Sunday, April 1, 2018

Kultum: Keutamaan Mencari Ilmu




Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Indonesia merupakan negara dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi satu jua. Keragaman di Indonesia semakin menambah kekayaan Indonesia itu sendiri. Keragaman tersebut diantaranya adalah keragaman agama, ras, golongan, budaya, dan bahasa. Salah satu manifestasi Bhineka Tunggal Ika pada ragam agama adalah diakuinya 6 agama di Indonesia dan bahkan aliran kepercayaan.  Agama Islam adalah salah satu agama yang diakui di Indonesia dan memiliki jumlah pemeluk yang terbanyak. Sebagai contoh di Provinsi Jawa Tengah, jumlah pemeluk Agama Islam menurut Badan Pusat Statistik Jawa Tengah mencapai 46.896.524 jiwa pada tahun 2010, tetapi data terbaru yang tercatat adalah 34.235.239 jiwa pada tahun 2015. Hal tersebut menunjukkan penurunan jumlah pemeluk Agama Islam selama kurun waktu lima tahun meskipun tetap menyandang predikat pemilik pemeluk terbanyak.

Faktor yang menyebabkan penurunan jumlah pemeluk Agama Islam selama kurun waktu lima tahun meliputi banyak hal, salah satunya adalah faktor kematian. Hal tersebut menjadi keprihatinan kita bersama bahwasanya semakin sedikitnya jumlah generasi pemeluk Agama Islam yang nantinya menggantikan generasi sebelumnya. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban kita sebagai kaum muslim untuk mempersiapkan diri hingga waktunya tiba menerima tongkat estafet generasi sebelumnya untuk terus menyiarkan dakwah Islam di bumi Indonesia. Persiapan yang bisa kita lakukan adalah dengan menunut ilmu Agama Islam. 

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap manusia. Terlebih-lebih kita sebagai umat Islam sudah semestinya paham mengenai agama yang kita anut. Tanpa ilmu kita tidak bisa menjalani hidup ini dengan baik. Secara umum, seseorang yang tidak memiliki ilmu biasanya akan di manfaatkan oleh orang lain. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, carilah ilmu demi kelangsungan hidup yang lebih baik. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan didalam Al Qur’an, Surat Az-Zumar ayat 9 sebagai berikut:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ، اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا اْلاَلْبَابِ. الزمر:9
Katakanlah (hai Muhammad): "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". [QS. Az-Zumar : 9]

Menuntut ilmu agama merupakan bagian dari ibadah, dimana setiap muslim diperintahkan untuk mempelajarinya, masing-masing sesuai kemampuan yang Allah berikan padanya. Ilmu agama merupakan lentera untuk meneragi sehingga kita mampu membedakan yang haq dan yang batil. Sebagaimana tertuang dalam Surat Ar-Ra’du ayat 16 sebagai berikut:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى اْلاَعْمٰى وَاْلبَصِيْرُ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَالنُّوْرُ. الرعد:16
Katakanlah (wahai Muhammad): "Adakah sama orang yang buta dan orang yang bisa melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang?" [QS. Ar-Ra'du : 16]

Melalui ilmu agama pula kita kita tahu jalan yang lurus, jalan yang diridhoi Allah , yaitu beragama Islam. Ilmu agama Islam telah mengajarkan kepada kita bahwasanya Allah-lah Yang Maha Esa dan kebenaran yang dibawa Rasulullah SAW adalah benar adanya. Seseorang yang menjadikan Firman Allah dan Sabda Rasul sebagai aturan/ hukum dalam seluruh aspek kehidupannya adalah ibarat orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Artinya, seseorang tersebut mendapat petunjuk jalan yang lurus. Sebagaimana yang termaktub dalam Surat Hud ayat 24 sebagai berikut:

مَثَلُ اْلفَرِيْقَيْنِ كَاْلاَعْمٰى وَاْلاَصَمِّ وَاْلبَصِيْرِ وَالسَّمِيْعِ، هَلْ يَسْتَوِيٰنِ مَثَلًا، اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ. هود:24
Perbandingan kedua golongan (orang-orang kafir dan orang-orang yang beriman) itu seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? [QS. Hud : 24]

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Berbagai pentingnya ilmu agama dalam setiap aspek kehidupan seorang hamba, maka terdapat beberapa keutamaan mencari ilmu agama Islam yaitu:

1)  Ilmu adalah cahaya
Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ {١٥} يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ {١٦}
15. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab1 yang menjelaskan.
16. Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus.  [QS.Al-Maidah:15-16]
Note:
1) Cahaya maksudnya Nabi Muhammad SAW, dan Kitab maksudnya Al Qur’an.

Kedua ayat ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu, yang disifatkan sebagai cahaya yang membimbing siapa saja yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan, berupa jalan yang menyelamatkan seorang hamba dari kesesatan, dan mengantarkan seorang hamba menuju keselamatan dunia dan akhirat, mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik, kegelapan sejelek-jelek perkara yang diada-adakan, kemaksiatan dan kejahilan, menuju kepada cahaya tauhid, ilmu, hidayah, ketaatan dan kebaikan.

Oleh karenanya, bila seseorang lebih condong mengikuti hawa nafsunya, gemar melakukan kemaksiatan, yang menyebabkan hatinya menjadi gelap, maka ilmu akan sulit menempati hati yang gelap tersebut, sulit memahami dan mengaplikasikan petunjuk Al Quran dan As Sunah dalam kehidupannya. Sebab tidak akan mungkin berkumpul jadi satu antara kegelapan maksiat dengan cahaya ilmu. 

2) Ilmu merupakan tanda kebaikan seorang hamba
Ketika seorang hamba diberi kemudahan untuk memahami dan mempelajari ilmu agama, itu menandakan bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi hamba tersebut, dan membimbingnya menuju kepada hal-hal yang diridhai-Nya.

Kemudahan dalam memahami dan mempelajari ilmu agama membuat kehidupan seorang hamba menjadi berarti, memiliki masa depannya cemerlang, dan kenikmatan yang tak pernah dirasakan di dunia pun akan diraihnya. Sebagaimana hadis berikut:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ اَبِى سُفْيَانَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ. مسلم 3: 1524
Dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Allah akan memberinya kefahaman dalam agama". [HR. Muslim juz 3, hal. 1524]

Bagi seorang muslim yang yakin dengan petunjuk Rasulullah SAW, tentu saja sangat berkeinginan untuk andil dalam mendapatkan kebaikan yang dijanjikan Allah Ta’ala bagi para penuntut ilmu agama tersebut.

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Oleh sebab itu marilah kita sebagai hamba senantiasa berusaha menjadi orang-orang yang dimuliakan Allah SWT, dengan mempelajari agama Allah dan mengajarkannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda didalam hadis berikut:

عَنْ عُثْمَانَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاٰنَ وَعَلَّمَهُ. البخارى 6: 108
Dari 'Utsman (bin 'Affan) RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya". [HR. Bukhari juz 6, hal. 108]

3) Gemar menuntut ilmu agama menyelamatkan dari siksa Allah
Mencari ilmu agama adalah suatu kebutuhan bagi setiap hamba untuk mengetahui tentang petunjuk yang disampaikan oleh Allah dalam firman-Nya dan ketetapan-ketetapan Rasulullah. Disebutkan dalam sebuah hadis berikut:

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ اْلعِلْمِ فَهُوَ فيِ سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ. الترمذى 4: 137، رقم: 2785، هذا حديث حسن غريب
Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang keluar (bepergian) untuk menuntut ilmu, maka ia termasuk berjuang di jalan Allah, hingga ia kembali". [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 137, no. 2785, ia berkata : Ini hadits hasan gharib]

Melalui hadis tersebut bisa kita bisa mengerti bahwa apabila seorang hamba tengah berpergian mencari ilmu agama, maka hamba tersebut termasuk orang-orang yang berjalan di jalan Allah. Ilmu yang diperoleh seorang hamba tersebut akan menghindarkannya dari siksa Allah. Dalam hadis disebutkan bahwa:

عَنْ اَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: اُغْدُ عَالِمًا اَوْ مُتَعَلِّمًا اَوْ مُسْتَمِعًا اَوْ مُحِبًّا لَا تَكُنِ اْلخَامِسَ فَتَهْلِكَ. البيهقى فى شعب الايمان 2: 265، رقم: 1709
Dari Abu Bakrah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Jadilah kamu orang yang pandai (mengetahui), atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan, atau orang yang senang (cinta), janganlah kamu menjadi orang yang kelima, maka kamu akan celaka”. [HR. Baihaqi dalam kitab Syu’abul iimaan, juz 2, hal, 265, no, 1709]

Melalui hadis tersebut terdapat lima macam orang yang satu diantaranya akan celaka atau mendapat siksa. Empat diantaranya adalah orang yang pandai/ mengetahui, orang yang sedang belajar, orang yang mendengarkan, dan orang yang senang bila mendengarkan pelajaran dari Allah SWT dan Rasulullah SAW. Tetapi ada satu macam orang yang celaka, yaitu orang yang tidak mengetahui, tidak belajar, tidak mendengarkan ayat-ayat firman Allah dan sabda-sabda Rasulullah, dan justru malah membenci apabila Al Qur’an dan As Sunnah dikaji. Itulah sebab orang kelima ini yang mendapat celaka dari Allah SWT.

4) Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga
Menuntut ilmu membuat hamba dipermudah jalannya menuju surga. Sebab dengan ilmu, seseorang mampu memilih jalan yang akan menghantarkannya ke surga abadi. Melalui ilmu, seseorang mampu mebedakan mana yang haq dan mana yang batil, mana ketauhidan dan mana kesyrikan, mana halal dan mana yang haram, mana yang syariat dan mana perkara yang diada-adakan. Disebutkan dalam hadis berikut:

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا اِلَى الجَنَّةِ. الترمذى 4: 137، رقم: 2784، وقال: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga". [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 137, no. 2784, ia berkata : Ini hadits hasan]

Oleh karenanya, bila seorang yang keluar untuk menuntut ilmu, akan menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga. Alasanya adalah bila seorang muslim mempelajari agamanya dengan penuh keikhlasan dan pemahaman yang mendalam, maka seorang hamba itu akan berusaha mengamalkan apa yang telah diketahuinya dari ilmu tersebut. Sehingga antara ilmu dan beramal secara ikhlas, seseorang tersebut kemudian menjadi hamba yang diridhai-Nya, dan tiada balasan dari Allah bagi hamba-Nya itu melainkan surga.

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.



Demikian yang bisa saya sampaikan. Semoga bisa menjadi pengingat bagi diri saya dan bermanfaat bagi jamaah secara umum. Semoga kita bisa memetik pelajaran dan tergolong hamba-Nya yang taat dan tergolong umat Rasulullah yang patuh dengan tidak keluar batas dengan mengedepankan hawa nafsu. Melalui kepahaman dalam ilmu agama, harapannya kita sebagai calon generasi penerus bisa mempersiapkan diri menjadi generasi yang sholih dan sholihah. Minimal dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat umum, sehingga agama Islam dan syiarnya tetap berkumandang di Negeri Indonesia.


Sunday, January 28, 2018

Kultum: Semangat Beramal





Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.
Momen pergantian tahun yang lalu masih teringat dalam benak kita. Momen tersebut kita gunakan untuk bermuhasabah dengan menghitung-hitung amal kebaikan dan keburukan masing-masing dari diri kita pada setahun terakhir. Bagaimana hasil evaluasi yang kita lakukan tentunya sebagai bahan motivasi untuk memacu semangat kita dalam beribadah dan beramal sholih. Hal tersebut diupayakan agar timbangan kebaikan kita akan lebih berat. Dalam hadist disebutkan:
عَنْ اَبِي ذَرٍّ قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. الترمذى
Dari Abu Dzarr, ia berkata: Rasulullah SAW berabda kepadaku, “Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya perbuatan yang baik itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 239, no. 2053. Ini hadits hasan shahih]

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.
Islam merupakan agama yang memotivasi agar umatnya memiliki semangat beramal yang tinggi serta menyibukkan diri dalam kebaikan. Islam juga menyeru agar kita menjauhkan diri dari permasalahan-permasalahan yang tidak bermanfaat. Salah satu motivasi yang tertulis di dalam Al Quran adalah termaktub pada Surat Ali Imran ayat 133:
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.
133. Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Motivasi dalam upaya menggapai cita-cita tentunya perlu perjuangan. Berbagai perjuangan yang bisa kita lakukan adalah dengan berusaha mengerjakan perbuatan baik secara maksimal dan senantiasa berdoa. Kita sebaiknya bersegera dalam melakukan perbuatan amal sholih. Oleh karena itu sebagai renungkan kita pada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al Anbiya ayat 90:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسٰرِعُونَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خٰشِعِينَ.
90. Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebajikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.
Allah telah memberi petunjuk kepada kita bahwa apabila kita beramal sholih dijalan-Nya, maka Allah akan memberi ganjaran yang berlipat ganda. Satu kebaikan akan diganjar oleh Allah sebanyak 700 kali lipat. Sepertihalnya bila kita berinfak sebanyak Rp. 2000,00 secara ikhlas semata-mata mencari rida Allah, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya sebanyak 700 kali lipat, dan belum lagi amal sholih lain yang kita lakukan. Allah telah berfirman yang terabadikan didalam Surat Al Baqarah ayat 261 sampai 263, yaitu:
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللهُ يُضٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَاللهُ وٰسِعٌ عَلِيمٌ  {٢٦١} الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ اللهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَآ أَنفَقُوا۟ مَنًّا وَلَآ أَذًى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ {٢٦٢} قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَآ أَذًى ۗ وَاللهُ غَنِىٌّ حَلِيمٌ {٢٦٣}
261. Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha mengetahui.
262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang di infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
263. Perkataan yang baik dan pemberian maaf1 lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun.
Note:
1) Perkataan yang baik, menolak dengan cara yang baik, dan pemberian maaf ialah memaafkan tingkah laku yang kurang sopan dari peminta.

Oleh sebab itu, amal sholih yang kita lakukan dijalan Allah adalah agar kita bisa memetiknya dikemudian hari. Seperti pepatah jawa yaitu, sopo nandur bakal ngunduh. Begitu pula dengan apa yang kita lakukan didunia ini. Dunia merupakan penjara sekaligus ladang amal bagi insan beriman sebagai bekal menghadap-Nya di hari perhitungan kelak. Jangan sampai mengira membawa begitu banyak amal yang dibawa kehadapan Allah, tetapi setelah ditimbang ternyata amalan yang dilakukan adalah sia-sia. Kita seharusnya beramal sholih dengan hanya mengharap rida Allah. Hal itu seperti yang dijelaskan dalam Al Quran Surat Al Baqoroh ayat 264 sampai 265:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقٰتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَاللهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِينَ {٢٦٤} وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوٰلَهُمُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۭ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَـَٔاتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ{٢٦٥}
264. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaan (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu licin itu tadi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apapun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
265. Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya karena mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.

Perlu kita memperhatikan apa yang kita perbuat agar kita tidak termasuk orang yang pailit atau rugi di hari perhitungan nanti. Usahakan apa yang dilakukan adalah semata-mata untuk mengharap rida Allah dan tidak mencaci orang lain, mengambil hak orang lain. Sebab bila larangan tersebut dilakukan, pahala yang diupayakan seseorang didunia lalu dibawa di hari perhitungan akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Beberapa hal yang diperhatikan tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam hadist berikut:
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَ لَا مَتَاعَ. فَقَالَ: اِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ اُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَ صِيَامٍ وَ زَكَاةٍ وَ يَأْتِى قَدْ شَتَمَ هٰذَا، وَ قَذَفَ هٰذَا، وَ اَكَلَ مَالَ هٰذَا وَ سَفَكَ دَمَ هٰذَا، وَ ضَرَبَ هٰذَا، فَيُعْطَى هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَ هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَاِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ اَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ اُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ. مسلم 4: 1997
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Tahukah kalian siapakah orang yang disebut pailit itu?" Jawab para shahabat, "Orang yang pailit diantara kami ialah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya barang-barang". Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya orang yang pailit dari ummatku ialah orang yang datang pada hari qiyamat lengkap dengan membawa (pahala) shalatnya, puasanya dan zakatnya. Tetapi di samping itu ia telah mencaci ini, dan menuduh ini, memakan hartanya ini, dan menumpahkan darahnya ini, dan memukul ini, maka diberikan kepada orang yang dianiaya itu dari (pahala) kebaikan amalnya, dan kepada orang yang lainnya lagi (dari pahala) kebaikan amalnya. Maka apabila telah habis (pahala) kebaikannya itu dan belum terbayar semua tuntutan orang-orang yang pernah dianiaya tersebut, maka diambilkan dari dosa-dosa orang yang telah dianiaya itu dan ditanggungkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka". [HR. Muslim juz 4, hal 1997]

Penyakit dengki dan benci juga bisa membuat amal seorang insan beriman itu sia-sia. Hal tersebut dijelaskan dalam hadist berikut:
عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ اْلعَوَّامِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: دَبَّ اِلَيْكُمْ دَاءُ اْلاُمَمِ قَبْلَكُمْ. اْلحَسَدُ وَاْلبَغْضَاءُ. وَاْلبَغْضَاءُ هِيَ اْلحَالِقَةُ. حِالِقَةُ الدِّيْنِ، لَا حَالِقَةُ الشَّعْرِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا، اَفَلَا اُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ اِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ اَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ. احمد 1: 348، رقم: 1412
Dari Zubair bin 'Awwaam RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Akan menjalar kepada kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian, yaitu dengki dan kebencian yang sangat. Dan kebencian yang sangat itu adalah pencukur. Pencukur agama, bukan pencukur rambut. Demi Tuhan yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalian tidaklah beriman sehingga kalian berkasih sayang. Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian melakukannya niscaya kalian saling berkasih sayang? Tebarkanlah salam diantara kalian”. [HR. Ahmad juz 1, hal. 348, no. 1412]

Selain itu ada hal fatal yang mampu merusak amal bila dilakukan seorang muslim, yaitu syirik. Mempersekutukan Allah merupakan dosa yang besar. Hal tersebut dijelaskan didalam Surat Al Anam ayat 88:
   ذٰلِكَ هُدَى اللَّـهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ.
88. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.
.
Semangat dalam beramal jangan sampai membuat kita menerjang ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Didalam Agama Islam, kita perlu memperhatikan rambu-rambu dari Allah dan Rasulullah dalam beramal sholih. Hal tersebut perlu kita perhatikan karena kita sebagai hamba tidak lebih pandai dari Allah dan Rasulullah. Dalam urusan agama Islam memang kita diperintahkan untuk ber-hujjah atau berlandaskan firman Allah dan sabda Rasulullah. Hal tersebut kita ingat-ingat benar agar tidak terjebak dalam amalan-amalan yang tidak diperintahkan Allah dan amalan-amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah. Sebagaimana tertuang dalam Surat Al Hujurat ayat 1 sampai 3, yaitu:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ اللَّـهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {١} يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ  {٢} إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوٰتَهُمْ عِندَ رَسُولِ اللَّـهِ أُو۟لٰٓئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّـهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ {٣}
1. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya2 dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha mengetahui.
2. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalanmu bisa terhapus, sedangkan kamu tidak menyadari.
3. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
Note:
2) Maksudnya, orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya.

Oleh sebab itu marilah berpegang teguh kepada tali agama Allah agar selamat di dunia dan di akhirat. Marilah taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta senantiasa meningkatkan amal sholih kita agar timbangan kebaikan kita lebih berat. Upayakan semaksimal mungkin untuk menjahui hal-hal yang dapat merusak dan bahkan menghapus amalan kita dari catatan kebaikan. Pada akhirnya amalan yang kita perbuat tergantung pada niat. Sebagaimana dalam hadist berikut:
عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلىَ دُنْيَا يُصِيْبُهَا اَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلىَ مَا هَاجَرَ اِلَيْهِ. البخارى 1: 2
Dari Umar bin Khaththab RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang berhijrah karena menginginkan keuntungan dunia yang akan didapatnya atau karena menginginkan wanita yang dia akan mengawininya, maka hijrahnya itu akan mendapatkan sesuai apa yang ia berniat hijrah padanya". [HR. Bukhari juz 1, hal. 2]