Tuesday, February 24, 2026

Kultum: Memperbaiki Karakter, Sabar, Jujur, dan Meningkatkan Ketakwaan

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا. أَمَّا بَعْدُ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ رَحِمَكُمُ اللهُ،

Syukur alkhamdulillah tidak henti-hentinya kita haturkan kepada Allah SWT yang memberikan nikmat kepada kita semua untuk beramal salih. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa ajaran Agama Islam untuk diamalkan umatnya. Mengamalkan ajaran-ajaran agama merupakan bagian amanat sila pertama Pancasila, dan Undang Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 2.

Terima kasih saya haturkan kepada takmir Masjid, yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berdiri di mimbar ini. Pada kesempatan, ijinkanlah saya menyampaikan materi yang terkhusus untuk nasihat kepada saya pribadi dan kepada jamaah secara umum.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Alhamdulillah kita semuanya dipertemukan dengan bulan Ramadan 1447H. harapannya di bulan Ramadan ini, kita semuanya mampu memperoleh derajat takwa. Kita semuanya diminta untuk tidak hanya takwa secara vertikal, tetapi juga takwa secara horizontal. Berusaha menjadi orang salih itu baik. Namun menjadi salih belum cukup, mestinya juga muslih. Oleh karena itu, Allah SWT sudah menerangkan bagaimana role model yang mesti kita jadikan kiblat bagaimana mewujudkan takwa secara horizontal. Allah berfirman,

﴿ وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ ٩ ﴾ ( الحشر/59:9)

Artinya: Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr/59:9)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Terdapat unsur utama bagaimana ukhuwah islamiah terwujud, yaitu iman. Sebelum Nabi dan para sahabat hijrah, Nabi mengutus sahabat Mus’ab bin Umair untuk berdakwah di daerah Yatsrib (sekarang dikenal dengan Madinah). Dakwah Mus’ab bin Umair di sana diterima oleh masyarakat sehingga iman muncul dalam dada masyarakat di sana. Hingga pada akhirnya tiba waktunya Nabi dan para sahabat hijrah. Akhirnya Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Tidak kenal dan bahkan tidak ada garis nasab, mereka bersaudara melebihi hubungan nasab. Apa yang diperlukan kaum Muhajirin, kaum Anshar siap membantu. Namun karena punya jiwa perwira, kaum Muhajirin tidak aji mumpung dengan meminta harta sebanyak-banyaknya dari kaum Anshar. Kaum Anshar tetap menawarkan bantuan, meski mereka sangat memerlukannya. Hubungan ini merupakan hubungan istimewa karena didasarkan pada iman. Oleh karenanya, orang yang ada iman di dadanya senantiasa mendoakan saudara seimannya. Allah SWT berfirman,

﴿ وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٠ ﴾ ( الحشر/59:10)

Artinya: Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr/59:10)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Orang iman senantiasa mendoakan saudara seimannya. Hal tersebut karena orang iman menghendaki kebaikan, baik kebaikan untuk saudaranya maupun dirinya sendiri. Doa dalam ayat tersebut mengajarkan kepada kita untuk mendoakan orang iman yang mendahului kita maupun yang sekarang. Mohon doa juga supaya hati dijauhkan dari kedengkian. Hal itu karena kedengkian adalah bisa menghapus amal salih yang sudah dikerjakan. Dengki itu juga identic dengan kesombongan, yaitu merendahkan orang lain. Manusia tidak boleh sombong karena yang boleh sombong hanya Sang Khalik. Oleh karenanya, jauhi sifat dengki. Didik diri kita supaya jauh dari sifat dengki.

Harapannya dengan dasar iman, kita semuanya mampu menjadi manusia yang mengamalkan apa yang dicontohkan oleh Allah dalam kisah Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar. Hal tersebut adalah role model untuk menididik karakter, sabar dalam menghadapi cobaan, jujur dalam bertindak, sehingga kualitas takwa kian meningkat.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Semoga bisa menjadi pengingat bagi diri saya dan bermanfaat bagi jamaah secara umum. Mohon maaf apabila terdapat tutur kata yang kurang berkenan. Mari kita tutup dengan hamdalah dan doa penutup majelis.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Penyampai: Revolusi Prajaningrat Saktiyudha, S.Si.., M.Pd., S.Pd. Gr.


 

No comments:

Post a Comment