Friday, February 20, 2026

Kultum: Menempa Rasa Kemanusiaan Melalui Ibadah Ramadan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا. أَمَّا بَعْدُ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ رَحِمَكُمُ اللهُ،

Syukur alkhamdulillah tidak henti-hentinya kita haturkan kepada Allah SWT yang memberikan nikmat kepada kita semua untuk beramal salih. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa ajaran Agama Islam untuk diamalkan umatnya. Mengamalkan ajaran-ajaran agama merupakan bagian amanat sila pertama Pancasila, dan Undang Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 2.

Terima kasih saya haturkan kepada takmir Masjid, yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berdiri di mimbar ini. Pada kesempatan, ijinkanlah saya menyampaikan materi yang terkhusus untuk nasihat kepada saya pribadi dan kepada jamaah secara umum.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Alhamdulillah kita semuanya dipertemukan dengan bulan Ramadan 1447H. harapannya di bulan Ramadan ini, kita semuanya mampu memperoleh derajat takwa. Kita semuanya diminta untuk tidak hanya takwa secara vertical, tetapi juga takwa secara horizontal. Berusaha menjadi orang salih itu baik. Namun menjadi salih belum cukup, mestinya juga muslih. Oleh karena itu, Allah SWT sudah menerangkan bagaiman kriteria orang takwa secara horizontal. Allah berfirman,

﴿ ۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣ ﴾ ( اٰل عمران/3:133)

Artinya: Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (QS. Ali 'Imran/3:133)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Kita semuanya diminta untuk bersegera menuju ampunan Allah. Hikmahnya adalah supaya Allah mengkaruniai surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga tersebut disediakan bagi orang bertakwa. Adapun orang takwa yang dimaksud mesti memenuhi beberapa kriteria. Allah SWT berfirman,

﴿ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤ ﴾ ( اٰل عمران/3:134)

Artinya: (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali 'Imran/3:134)

Orang takwa secara horizontal yang dimaksud memiliki beberapa kriteria. Adapun kriterianya antara lain adalah: (1) berinfak di waktu lapang dan sempit; (2) orang yang mendalikan amarahnya; (3) orang pemaaf. Apabila ketiganya dilaksanakan, harapannya stempel orang bertakwa tersemat pada diri seorang hamba. Oleh karenanya dengan harapan sebab tersebut, Allah senantiasa mencintai hamba yang senantiasa mendidik dirinya supaya menjadi orang bertakwa. Hal tersebut karena orang takwa sudah pasti senantiasa berbuat kebaikan. Orang takwa secara horizontal sudah pasti hubungan baik dengan manusia lain juga baik (hablum minanas). Orang yang hubungannya baik dengan manusia lain karena saling memberi kebermanfaatan kepada orang lain. Manfaat tersebut supaya manusia lainnya tercukupi kebutuhan hidupnya. Melalui hal tersebut, hubungan baik di antara manusia terjalin baik sehingga menjadi cerminan bagaimana takwa secara horizontal itu diraih.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Menjadi salih dengan mengupayakan takwa secara vertical itu baik. Salih untuk diri sendiri itu baik. Namun salih saja belum cukup. Seseorang itu hendaknya tidak hanya salih, tetapi juga muslih. Semoga kita semuanya yang berusaha mendidik diri di bulan Ramadan ini menjadi orang yang salih dan juga muslih.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Semoga bisa menjadi pengingat bagi diri saya dan bermanfaat bagi jamaah secara umum. Mohon maaf apabila terdapat tutur kata yang kurang berkenan. Mari kita tutup dengan hamdalah dan doa penutup majelis.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Penyampai: Revolusi Prajaningrat Saktiyudha, S.Si.., M.Pd., S.Pd. Gr.


 

 

No comments:

Post a Comment