkan. Segala sesuatu yang Allah berikan hanyalah titipan yang kelak dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya, kita gunakan sebaikbaiknya titipan Allah. Kita gunakan titipan Allah untuk kebaikan. Kita gunakan seluruh anugerah yang Allah berikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, sebagai sarana menggapai rida Allah SWT.

3. Membiasakan dan menanamkan pribadi muslim untuk saling menghargai, mendekatkan diri kepada Allah, mensyukuri nikmat Allah, membiasakan bersedekah, bergaul dengan baik, sederhana dalam berpenampilan, sedikit dalam berbicara, memberi salam, dan bertutur kata yang baik.

 

Wallahu a’lam bishshawab

 

Wednesday, September 16, 2020

Doa Memohon Perlindungan di Pagi dan Petang Hari

Sebagai seorang muslim, kita hendaknya selalu memohon perlindungan kepada Allah. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari segala bencana maupun keburukan lainnya, baik di pagi hari maupun saat petang. Banyak diantaranya doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Doa-doa tersebut terabadikan di dalam banyak hadis. Berikut ini beberapa doa memohon perlindungan di pagi hari dan petang hari.

 

Hadis Pertama

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ الْعَدَوِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. البخاري

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami Al Husain, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Busyair bin Ka'b Al 'Adawi, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaddad bin Aus RA, dari Nabi SAW; "Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah; kamu mengucapkan: 'ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA 'ABDUKA WA ANA 'ALA 'AHDIKA WA WA'DIKA MASTATHA'TU A'UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA'TU ABUU`U LAKA BIDZANBI WA ABUU`U LAKA BINI'MATIKA 'ALAYYA FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu) '." Beliau bersabda: 'Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.' (HR. Bukhari, no 5831).


Hadis Kedua

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ بُشَيْرِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ إِذَا قَالَ حِينَ يُمْسِي فَمَاتَ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِذَا قَالَ حِينَ يُصْبِحُ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ مِثْلَهُ. البخاري

 

Telah menceritakan kepada kami Musaddad (bin Musrihad bin Musribal bin Mustawrid), telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai', telah menceritakan kepada kami Husain (bin Dzakwan), telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah, dari Busyair bin Ka'b, dari Syaddad bin Aus, dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah; jika seorang hamba mengucapkan: 'ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA 'ABDUKA WA ANA 'ALA 'AHDIKA WA WA'DIKA MASTATHA'TU A'UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA'TU ABUU`U LAKA BIDZANBI WA ABUU`U LAKA BINI'MATIKA 'ALAYYA FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA A'UUDZU BI SYARRI MAA SHANA'TU (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu, dan aku meminta ampun dari segala yang pernah aku perbuat) '. Jika ia mengucapkan di waktu sore lalu meninggal, maka ia akan masuk surga. Dan jika ia membacanya di waktu pagi lalu meninggal pada hari, maka ia mendapatkan seperti itu juga (masuk surga)." (HR. Bukhari, no. 5848)

Hadis Ketiga

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سُوَيْدٍ النَّخَعِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ قَالَ الْحَسَنُ فَحَدَّثَنِي الزُّبَيْدُ أَنَّهُ حَفِظَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ فِي هَذَا لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ. مسلم

 

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahid bin Ziyad, dari Al Hasan bin 'Ubaidullah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Suwaid An Nakha'i, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Yazid, dari 'Abdullah bin Mas'ud, dia berkata; Apabila sore hari, Rasulullah SAW mengucapkan doa yang berbunyi: 'AMSAINAA WA AMSAL MULKU LILLAAH, WALHAMDU LILLAAHI, LAA-ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU (Kami memasuki sore hari dan pada sore ini jagad raya tetap milik Allah. Segala puji bagi Allah tiada Tuhan selain Allah, Dialah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya.” Al Hasan berkata; maka telah menceritakan kepada kami Zubaid, bahwasanya ia menghafal dari Ibrahim mengenai do'a ini; 'LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI'IN QODIIR, ALLOOHUMMA AS"ALUKA KHOIRO HAADZHILLAILATI AWA A'UUDZU BIKA MIN SYARRI HAADZIHILLAILATI WA SYARRI MAA BA'DAHAA, ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL KASALI WA SUU'IL KIBRI, ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN 'ADZAABIN FIN NAARI WA'ADZAABIN FIL QOBRI (Bagi-Nyalah semua kekuasaan dan pujian, dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dari kebaikan malam ini. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada pada malam ini dan kejahatan sesudahnya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kesengsaraan di masa tua. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka dan adzab di dalam kubur) (HR. Muslim, no.  4900).

 

Hadis Keempat

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سُوَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرِ مَا فِيهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَسُوءِ الْكِبَرِ وَفِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ وَزَادَنِي فِيهِ زُبَيْدٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سُوَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَفَعَهُ أَنَّهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. مسلم

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Husain bin 'Ali, dari Zaidah, dari Al Hasan bin 'Ubaidullah, dari Ibrahim bin Suwaid, dari 'Abdurrahman bin Yazid, dari 'Abdullah, dia berkata; "Apabila sore hari, Rasulullah SAW mengucapkan doa yang berbunyi: AMSAINAA WA AMSAL MULKU LILLAAHI, WALHAMDU LILLAAH, LAA-ILAAHA ILLALLAH, WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH, ALLOOHUMMA INNII AS'ALUKA MIN KHOIRI HAADZIHILLAILATI WAKHOIRI MAA FIIHAA WA A'UUDZU BIKA MIN SYARRIHAA WASYARRI MAA FIIHAA, ALLOOHUMMA INNII A'UUZDUBIKA MINAL KASALI WALHAROMI WASUU'IL KIBRI WAFITNATID DUN-YAA WA'ADZAABIL QOBRI (Kami memasuki sore hari dan pada sore ini jagad raya tetap milik Allah. Segala puji bagi Allah tiada Tuhan selain Allah, Dialah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dari kebaikan malam ini dan kebaikan yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan di malam ini dan kejahatan yang ada di dalamnya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kepikunan, kesengsaraan di masa tua, fitnah dunia dan azab kubur). Al Hasan bin Ubaidillah berkata; 'Zubaid menambah kepada saya tentang hadis tersebut dari Ibrahim bin Suwaid, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdullah sebagai hadis marfu' bahwasanya Rasulullah SAW membaca doa yang berbunyi: 'LAA-ILAAHA ILLALLOOH WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI'IN QODIIRUN (Tiada Tuhan selain Allah. Dialah satu-satunya. Tiada sekutu bagi-Nya, jagad raya hanyalah milik-Nya. Segala puji hanya bagi-Nya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).' (HR. Muslim, no. 4902).

 

Hadis Kelima

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مَوْدُودٍ عَمَّنْ سَمِعَ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ يَعْنِي ابْنَ عَفَّانَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ و قَالَ فَأَصَابَ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ الْفَالِجُ فَجَعَلَ الرَّجُلُ الَّذِي سَمِعَ مِنْهُ الْحَدِيثَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ لَهُ مَا لَكَ تَنْظُرُ إِلَيَّ فَوَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ عَلَى عُثْمَانَ وَلَا كَذَبَ عُثْمَانُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنَّ الْيَوْمَ الَّذِي أَصَابَنِي فِيهِ مَا أَصَابَنِي غَضِبْتُ فَنَسِيتُ أَنْ أَقُولَهَا حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَاصِمٍ الْأَنْطَاكِيُّ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو مَوْدُودٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ لَمْ يَذْكُرْ قِصَّةَ الْفَالِجِ. أبو داود

 

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Maudud, dari seseorang yang mendengar Aban bin Utsman, ia berkata; Aku mendengar Utsman -maksudnya Utsman bin Affan- berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: BISMILLAHILLADZI LAA YADLURRU MA'ASMIHI SYAI`UN FIL ARDLI WA LAA FIS SAMAA`I WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIMU (dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang bisa memberikan bahaya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga pagi hari. Dan barangsiapa membacanya pada pagi hari sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa bencana yang datang dengan tiba-tiba hingga sore hari." Perawi berkata, "Lalu Aban tertimpa penyakit lumpuh, hingga orang yang mendengar hadis darinya melihat kepadanya (Aban), maka Aban pun berkata, "Kenapa kamu melihat aku? Demi Allah, aku tidak berbohong atas nama Utsman, dan Utsman tidak berbohong atas nama Nabi SAW. Tetapi pada hari ketika aku tertimpa penyakit ini, aku sedang marah hingga aku lupa membacanya." Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ashim Al Anthaki berkata, telah menceritakan kepada kami Anas bin Iyadl, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Maudud, dari Muhammad bin Ka'b, dari Aban bin Ustman, dari Utsman dari Nabi SAW sebagaimana dalam hadis tersebut, hanyasaja ia tidak menyebutkan tentang cerita penyakit lumpuh." (HR. Abu Dawud, no. 4425)

 

Keterangan:

Hadis tersebut adalah hadis hasan karena dalam sanadnya tidak semua perawi tsiqat. Sanad hadis tersebut terdapat perawi Abu Maudud yang nama aslinya adalah Abdul 'Aziz bin Abi Sulaiman. Abu Dawud, Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal mendudukkan Abu Maudud pada kualitas tsiqat. Namun Ibnu Hajar al 'Asqalani mendudukkannya pada kualitas maqbul. Mengenai Anas bin Iyadl boin Dlamrah, komentar Adz Dzahabi, Ibnu Hajar al 'Asqalani, dan Yahya bin Ma’in mendudukkannya pada kualitas tsiqat. Namun An Nasa’iy dan Abu Zur’ah mendudukkannya pada la ba`sa bih.

 

Wallahu a’lam bish-shawab