Sebagai umat
Islam tentunya sudah tidak asing dengan ibadah salat. Adapun hukum salat ada
yang wajib maupun sunah. Utamanya yang wajib, kita sebagai umat Islam tentunya
melaksanakan salat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Taukah Anda bahwa
terdapat salat wajib lain yang harus kita kerjakan? Ya, salat yang hukumnya
wajib termasuk diantaranya ibadah salat Jum’at.
A. Perintah
Salat Jum’at Dalam Alquran
Salat Jum’at
sudah menjadi ibadah pekanan bagi umat muslim. Salat Jum’at merupakan aktivitas
ibadah salat wajib bagi kaum muslim yang dilaksanakan setiap hari Jum’at.
Adapun dalil yang mendasari pelaksanaan ibadah salat Jum’at adalah sebagai
berikut:
Allah SWT
berfirman,
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن
يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا۟ الْبَيْعَ ۚ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ
تَعْلَمُونَ {9}. فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ
وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ {10}. وَإِذَا رَأَوْا۟ تِجَـٰرَةً أَوْ لَهْوًا ٱنفَضُّوٓا۟ إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًۭا ۚ قُلْ مَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌۭ مِّنَ ٱللَّهْوِ وَمِنَ ٱلتِّجَـٰرَةِ
ۚ وَٱللَّهُ خَيْرُ
ٱلرَّٰزِقِينَ {11}. الجمعة: 11 -9
Artinya: Wahai
orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada
Hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.
Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (9). Apabila salat
telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan
ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung (10). Dan apabila (sebagian) mereka
melihat perdagangan atau permainan, mereka segera berpencar (menuju) padanya
dan meninggalkan engkau (Nabi Muhammad) yang sedang berdiri (berkhotbah).
Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan
perdagangan.” Allah pemberi rezeki yang terbaik (11). (QS. Al Jumu’ah: 9 –
11)
Seruan perintah
salat Jum’at bagi orang-orang beriman diterangkan di Alquran Surat Al Jumu’ah
ayat 9 sampai 11. Namun demikian, para ahli tafsir memberikan penjelasan di
dalam kitabnya. Ada berbagai ahli tafsir yang menjelelaskan makna Alquran surat
Al Jumu’ah ayat 9 sampai 10, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Imam Al
Qurthubiy (wafat 671 H)
Berkata Imam Al
Qurthubiy di dalam kitab tafsirnya:
قَوْلُهُ تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا، خِطَابٌ لِلْمُكَلَّفِيْنَ
بِاِجْمَاعٍ. وَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَرْضَى وَالزَّمْنَى وَالْمُسَافِرُوْنَ وَالْعَبِيْدُ
وَالنِّسَاءُ بِالدَّلِيْلِ، وَالْعُمْيَانُ وَالشَّيْخُ الَّذِيْ لَا يَـمْشِي اِلَا
بِقَائِدٍ عِنْدَ اَبِيْ حَنِيْفَةَ.
رَوَى اَبُو الزُّبَيْرِ
عَنْ جَابِرٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ
فَعَلَيْهِ الْجُمُعَةُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ اِلَّا مَرِيْضٌ اَوْ مُسَافِرٌ اَوِ امْرَأَةٌ
اَوْ صَبِيٌّ اَوْ مَـمْلُوْكٌ، فَمَنِ اسْتَغْنَى بِلَهْوٍ اَوْ تِجَارَةٍ اِسْتَغْنَى
اللهُ عَنْهُ، وَاللهُ غَنِيٌّ حَـمِيْدٌ. خرجه الدارقطني
Artinya: Firman
Allah Ta’ala, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu” (wahai orang-orang yang
beriman), khitabnya adalah orang-orang mukalaf menurut ijma’. Dikecualikan
darinya adalah: orang-orang yang sakit, orang-orang cacat, musafir, hamba
sahaya, para wanita (berdasarkan dalil), orang buta dan orang tua yang tidak
bisa berjalan melainkan dengan orang yang menuntunnya (menurut Imam Abu
Hanifah).
Abuz Zubair meriwayatkan
dari Jabir, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, maka pada hari Jum’at dia wajib mendatangi salat
Jum’at, kecuali orang sakit, musafir, wanita, anak-anak dan hamba sahaya. Maka
barangsiapa yang tidak mendatangi salat Jum’at karena permainan atau karena
jual beli, Allah tidak butuh kepadanya, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”
(HR. Daraquthniy) (Dalam kitab Tafsir Al Qurthubiy juz 18, hal 68).
2. Imam Ibnu
Katsir (wafat 774 H)
Berkata Imam
Ibnu Katsir di dalam kitabnya:
وَاِنَّـمَا يُؤْمَرُ بِحُضُوْرِ الْجُمُعَةِ الرِّجَالُ الْأَحْرَارُ
دُوْنَ الْعَبِيْدِ وَالنِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ، وَيُعَذَّرُ الْمُسَافِرُ
وَالْمَرِيْضُ وَقَيِّمُ الْمَرِيْضِ وَمَا اَشْبَهَ ذٰلِكَ مِنَ الْاَعْذَارِ
كَمَا هُوَ مُقَرَّرٌ فِي كُتُبِ الْفُرُوْعِ. تفسير ابن كثير 4: 366
Artinya: Dan
sesungguhnya yang diperintahkan untuk mendatangi salat Jum’at adalah kaum
laki-laki yang merdeka, bukan hamba sahaya, bukan para wanita dan anak-anak.
Dan diberi rukhsah bagi musafir, orang sakit, orang yang mengurusi orang sakit,
dan yang serupa itu dari orang-orang yang berhalangan sebagaimana ditetapkan
dalam kitab-kitab fiqih (Tafsir Ibnu Katsir juz 4, hal 366).
3. Imam Al
Maraghiy (wafat 1371 H)
Berkata Imam Al
Maraghiy di dalam kitabnya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْآ اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ
اللهِ وَذَرُوْا الْبَيْعَ اَيْ اِذَا اَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ بَيْنَ
يَدَىِ الْاِمَامِ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ لِلصَّلَاةِ فَاتْرُكُوْا
الْبَيْعَ وَاسْعَوْا لِتَسْمَعُوْا مَوْعِظَةَ الْاِمَامِ فِى خُطْبَتِهِ، وَعَلَيْكُمْ
اَنْ تَـمْشُوا الْـهُوَيْنِيَّ بِسَكِيْنَةٍ وَوَقَارٍ حَتَّى تَصِلُوْا اِلَى الْمَسْجِدِ.
Artinya: “Hai
orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari
Jum’at, maka bersegeralah kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli”.
Yaitu apabila muazin telah menyerukan azan di depan imam yang sudah berada di
mimbar pada hari Jum’at untuk salat (Jum’at), maka tinggalkanlah jual beli dan
bersegeralah berangkat untuk mendengarkan nasihatnya imam di dalam khotbahnya.
Dan berjalanlah (datanglah) dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, hingga kalian
sampai di masjid (Tafsir Al Maraghiy juz 28, hal. 101).
B. Hadis
Berkaitan dengan Salat Jum’at
Banyak
diantaranya hadis yang menjelaskan tentang salat Jum’at. Hadis tersebut sebagai
acuan penafsiran ayat. Beberapa diantara hadis yang sering digunakan sebagai
dalil ataupun pembatas adalah sebagai berikut:
Hadis Pertama
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ
أَنْبَأَنَا يَزِيدُ بْنُ زِيَادِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ زُبَيْدٍ عَنْ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ عُمَرَ قَالَ
صَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ وَالْفِطْرُ
وَالْأَضْحَى رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ابن ماجه
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair berkata, telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr berkata, telah memberitakan
kepada kami Yazid bin Ziyad bin Abu Al Ju'd, dari Zubaid, dari 'Abdurrahman
bin Abu Laila, dari Ka'b bin Ujrah, dari Umar (bin Khaththab)
ia berkata, "Salat safar itu dua rakaat, Jum'at dua rakaat, Idul Fitri dan
Idul Adha dua rakaat, sempurna tanpa meringkas sebagaimana sabda Muhammad SAW.
" (HR. Ibnu Majah, no. 1054).
Keterangan: Hadis pada riwayat tersebut hadis hasan. Hal tersebut karena ada perawi Yazid
bin Ziyad bin Abu Al Ju'd. An Nasaa’iy mengomentari laisa bihi ba`s
(tidak mengapa). Abu Hatim mengomentari la ba`sa bih (tidak apa-apa).
Hadis Kedua
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي
سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا
عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا وَسَأَلَنَا
عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا
فَقَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا
رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ
أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ. البخاري
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Isma'il,
telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu
Sulaiman Malik bin Al Huwairits, dia berkata; "Kami datang kepada Nabi
SAW sedangkan waktu itu kami adalah pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama
beliau selama dua puluh malam. Beliau mengira kalau kami merindukan keluarga
kami, maka beliau bertanya tentang keluarga kami yang kami tinggalkan. Kami pun
memberitahukannya, beliau adalah seorang yang sangat penyayang dan sangat
lembut. Beliau bersabda: "Pulanglah ke keluarga kalian. Tinggallah bersama
mereka dan ajari mereka serta perintahkan mereka dan salatlah kalian
sebagaimana kalian melihatku salat. Jika telah datang waktu salat, maka
hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan, dan yang paling tua
dari kalian hendaknya menjadi imam kalian'." (HR. Bukhari, no. 5549)
Hadis Ketiga
و حَدَّثَنِي عَلِيُّ
بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ صَاحِبِ
الزِّيَادِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَبَّاسٍ أَنَّهُ، قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ.
قَالَ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ، فَقَالَ: أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا
قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي
كَرِهْتُ أَنْ أُخْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ. و حَدَّثَنِيهِ
أَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ عَنْ
عَبْدِ الْحَمِيدِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْحَارِثِ قَالَ خَطَبَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ فِي يَوْمٍ ذِي رَدْغٍ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِمَعْنَى
حَدِيثِ ابْنِ عُلَيَّةَ وَلَمْ يَذْكُرْ الْجُمُعَةَ وَقَالَ قَدْ فَعَلَهُ مَنْ
هُوَ خَيْرٌ مِنِّي يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و قَالَ
أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
الْحَارِثِ بِنَحْوِهِ و حَدَّثَنِيهِ أَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ هُوَ
الزَّهْرَانِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ
وَعَاصِمٌ الْأَحْوَلُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَلَمْ يَذْكُرْ فِي حَدِيثِهِ
يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ
مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ شُمَيْلٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْحَمِيدِ صَاحِبُ الزِّيَادِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْحَارِثِ
قَالَ أَذَّنَ مُؤَذِّنُ ابْنِ عَبَّاسٍ يَوْمَ جُمُعَةٍ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ
فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ ابْنِ عُلَيَّةَ وَقَالَ وَكَرِهْتُ أَنْ تَمْشُوا فِي
الدَّحْضِ وَالزَّلَلِ و حَدَّثَنَاه عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ
بْنُ عَامِرٍ عَنْ شُعْبَةَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا
عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ كِلَاهُمَا عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَمَرَ مُؤَذِّنَهُ فِي
حَدِيثِ مَعْمَرٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ بِنَحْوِ حَدِيثِهِمْ
وَذَكَرَ فِي حَدِيثِ مَعْمَرٍ فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي يَعْنِي
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و حَدَّثَنَاه عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَقَ الْحَضْرَمِيُّ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا
أَيُّوبُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ وُهَيْبٌ لَمْ يَسْمَعْهُ
مِنْهُ قَالَ أَمَرَ ابْنُ عَبَّاسٍ مُؤَذِّنَهُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ فِي يَوْمٍ
مَطِيرٍ بِنَحْوِ حَدِيثِهِمْ. مسلم
Artinya: Dan
telah menceritakan kepadaku Ali bin Hujr As Sa'di, telah menceritakan
kepada kami Ismail dari Abdul Hamid kawan Az Ziyadi, dari Abdulah
bin Al Harits dari Abdullah bin Abbas berkata kepada muazinnya pada
waktu hujan: Apabila engkau selesai mengucapkan perkataan Asyhadu an laa
ilaaha illallaah, asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah jangan
melanjutkan mengucapkan Hayya ‘Alash-shalah, tetapi ucapkanlah Sholluu
fii buyuutikum (salatlah kamu sekalian di rumahmu masing-masing). Ibnu
Abbas mengatakan seolah-olah orang-orang itu memungkiri pada perkara tadi.
Selanjutnya Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya orang yang lebih baik daripadaku
ialah Nabi Muhammad SAW beliau telah bersabda: bahwasannya Salat Jum’at itu
‘Azmah (hukum asal) dan aku tidak senang menyusahkan kamu sekalian supaya kamu
sekalian berjalan di lumpur dan becek. Telah menceritakan kepada kami Abu
Kamil Al Jahdari tentang hadis tersebut, telah menceritakan kepada kami Hammad
yaitu Ibnu Zaid dari Abdul Hamid, katanya: "Aku pernah
mendengar Abdullah bin Harits mengtakan: Abdullah bin Abbas
pernah berkhotbah di hadapan kami, tepatnya ketika hari turun hujan, lalu dia
membawakan hadis yang semakna dengan hadis Ibnu 'Ulayyah, tetapi dirinya
tidak menyebutkan Jum’at, katanya: Hal ini juga pernah dilakukan oleh orang
yang lebih baik daripadaku, yakni Nabi SAW. Dan Abu Kamil mengatakan:
telah menceritakan kepada kami Hammad dari 'Ashim dari Abdulah
bin Harits dengan hadis yang sama. Telah menceritakan kepadaku Abu Rabi'
Al 'Ataki yaitu Az Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu
Ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ayyub dan 'Ashim Al
Ahwal dengan sanad ini, tetapi dia tidak menyebutkan "Yakni Nabi
SAW." Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur, telah
mengabarkan kepada kami Ibnu Syumail, telah mengabarkan kepada kami Syu'bah,
telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid kawannya Az Ziyadi, katanya:
"Aku mendengar Abdullah bin Al Harits katanya: "Muazin Ibnu
Abbas mengumandangkan azan pada hari Jum’at ketika hujan deras," dia
kemudian menyebutkan seperti hadisnya Ibnu 'Ulayyah, dia mengatakan:
"Dan aku tidak suka jika kalian berjalan di lumpur dan becek." Telah
menceritakan kepada kami 'Abd bin Humaid, telah menceritakan kepada kami
Said bin Amir dari Syu'bah. Dan diriwayatkan dari jalur lain,
telah menceritakan kepada kami 'Abd bin Humaid, telah mengabarkan kepada
kami Abdurrazaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar, keduanya
dari 'Ashim Al Ahwal dari Abdullah bin Al Harits bahwa Ibnu
Abbas pernah menyuruh muazinnya dalam hadis Ma'mar pada hari Jum’at
ketika hari hujan semisal hadis mereka, dia juga menyebutkan dalam hadis Ma'mar:
"Dan orang yang lebih baik dariku juga pernah melakukan hal ini, yakni
Nabi SAW." Telah menceritakan kepada kami 'Abd bin Humaid, telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Ishaq Al Khadhrami, telah
menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Ayyub
dari Abdullah bin Al Harits. Wuhaib mengatakan: "Namun Ayyub
tidak mendengarnya dari Abdulah bin Al Harits." Ibnu Al Harits
berkata: Ibnu Abbas menyuruh muazinnya pada hari Jum’at ketika hari
turun hujan, seperti hadis mereka. (HR. Muslim, no. 1128).
Hadis Keempat
حَدَّثَنَا عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً.
البخاري
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan
kepada kami Malik, dari Nafi', dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah
SAW bersabda: "Salat berjama'ah lebih utama dibandingkan salat
sendirian dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari, no. 609).
Hadis Kelima
حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ
عَبْدِ الْعَظِيمِ حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا هُرَيْمٌ عَنْ
إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ
طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً
عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ قَالَ أَبُو دَاوُد
طَارِقُ بْنُ شِهَابٍ قَدْ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَلَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ شَيْئًا. أبو داود
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami 'Abbas bin 'Abdul 'Adzim, telah menceritakan
kepadaku Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami Huraim (bin
Sufyan Al Bujali), dari Ibrahim bin Muhammad Al Muntasyir, dari Qais
bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dari Nabi SAW, beliau
bersabda; "Jum'at itu wajib bagi setiap muslim dengan berjama'ah, kecuali
empat golongan, yaitu; hamba sahaya (budak), wanita, anak-anak, dan orang yang
sakit." Abu Daud berkata; "Thariq bin Syihab pernah melihat
(hidup semasa) Nabi SAW, namun dirinya tidak mendengar sesuatu pun dari
beliau." (HR. Abu Dawud, no. 901).
Keterangan: Isnad hadis riwayat Abu Dawud di atas semua rawinya termasuk rawi-rawi
kitab hadis Sunan Sittah, kecuali 'Abbas bin 'Abdul 'Adzim. Dia
merupakan rawi dalam kitab hadis Muslim dan hadis Sunan Empat, kecuali Imam
Bukhari menganggap hadis tersebut mu’allaq. Rawi Huraim bin Sufyan Al
Bujali dikatakan hadis tersebut hadis riwayatnya baik tetapi tidak kuat
oleh Imam Al Bazzar. Hal tersebut juga dikatakan Imam Syuyuthi bahwa hadis
tersebut memiliki ‘illat. Secara bahasa, ‘illat artinya penyakit
atau cacat, tepatnya penyakit atau cacat tersembunyi atau samar sehingga nampak
shahih. Sebagian besar ulama menganggap hadis ini tidak shahih. Selain itu,
sebagaimana dalam hadis disebutkan Abu Dawud bahwasannya Thariq bin Syihab
pernah melihat (hidup semasa) Nabi SAW, tetapi dirinya tidak mendengar sesuatu
pun dari Nabi.
Hadis Keenam
حَدَّثَنَا أَبُو
بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، ثنا عُبَيْدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعِجْلِيُّ، حَدَّثَنِي
الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ الْعَنْبَرِيُّ، حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ،
ثنا هُرَيْمُ بْنُ سُفْيَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ،
عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
فِي جَمَاعَةٍ إِلا أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ،
أَوْ مَرِيضٌ. هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ فَقَدِ اتَّفَقَا
جَمِيعًا عَلَى الاحْتِجَاجِ بِهُرَيْمِ بْنِ سُفْيَانَ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَرَوَاهُ
ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ، وَلَمْ يَذْكُرْ
أَبَا مُوسَى فِي إِسْنَادِهِ، وَطَارِقُ بْنُ شِهَابٍ مِمَّنْ يُعَدُّ فِي الصَّحَابَةِ.
الحاكم في المستدرك على الصحيحين
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku Abu Bakar Ishaq Al-Faqih, telah menceritakan
kepada kami ‘Ubaid bin Muhammad Al-‘Ijli, telah menceritakan kepadaku 'Abbas
bin 'Abdul 'Adhim Al-‘Anbariy, telah menceritakan kepadaku Ishaq bin
Manshur, telah menceritakan kepada kami Huraim bin Sufyan dari Ibrahim
bin Muhammad bin Muntashir dari Qais bin Muslim dari Thariq bin
Syihab dari Abu Musa Al-Asy'ariy, dari Nabi SAW beliau bersabda: Jum’at
itu sungguh wajib bagi tiap-tiap orang Islam dengan berjamaah, kecuali empat
golongan yaitu: budak, perempuan, anak kecil, dan orang sakit. Hadis ini shahih
menurut syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim karena mereka semua sepakat
mengutip Huarim bin Sufyan, tetapi keduanya tidak mengeluarkan hadis
tersebut. Diriwayatkan Ibnu Uyaynah, dari Ibrahim bin Muhammad bin
Al-Muntasir, dan Abu Musa tidak disebutkan dalam isnadnya, dan Thariq
bin Syihab adalah salah satu sahabatnya. (HR. Hakim dalam Al Mustadrak
di Shahihan, no. 999).
Keterangan: Terkait Abu Bakar bin Ishaq Al-Faqih, riwayat hidupnya belum
dikenal dalam kitab-kitab yang menyelidiki perkara rawi-rawi, apakah dianggap
tercela atau adil. Demikian pula 'Ubaid bin Muhammad, itupun belum
terang riwayatnya. Padahal tambahan rawi yang belum dikenal riwayat hidupnya
itu tak dapat diterima hadisnya. Selain itu, jalur hadis seperti di atas menyelisihi
jalur periwayatannya lebih masyhur yang tanpa melalui rawi Abu Musa Al-'Asy'ariy.
Hadis Ketujuh
أَخْبَرَنَا أَبُو
عَلِيٍّ الرَّوذْبَارِيُّ، أنبأ مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ، ثنا أَبُو دَاوُدَ، ثنا عَبَّاسُ
بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ، حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، ثنا هُرَيْمٌ يَعْنِي
ابْنَ سُفْيَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ، عَنْ قَيْسِ
بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، قَالَ : الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ
إِلا أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ. قَالَ
أَبُو دَاوُدَ: طَارِقُ بْنُ شِهَابٍ قَدْ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَلَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ شَيْئًا. قَالَ الشَّيْخُ: وَرَوَاهُ عُبَيْدُ بْنُ
مُحَمَّدٍ الْعِجْلِيُّ، عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْعَظِيمِ فَوَصَلَهُ بِذِكْرِ
أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ فِيهِ، وَلَيْسَ بِمَحْفُوظٍ، فَقَدْ. رَوَاهُ غَيْرُ الْعَبَّاسِ
أَيْضًا، عَنْ إِسْحَاقَ دُونَ ذِكْرِ أَبِي مُوسَى فِيهِ. البيهقي في السنن الكبرى
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Abu Ali Ar-Raudzbari, telah menceritakan kepada
kami Muhammad bin Bakr, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud,
telah menceritakan kepada kami ‘Abbas bin Abdul ’Azhim, telah
menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur, telah menceritakan kepada kami Huraim
yaitu Ibnu Sufyan, dari Ibrahim bin Muhammad bin Al Muntasyir, dari Qais
bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dari Nabi SAW beliau bersabda:
Jum’at itu sungguh wajib bagi tiap-tiap orang Islam dengan berjamaah, kecuali
empat golongan yaitu: budak, perempuan, anak kecil, dan orang sakit. Berkata
Abu Dawud: Thariq bin Syihab pernah melihat (hidup semasa) Nabi SAW,
tetapi dirinya tidak mendengar sesuatu pun darinya. Berkata Asy Syaikh: Diriwayatkan
oleh Ubaid bin Muhammad Al-Ajli, dari ‘Abbas bin Abdul ‘Azhim, dengan
riwayat terhubung hingga Abu Musa Al-Ash’ariy di dalamnya, tetapi hadis tersebut jalurnya tidak mahfudz
(terjaga). Selain itu, diriwayatkannya dengan jalur Ishaq,
tanpa menyebut Abu Musa Al-Asy’ariy. (HR. Baihaqi
dalam Sunan Al Kubra, no. 5140).
Keterangan: Sebagaimana diterangkan dalam hadis bahwa hadis
tersebut dari 'Ubaid bin Muhammad Al-‘Ijli, dari 'Abbas bin 'Abdul
'Azhim dengan riwayat terhubung hingga Abu Musa Al-Asy’ariy, tetapi
hadis tersebut jalurnya tidak mahfudz (terjaga). Selain itu, diriwayatkan pula
dengan jalur Ishaq, tanpa menyebut Abu Musa Al-Asy’ariy. Imam
Al-Hafizh Al-Asqalaniy di dalam kitab Al-Ishabah juz 3, hal. 414 berkata,
“Jikalau Imam Al-Hakim telah mengeluarkan hadis melalui jalan yang mengatakan
dari Thariq dari Abu Musa Al-Asy’ariy dan ulama-ulama menyalahkan
Al-Hakim pada jalan tadi, wallahu a’lam.”
Hadis Kedelapan
حَدَّثَنَا أَبُو يَزِيدَ
الْقَرَاطِيسِيُّ، حَدَّثَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ،
عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ ضِرَارٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الشَّامِيِّ، عَنْ
تَمِيمٍ الدَّارِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:
الْجُمُعَةٌ وَاجِبَةٌ إِلَّا عَلَى امْرَأَةٍ أَوْ صَبِيّ أَوْ مَرِيْضٍ أَوْ
عَبْدٍ أَوْ مُسَافِرٍ. الطبرانى
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Yaziid Al Qaraathiisiy, telah menceritakan
kepada kami Asad bin Musa, telah menceritakan kepada kami Muhammad
bin Thalhah, dari Al Hakam (bin ‘Amr), dari Dhirar (bin Amr Al
Multhi), dari Abi Abdillah Asy-Syaamiy, dari Tamim Ad-Daariy,
dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Salat Jum’at itu wajib, kecuali bagi
wanita, anak-anak, orang sakit, hamba sahaya, atau musafir (orang yang
berpergian)” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, no. 1243).
Keterangan: Hadis riwayat Thabarani di atas dlaif. Hal tersebut karena ada rawi yang
bernama Al Hakam (bin ‘Amr). Dia Tertuduh dusta. Selain itu dalam isnad
terdapat Dhirar bin Amr Al Multhi. Menurut Yahya bin Ma’in, dia termasuk
dlaif dan juga dikatakan “laa syai’a” (tidak diperhatikan).
Hadis
Kesembilan
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ
مُحَمَّدِ بْنِ الْحَجَّاجِ بْنِ رِشْدِينَ بْنِ سَعْدٍ الْمِصْرِيُّ ، قَالَ: نا
إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ الْمَدِينِيُّ، قَالَ: نا مَالِكُ
بْنُ أَنَسٍ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسَةٌ لا
جُمُعَةَ عَلَيْهِمْ: الْمَرْأَةُ، وَالْمُسَافِرُ، وَالْعَبْدُ، وَالصَّبِيُّ،
وَأَهْلُ الْبَادِيَةِ. لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ مَالِكٍ ، إِلا
إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ. الطبراني
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Al Hajjaj bin Rusydin bin
Saad Al Masri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin
Hammad bin Abi Hazim Al Madaini, telah menceritakan kepada kami Malik
bin Anas, dari Abu Az Zinad, dari Al A’raj, dari Abu
Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Lima orang yang tidak wajib
Jum’ah adalah: perempuan, musafir (orang yang berpergian), budak, anak kecil,
dan penduduk pelosok pegunungan. Thabarani berkata: “Tidak ada yang
meriwayatkan hadis ini dari Malik kecuali Ibrahim bin Hammad bin Abi
Hazim” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jamul Al Awsath, no. 211).
Keterangan: Hadis dari Abu Hurairah di atas dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ibrahim
bin Hammad. Ia di-dlaif-kan oleh Daruquthniy.
Hadis Kesepuluh
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ
اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ بْنِ الْمُهْتَدِي بِاللَّهِ، ثنا يَحْيَى بْنُ
نَافِعِ بْنِ خَالِدٍ بِمِصْرَ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، ثنا ابْنُ
لَهِيعَةَ، حَدَّثَنِي مُعَاذُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ أَبِي
الزُّبَيْر،ِ عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَعَلَيْهِ
الْجُمُعَةُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا مَرِيضٌ أَوْ مُسَافِرٌ أَوِ امْرَأَةٌ
أَوْ صَبِيُّ أَوْ مَمْلُوكٌ، فَمَنِ اسْتَغْنَى بِلَهْوٍ أَوْ تِجَارَةٍ
اسْتَغْنَى اللَّهُ عَنْهُ وَاللَّهُ غَنِيُّ حُمَيْدٌ. الدارقطني
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Abdush-Shamad bin Al Muhtadi Billah,
telah menceritakan kepada kami Yahya bin Nafi' bin Khalid di Mesir, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin
Abi Maryam, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah
menceritakan kepada kami Mu'adz bin Muhammad Al Anshari, dari Abu
Az-Zubair, dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka dia wajib
melaksanakan salat Jum'at pada hari Jum'at, kecuali orang yang sakit, orang
yang sedang bepergian, wanita, anak kecil, atau hamba sahaya. Maka barangsiapa
yang merasa sibuk dengan permainan atau perdagangan, Allah pun akan lepas
darinya dan Allah Maha kaya lagi Maha terpuji" (HR. Daruquthni dalam
Sunan Daruquthni, no. 1560).
Keterangan: Hadis riwayat Daruquthni tersebut dalam sanadnya ada rawi Ibnu Lahi’ah
yang namanya adalah Abdullah bin Lahi’ah. Adz Dzahabi mengomentarinya
dlaif.
Hadis Kesebelas
حَدَّثَنَا أَبُو
الْوَلِيدِ يَعْنِي الطَّيَالِسِيَّ وَمُسْلِمٌ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ
عُثْمَانَ حَدَّثَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ
جَدَّتِهِ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ جَمَعَ نِسَاءَ الْأَنْصَارِ فِي بَيْتٍ
فَأَرْسَلَ إِلَيْنَا عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ فَقَامَ عَلَى الْبَابِ فَسَلَّمَ
عَلَيْنَا فَرَدَدْنَا عَلَيْهِ السَّلَامَ ثُمَّ قَالَ أَنَا رَسُولُ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْكُنَّ وَأَمَرَنَا
بِالْعِيدَيْنِ أَنْ نُخْرِجَ فِيهِمَا الْحُيَّضَ وَالْعُتَّقَ وَلَا جُمُعَةَ
عَلَيْنَا وَنَهَانَا عَنْ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ. أبو داود
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Al Walid yaitu Ath Thayalisi, dan Muslim,
keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ishaq bin 'Utsman,
telah menceritakan kepadaku Isma'il bin Abdurrahman bin 'Athiyah, dari
neneknya yaitu Ummu 'Athiyah, bahwa ketika Rasulullah SAW tiba di
Madinah, beliau mengumpulkan para wanita Anshar di suatu rumah, beliau mengutus
Umar bin Khattab untuk menemui kami, lalu Umar berdiri di depan pintu, dia
memberi salam kepada kami dan kami pun menjawab salamnya, lalu dia berkata;
"Aku adalah utusan Rasulullah SAW kepada kalian, beliau memerintahkan kami
untuk menyuruh keluar wanita haid dan para hamba sahaya pada dua hari raya,
tidak mewajibkan salat Jum'at atas kami dan beliau melarang kami ikut mengantar
jenazah." (HR. Abu Dawud, no. 962).
Keterangan: Hadis Ummu ‘Athiyah berisnad tunggal. Ujung sanad adalah Ummu
'Athiyah (Nusaibah binti Ka'ab) dan kemudian adalah Isma'il bin
Abdurrahman bin 'Athiyah. Terkait Isma’il, Adz Dzahabi tidak
menyebutkannya, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah menyebutkan di shahihnya. Namun
demikian, Isma’il tidak dikenal riwayat hidupnya dalam kitab-kitab Jarh atau
Ta’dil (kitab yang mencela atau membenarkan rawi-rawi).
Hadis
Keduabelas
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ
مُحَمَّدِ بْنِ مَسْعَدَةَ ، ثنا أُسَيْدُ بْنُ عَاصِمٍ ، ثنا بَكْرُ بْنُ
بَكَّارٍ ، ثنا يَاسِينُ بْنُ مُعَاذٍ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ
الْمُسَيِّبِ ، وَأَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الْجُمُعَةِ رَكْعَةً
صَلَّى إِلَيْهَا أُخْرَى ، فَإِنْ أَدْرَكَهُمْ جُلُوسًا صَلَّى الظُّهْرَ
أَرْبَعًا. الدارقطني
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Mas'adah, telah
menceritakan kepada kami Asad bin Ashim, telah menceritakan kepada kami Bakr
bin Bakkar, telah menceritakan kepada kami Yasin bin Mu'adz, dari Az-Zuhri,
dari Sa'id bin Al Musayyab dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah,
dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mendapatkan satu rakaat
dari salat Jum'at, maka hendaklah dia mengerjakan salat satu rakaat lagi. Jika
mendapatkan mereka (jamaah) sedang duduk, maka hendaklah dia mengerjakan salat
Zuhur empat rakaat." (HR. Daruquthni dalam Sunan Daruquthni, no.
1581).
Keterangan: Hadis tersebut hanya Yasin bin Muadz As-Sajjad sendiri yang
meriwayatkan. Yahya Bin Ma'in menganggap hadis tersebut tidak mengapa. Menurut
Imam Bukhari, hadis tersebut munkar. An-Nasa'iy dan Ibnu Junaid mengatakan
bahwa hadis itu matruk (ditinggalkan oleh ahli hadis). Ibnu Hibban mengatakan
bahwa riwayat tadi palsu. Abu Dawud berkata: Hadis ini matruk lagi pula dlaif.
Ibnu ‘Adi berkata riwayat Yasin itu tidak Mahfudz (tidak dipelihara oleh
ahli hadis).
C. Pendapat
Tentang yang Wajib Salat Jum’at
Memahami
berbagai dalil di dalam Alquran maupun Hadis, diantaranya ada beberapa pendapat
mengenai yang berkewajiban salat Jum’at. Kedua pendapat yang ada mempunyai
pendukung dan pembela dengan dalil-dalil yang tidak dapat dipertemukan kembali.
Pendapat yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Pendapat
Pertama
Jum’at merupakan
nama hari dan nama salat. Hal itu sebagaimana perkataan “jama’atun fulaanun”
yang berarti si fulan salat Jum’at. Kewajiban salat Jum’at itu bagi tiap-tiap
mukalaf dan sah dikerjakan oleh satu orang (tidak berjamaah). Hal tersebut
sesuai dengan pendapat Abdullah bin Abbas, Dawud bin Ali Ad-Dhahiri, Qasyani,
Hasan bin Shalih, dan disepakati oleh Imam Ahmad Muhammad Syakir dalam
komentarnya terhadap kitab Al Muhalla karangan Ibnu Hazm Al-Andalusiy.
Pendapat Kedua
Jumhur ulama
berpendapat bahwa salat Jum’at hanya sah dikerjakan dengan berjamaah. Bagi kaum
muslim yang ketinggalan salat Jum’at itu wajib mengerjakan salat Zuhur empat
rakaat. Menurut jumhur ulama, salat Jum’at itu diwajibkan menjadi pengganti
salat Zuhur dan bukan merupakan kewajiban yang asal (hukum asal). Menurut
jumhur ulama juga menyatakan bahwa salat Jum’at itu gugur bagi perempuan,
budak, orang berpergian (musafir), orang sakit, dan penduduk di pelosok
pegunungan. Namun demikian, bagi orang-orang yang gugur kewajiban salat Jum’at
itu diwajibkan salat Zuhur empat rakaat. Apabila orang-orang yang gugur
kewajiban salat Jum’at tadi mengerjakan salat Jum’at, maka sah salat Jum’atnya
dan tidak perlu mengerjakan salat Zuhur.
D. Ringkasan
Penjelasan Tentang Dalil Salat Jum’at
Dalil salat
Jum’at yang pasti benar adalah dalil dari Alquran surat Al Jumu’ah ayat 9.
Bunyi dalil dari Alquran surat Al Jumu’ah ayat 9 adalah sebagai berikut:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ
لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا۟ الْبَيْعَ ۚ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ
إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. الجمعة: 9
Artinya: Wahai
orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan
salat pada Hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah
jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS. Al
Jumu’ah: 9).
Khitab syar’i
diserukan bagi orang-orang mukalaf, yaitu ditujukan kepada laki-laki maupun
perempuan. Mukalaf itu juga termasuk yang mukim maupun safar, sehat maupun sakit, yang di kota ataupun pelosok pegunungan. Hal tersebut tidak bisa dibatasi (takhsis) selain menggunakan dalil
yang memiliki derajat shahih atau setidaknya hasan lidzaatihi (hadis
yang sanadnya tersambung dengan perantara perawi yang adil tapi terdapat
kekurangan pada hafalannya, tidak ada syadz dan illat). Pelaksanaan salat
Jum’at dilakukan dengan dua rakaat sebagaimana yang diterangkan pada hadis
pertama.
Hadis pertama
diriwayatkan oleh Umar, yaitu: Salat safar itu dua rakaat, Jum'at dua
rakaat, dan id dua rakaat, sempurna tanpa meringkas sebagaimana sabda Muhammad
SAW. Pelaksanaan salat Jum’at di hari Jum’at itu dua rakaat baik berjamaah
maupun sendirian (munfarid). Hal tersebut sebagaimana mutlaknya hadis sahabat
Umar. Namun demikian salat secara berjamaah lebih utama dari pada salat
sendirian sebagaimana hadis keempat. Dinamakan hari Jum’at karena berkumpulnya
orang-orang, tetapi tidak menghalangi kewajiban salat Jum’at dua rakaat.
Berkumpulnya orang-orang untuk melaksanakan salat Jum’at sudah menjadi
kebiasaan. Namun bukan berarti salat Jum’at harus berjamaah. Hal tersebut
sebagaimana seruan yang ada pada surat Al Jumu’ah ayat 9 yang menjadi kewajiban
bagi orang-orang beriman. Salat Jum’at hukumnya wajib yang merupakan hukum
asal. Hadis yang menerangkan salat Jum’at itu hukum asal adalah sebagaimana
hadis ketiga.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ: إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَلَا
تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ: صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ، قَالَ فَكَأَنَّ
النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا
مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ
أُخْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ. مسلم
Artinya: Dari
Abdullah bin Abbas, dia mengatakan kepada muazinnya ketika turun hujan, jika
engkau telah mengucapkan Asyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna
Muhammadan Rasulullah, maka janganlah kamu mengucapkan "Hayya alash
shalaah," namun ucapkanlah shalluu fii buyuutikum (salatlah
kalian di rumahmu masing-masing)." Abdullah bin Abbas berkata;
"Ternyata orang-orang sepertinya tidak menyetujui hal ini,” lalu ia
berkata; "Apakah kalian merasa heran terhadap ini kesemua? Padahal yang
demikian pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku. Salat Jum'at itu
‘Azmah (hukum asal), dan aku tidak suka jika harus membuat kalian keluar
sehingga kalian berjalan di lumpur dan becek." (HR. Muslim).
Melalui hadis
ketiga dapat kita ketahui bahwa salat Jum’at adalah ‘azmah (hukum asal).
Oleh karenanya, dapat diketahui bahwa kewajiban salat Jum’at adalah hukum asal.
Penegasan wajib yaitu selama manusia berakal, maka hukumnya wajib
melaksanannya. Apabila kewajiban tidak dilaksanakan, maka akan mendapat dosa.
Seperti salat fardu yang lain, salat Jum’at dikatakan wajib. Namun bukan
berarti harus dilaksanakan secara berjamaah. Sepertihalnya hadis di atas
menerangkan bahwa ketika hujan di hari Jum’at, Rasulullah SAW memerintahkan
muazin supaya menyeru shalluu fii buyuutikum (salatlah kalian
di rumahmu masing-masing). Hal tersebut menunjukkan bahwa salat Jum’at ketika
itu tidaklah dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Sebagian ulama berkata
bahwa bagi orang yang tidak mendatangi salat Jum’at, cukup baginya mengerjakan
dua rakaat saja. Hal tersebut menurut perintah asal dan bukan pengganti salat
Zuhur. Salat dulunya dikerjakan dua rakaat-dua rakaat sehingga turun perintah
penambahan jumlah rakaat sebagaimana disebutkan pada hadis berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ
عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ فَرَضَ
اللَّهُ الصَّلَاةَ حِينَ فَرَضَهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِي الْحَضَرِ
وَالسَّفَرِ فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَزِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, berkata, telah mengabarkan
kepada kami Malik, dari Shalih bin Kaisan, dari 'Urwah bin Az
Zubair, dari 'Aisyah Ibu kaum Mu'minin, ia berkata, "Allah
telah mewajibkan salat, dan awal diwajibkannya adalah dua rakaat dua rakaat,
baik saat mukim atau saat dalam perjalanan. Kemudian ditetapkanlah ketentuan
tersebut untuk salat safar (dalam perjalanan), dan ditambahkan lagi untuk salat
di saat mukim." (HR. Bukhari, no. 337).
Menurut hadis
di atas, mulanya jumlah rakaat salat wajib adalah dua rakaat-dua rakaat. Jumlah
dua rakaat itu baik mukim maupun dalam perjalanan. Kemudian ada ketetapan yang
mengharuskan penambahan jumlah rakaat salat saat kondisi mukim. Oleh karenanya
apabila dikembalikan ke hukum asal, maka yang berlaku adalah salat dua rakaat
di waktu zuhur saat hari Jum’at. Pengecualian ini karena ada perintah salat
Jum’at pada Surat Al Jumu’ah ayat 9. Selain itu, salat Jum’at sudah
dilaksanakan sebelum Rasulullah Hijrah. Dalil salat Jum’at dikerjakan dua
rakaat sebelum hijrah sebagaimana hadis berikut:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ
خَلَفٍ أَبُو سَلَمَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ عَنْ أَبِيهِ
أَبِي أُمَامَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كُنْتُ
قَائِدَ أَبِي حِينَ ذَهَبَ بَصَرُهُ فَكُنْتُ إِذَا خَرَجْتُ بِهِ إِلَى
الْجُمُعَةِ فَسَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ لِأَبِي أُمَامَةَ أَسْعَدَ بْنِ
زُرَارَةَ وَدَعَا لَهُ فَمَكَثْتُ حِينًا أَسْمَعُ ذَلِكَ مِنْهُ ثُمَّ قُلْتُ
فِي نَفْسِي وَاللَّهِ إِنَّ ذَا لَعَجْزٌ إِنِّي أَسْمَعُهُ كُلَّمَا سَمِعَ
أَذَانَ الْجُمُعَةِ يَسْتَغْفِرُ لِأَبِي أُمَامَةَ وَيُصَلِّي عَلَيْهِ وَلَا
أَسْأَلُهُ عَنْ ذَلِكَ لِمَ هُوَ فَخَرَجْتُ بِهِ كَمَا كُنْتُ أَخْرُجُ بِهِ
إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمَّا سَمِعَ الْأَذَانَ اسْتَغْفَرَ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ
فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَتَاهُ أَرَأَيْتَكَ صَلَاتَكَ عَلَى أَسْعَدَ بْنِ
زُرَارَةَ كُلَّمَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ بِالْجُمُعَةِ لِمَ هُوَ قَالَ أَيْ
بُنَيَّ كَانَ أَوَّلَ مَنْ صَلَّى بِنَا صَلَاةَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ مَقْدَمِ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَكَّةَ فِي نَقِيعِ
الْخَضَمَاتِ فِي هَزْمٍ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ قُلْتُ كَمْ كُنْتُمْ
يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعِينَ رَجُلًا. ابن ماجه
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Khalaf Abu Salamah berkata, telah
menceritakan kepada kami Abdul A'la, dari Muhammad bin Ishaq,
dari Muhamad bin Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dari bapaknya Abu
Umamah, dari 'Abdurrahman bin Ka'b bin Malik, ia berkata, "Aku
adalah pemandu Bapakku tatkala penglihatannya telah hilang. Jika aku keluar
dengannya untuk salat Jum'at dan ia mendengar azan, maka ia memintakan ampun
dan berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin Zurarah. Sejenak aku terdiam untuk
mendengarkannya, kemudian aku berguman di dalam hatiku, "Demi Allah, ia
(Bapakku) adalah orang yang lemah, setiap ia mendengar azan Jum'at dan meminta
ampun bagi Abu Umamah aku mendengarnya, namun aku tidak pernah bertanya kenapa
ia melakukan hal itu." Lalu aku berangkat bersama untuk salat Jum'at
sebagaimana biasa, ketika mendengar azan ia juga meminta ampun sebagaimana yang
biasa dilakukannya. Maka aku pun bertanya kepadanya, "Wahai Bapakku,
kenapa engkau selalu mendoakan As'ad bin Zurarah setiap kali engkau mendengar
azan pada hari Jum'at?" Ia menjawab, "Wahai putraku, dia adalah orang
yang pertama kali mengimami kami salat Jum'at sebelum kedatangan Rasulullah SAW
dari Makkah di Naqi' Al Khadlamat daerah gurun dataran rendah bani Bayadlah.
"Aku bertanya kembali, "Berapakah jumlah kalian saat itu?" ia
menjawab, "empat puluh orang” (HR. Ibnu Majah, no. 1072).
Hadis tadi
menunjukkan bahwa sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, salat Jum’at sudah
ditegakkan. Imam Asy-Syaukaniy dalam kitab Nailul Authar juz 3 hal. 274
mengatakan bahwa salat Jum’at itu diwajibkan kepada Nabi SAW di Makkah sebelum
hijrah. Namun belum bisa dilaksanakan karena adanya gangguan dari orang kafir.
Setelah ada sahabat Nabi SAW yang mendahului hijrah ke Madinah, lalu
diperintahkan kepadanya untuk salat Jum’at yang seterusnya dilaksanakan. Waktu
itu jumah orang yang mengerjakan salat Jum’at ada empat puluh orang. Melalui
hadis tadi dapat diambil keterangan bahwa salat Jum’at sudah dikerjakan sebelum
Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Salat Jum’at merupakan hukum asal. Barulah
ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, terdapat perintah penambahan jumlah
rakaat salat wajib. Hal tersebut sebagaimana hadis berikut:
نا أَحْمَدُ بْنُ نَصْرٍ
الْمُقْرِئُ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الصَّبَّاحِ الْعَطَّارُ الْبَصْرِيُّ قَالَ
أَحْمَدُ: أَخْبَرَنَا , وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: حَدَّثَنَا مَحْبُوبُ بْنُ
الْحَسَنِ، نا دَاوُدُ يَعْنِي ابْنَ أَبِي هِنْدَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ
مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: فَرْضُ صَلَاةِ السَّفَرِ وَالْحَضَرِ
رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، فَلَمَّا أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ زِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ رَكْعَتَانِ
رَكْعَتَانِ، وَتُرِكَتْ صَلَاةُ الْفَجْرِ لِطُولِ الْقِرَاءَةِ، وَصَلَاةُ
الْمَغْرِبِ لِأَنَّهَا وِتْرُ النَّهَارِ. ابن خزيمة
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Ahmad bin Nashr Al Muqri dan Abdullah bin
Ash-Shabah Al Aththar Al Bashri, Ahmad berkata: telah mengabarkan
kepada kami bahwa Abdullah berkata, Mahbub bin Al Hatan
menceritakan hadis kepada kami, Daud menceritakan kepada kami maksudnya Ibnu
Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq dari Aisyah,
ia berkata, “Salat saat safar dan salat saat tidak safar diwajibkan dua
rakaat-dua rakaat. Ketika Rasulullah SAW menetap di kota Madinah, salat saat
tidak bepergian ditambah dua rakaat-dua rakaat. Dan, salat subuh dibiarkan
dengan bacaan panjang serta salat maghrib, karena ia merupakan salat witir dari
waktu siang” (HR. Ibnu Khuzaimah, dalam Shahihnya no. 305).
Melalui hadis
di atas bisa dipahami bahwa penambahan rakaat salat Zuhur, Ashar, dan Isya’
terjadi ketika Nabi Muhammad SAW telah hijrah dan menetap di Madinah. Sehingga
bisa disimpulkan bahwa salat Jum’at merupakan hukum asal. Hadis kelima
derajatnya mu’allaq, hadis keenam derajatnya lemah karena ada rawi yang tidak
diketahui riwayat hidupnya (majhul) meskipun dengan syarat Imam Bukhari dan
Imam Muslim, hadis ketujuh jalurnya tidak mahfudz (terjaga), hadis kedelapan derajatnya
dlaif, hadis kesembilan derajatnya dlaif, hadis kesepuluh derajatnya dlaif,
hadis kesebelas ada rawi yang tidak dikenali riwayat hidupnya, dan hadis
keduabelas adalah hadis yang matruk. Hal
tersebut tidak bisa menjadi pembatas mengenai siapa saja yang dikecualikan
untuk tidak wajib melaksanakan salat Jum’at. Oleh karenanya, salat Jum’at itu
diwajibkan atas tiap orang mukalaf sebagaimana firman Allah surat Al Jumu’ah
ayat 9. Dengan demikian, ayat tersebut mentakhsiskan hadis-hadis yang memuat
keterangan golongan yang gugur kewajiban salat Jum’atnya. Sebagaimana
penjelasan singkat yang ada, penulis lebih condong pada pendapat pertama.
Pendapat
pertama yaitu, Jum’at merupakan nama hari dan nama salat. Hal itu
sebagaimana perkataan “jama’atun fulaanun” yang berarti si fulan salat
Jum’at. Kewajiban salat Jum’at itu bagi tiap-tiap mukalaf dan sah dikerjakan
oleh satu orang (tidak berjamaah). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Abdullah
bin Abbas, Dawud bin Ali Ad-Dhahiri, Qasyani, Hasan bin Shalih, dan disepakati
oleh Imam Ahmad Muhammad Syakir dalam komentarnya terhadap kitab Al Muhalla
karangan Ibnu Hazm Al-Andalusiy.
Wallahu
a’lam bish-shawab