Sunday, January 7, 2018

Kultum: Muhasabah Diri





Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Momen pergantian tahun masehi dari 2017 ke tahun 2018 pada umumnya merupakan momen selebrasi. Momen tersebut biasanya diisi dengan berbagai kegiatan. Namun sebagian besar pemuda-pemudi cenderung lebih suka mengisi momen pergantian tahun dengan memadati mal-mal, nonton ke bioskop, nyanyi ditempat karaoke, nongkrong di cafe, dan kongkow-kongkow dijalan hingga larut malam dan bahkan sampai pagi. Semakin parah bila momen pergantian tahun dilengkapi dengan minum-minuman keras yang bahkan sampai peminumnya ndleming-ndleming, konsumsi berbagai narkoba, dan kegiatan lain yang justru merusak diri sendiri dan merugikan/ mengganggu orang lain.

Melihat fenomena tersebut semestinya menggugah kita bahwa momen pergantian tahun sebaiknya merupakan momen yang tepat untuk kita sebagai insan beriman untuk melakukan berbagai kegiatan yang berfaedah seraya bermuhasabah. Muhasabah merupakan sesuatu hal yang perlu dan menjadikannya sebuah kebutuhan pada tiap-tiap insan manusia. Dalam agama Islam, muhasabah sangatlah dianjurkan, sebab bila muhasabah bisa dijalankan dengan baik akan memberi banyak manfaat baik yang akan di dapatkan di dunia maupun diakhirat kelak.

Makna dari muhasabah dalam terminologi syari ialah sebuah upaya untuk melakukan evaluasi diri/ menghitung-hitung terhadap setiap kebaikan dan keburukan beserta berbagai aspeknya. Evaluasi meliputi hubungan seorang hamba (manusia) dengan Rabb-nya, maupun hubungan sesama makluk ciptaan Allah dalam kehidupan sosial yaitu hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Telah tersuratkan dalam Al Quran mengenai makna hakekat muhasabah seperti yang ada dalam surat Al Hasyr ayat 18, yaitu:
  يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اتَّقُوا۟ اللَّـهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ.
18. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Muhasabah dapat diartikan mengintropeksi diri sendiri sebagai seorang manusia dengan menghitung berbagai perbuatan yang pernah dilakukan di masa-masa lampau. Manusia beruntung adalah manusia yang senantiasa memperbaiki diri dan selalu mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang kekal abadi kelak di akhirat. Hakikat keberuntungan dan kesuksesan ialah manusia yang selamat di yaumul akhir kelak.

Seorang hamba yang senantiasa bermuhasabah maka tidak akan menyianyiakan waktu yang telah Allah berikan didalam kehidupan, dan disisa umurnya seorang hamba akan dengan sebaik-baiknya memanfaatkan waktunya untuk berbuat baik demi meraih keridhaan Allah SWT.

Dengan datangnya momen pergantian tahun membuat umur kita menjadi bertambah. Namun pada hakikatnya kesempatan hidup kita di dunia ini semakin berkurang. Berkurangnya umur kita berarti semakin dekat kita dengan kubur.

Allah senantiasa melimpahkan nikmatnya kepada kita dengan berbagai nikmat yang kita tidak akan mungkin menghitungnya. Hal tersebut sebagaimana termaktub dalam surat Ibrahim ayat 34:
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَآ.
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. [QS. Ibrahim: 34]

Diantara nikmat yang banyak Allah curahkan kepada kita adalah kita hidup di dunia ini. Dunia memang tampak indah dan menarik, akan tetapi jangan sampai membuat kita lengah, dan lupa kepada Allah yang menciptakan segala sesuatu. Allah berfirman pada surat Al Hadiid ayat 20, yaitu:
اعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْأَمْوٰلِ وَالْأَوْلٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطٰمًا ۖ وَفِى الْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّـهِ وَرِضْوٰنٌ ۚ وَمَا الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَآ إِلَّا مَتٰعُ الْغُرُورِ.
20. Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warna kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.  

Oleh karena itu, marilah sejenak bermuhasabah dengan melihat apa yang kita lakukan setahun yang lalu. Banyak hal terjadi hingga ada yang masih teringat oleh kita dan ada pula hilang dari ingatan kita. Kemudian mari lihat diri kita masing-masing sekarang ini. Berikut ada beberapa aspek yang perlu kita perhatikan:

1.     Keduniaan maju, tapi nilai uhrowi turun
Apabila seseorang maju dalam keduniawian dengan bertambahnya dan melimpahnya harta benda yang dimiliki tetapi nilai uhrowi menurun, hendaklah segera sadar sebelum menyesal dikemudian hari. Sebab harta benda yang dimiliki akan lenyap dan harta benda bukanlah hal yang kekal. Segeralah sadar dengan memperbaiki diri dan berupaya meningkatkan nilai uhrowi. Sebagaimana dalam surat An Nahl ayat 96, yaitu:
مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّـهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ.
96. Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

2.     Uhrowi meningkat, tapi duniawi berkurang
Bila seseorang memiliki nilai uhrowi meningkat tetapi dalam hal harta benda berkurang merupakan suatu pertanda baik. Oleh sebab itu peliharalah nilai uhrowi tersebut, upayakan untuk meningkatkannya. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Hajj ayat 11, yaitu:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّـهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْءَاخِرَةَ ۚ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ.
11. Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi1; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang2. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.
Note:
1) Tidak penuh dengan keyakinan
2) Kembali kafir lagi

3.     Besarnya nilai uhrowi
Tercabutnya nikmat duniawi yang meliputi berkurangnya harta benda, kekayaan yang dimiliki itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan berbagai nikmat uhrowi. Hal itu sebagaimana dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 91, yaitu:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِۦٓ ۗ أُو۟لٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نّٰصِرِينَ.
91. Ssungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidaklah akan diterima (tebusan) dari seseorang diantara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang lebih pedih dan tidak memperoleh penolong.

4.     Pengaruh nilai uhrowi
Nilai uhrowi yang tercabut berpengaruh sangat besar dalam kehidupan. Dampaknya bukan hanya menimpa diri sendiri, tetapi juga akan dirasakan oleh segenap keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu peliharalah diri sendiri, keluarga dan masyarakat pada umumnya dari turunnya nilai uhrowi ini. Seperti yang tertulis dalam Al Quran surat Al Anfal ayat 25, yaitu:
وَاتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَاعْلَمُوٓا۟ أَنَّ اللَّـهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.
25. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.

5.     Retaknya persaudaraan sesama muslim
Retaknya hati dan persaudaraan dengan sesama saudara seiman justru akan memperlemah diri sendiri dan umat. Kita sebaiknya mempererat hubungan sesama muslim dengan tidak berbantah-bantahan dan kembali ke jalan yang lurus, yaitu Al Quran dan As Sunnah. Sebagaimana tertulis dalam Al Quran surat Al Anfal ayat 46, yaitu:
وَأَطِيعُوا۟ اللَّـهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ.
46. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

Melalui muhasabah diri ini, kita diharapkan mampu memperbaiki diri dengan memupuk nilai uhrowi pada diri kita dan berbuat baik terhadap sesama. Hal tersebut kita lakukan semaksimal mungkin dengan senantiasa bertawakal kepada-Nya. Rasulullah SAW berpesan kepada kita semua bahwasannya supaya kita bertakwa kepada Allah dimana saja kita berada. Dalam hadist desebutkan sebagai berikut:
عَنْ اَبِي ذَرٍّ قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. الترمذى
Dari Abu Dzarr, ia berkata: Rasulullah SAW berabda kepadaku, “Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya perbuatan yang baik itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 239, no. 2053. Ini hadits hasan shahih]

Sunday, November 26, 2017

Kultum: Bahaya Lisan





Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Manusia dalam kehidupan sehari-hari saling berinteraksi antara satu dengan yang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Fenomena tersebut membuat ilmuwan terdahulu yaitu Aristoteles berpendapat bahwa manusia adalah makhluk zoon politicon, yang maksudnya manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Interaksi bisa diartikan suatu tindakan yang terjadi bila dua pihak atau lebih manusia saling mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. 

Pada pengertian lain, interaksi merupakan suatu peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, yang kemudian berkomunikasi satu sama lain. Masyarakat pada umumnya berkomunikasi secara lisan atau verbal yang mudah dimengerti. Komunikasi sendiri artinya adalah suatu proses penyampaian informasi baik pesan, ide, dan gagasan dari satu pihak ke pihak lain. Dalam penyampaian informasi, manusia acap kali kebablasan sehingga timbullah berbagai informasi yang tidak benar dan tidak patut untuk disebarluaskan.

Berbagai persitiwa kebablasan dalam penyampaian informasi berdampak bagi seseorang, kelompok atau pihak-pihak tertentu. Dalam koridor Islam, hal tersebut telah diatur supaya manusia tidak terpeleset menjadi orang yang dhalim. Sebab Islam tidak hanya mengatur urusan beribadah tetapi juga termasuk didalamnya adalah bermuamalah. Dengan demikian, dalam bermuamalah kita perlu memperhatikan rambu-rambu dari Alloh SWT dan Rasulullah SAW. Sehingga pada suatu pertemuan kita mampu menghindari pembicaraan yang berupa suudzon, tajassus, ghibah, dan namimah. Perintah tersebut disebutkan dalam Al Quran Surat Al Hujurat (49) ayat 11:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِالْأَلْقٰبِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُونَ.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (memperolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang memperolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim. [QS. Al-Hujurat : 11]

Dalam ayat tersebut telah tertulis jelas bahwa kita dilarang untuk mengolok-olok orang lain karena bisa jadi mereka lebih baik dari kita dan perintah untuk tidak mencela diri sendiri serta memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk. Agar kita tidak termasuk orang-orang yang dhalim, maka perlu kita ketahui bersama apa itu suudzon, tajassus, ghibah, dan namimah.

1.    Suudzon
Suudzon artinya adalah prasangka buruk. Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya. Berbagai prasangka terlintas didalam pikiran misalnya, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian. Parahnya, persangkaan tersebut tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat suka curiga dan penuh sangka seseorang kepada orang lain, lalu membiarkan zhan (dugaan) tersebut bersemayam di dalam hati dan bahkan membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal suudzon kepada sesama kaum muslimin tanpa ada alasan/ bukti merupakan perkara yang terlarang.
Larangan tersebut tertuang dalam Surat Al-Hujurat (49) ayat 12 sebagai berikut:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mempergunjingkan sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Hujurat : 12]

Dan dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِيَّاكُمْ وَ الظَّنَّ فَاِنَّ الظَّنَّ اَكْذَبُ اْلحَدِيْثِ. وَ لاَ تَحَسَّسُوْا وَلاَ تَجَسَّسُوْا وَلاَ تَنَافَسُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَ لاَ تَبَاغَضُوْا وَ لاَ تَدَابَرُوْا، وَ كُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ اِخْوَانًا. مسلم 4: 1985
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Jauhkanlah diri kalian dari berprasangka (buruk), karena prasangka (buruk) itu adalah sedusta-dusta perkataan (hati), janganlah kalian mendengar-dengarkan (pembicaraan orang lain) dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kalian bersaing yang tidak sehat, janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling membenci dan janganlah saling membelakangi. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1985]

2.    Tajassus
Tajassus merupakan mencari-cari kesalahan orang lain, terutama yang terus ingin dicari aibnya adalah orang-orang beriman. Larangan tajassus sudah termaktub dalam Surat Al-Hujurat (49) ayat 12 dan hadist tadi. Allah SWT melarang kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Entah itu dengan menyelidikinya secara langsung atau dengan bertanya kepada temannya. Tajassus biasanya merupakan kelanjutan dari prasangka buruk sebagaimana yang Allah SWT dan Rasulullah larang dalam beberapa kalimat sebelum pelarangan sikap tajassus.

3.    Ghibah
Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama, kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang seseorang tersebut tidak suka bila hal itu disebutkan. Hal tersebut dilakukan dengan cara membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal ghibah adalah sesuatu yang keji dan kotor. Pengertian ghibah terdapat pada hadist berikut:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَ تَدْرُوْنَ مَا اْلغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اَللهُ وَ رَسُوْلُهُ اَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ اَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيْلَ: اَفَرَأَيْتَ اِنْ كَانَ فِى اَخِى مَا اَقُوْلُ؟ قَالَ: اِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَ اِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ. مسلم 4: 2001
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda (kepada para shahabatnya), “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “(Ghibah) ialah kamu menyebut tentang saudaramu dengan apa-apa yang dia tidak suka”. Ada yang bertanya kepada beliau, “Bagaimana pendapat engkau jika keadaan saudaraku itu memang betul-betul seperti apa yang aku katakan?”. Rasulullah SAW bersabda, “Jika keadaan saudaramu itu betul seperti apa yang kamu katakan, maka sungguh kamu telah berbuat ghibah kepadanya. Dan jika (apa yang kamu katakan itu) tidak ada padanya, maka berarti kamu telah berbuat buhtan (kebohongan) kepadanya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2001]

4.    Namimah
Namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara. Alloh tidak suka kepada orang yang menyebarkan berita yang dasarnya hanya "katanya dan katanya" untuk tujuan adu domba, dan Allah SWT berfirman:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ. هَمَّازٍ مَّشَّآءٍۭ بِنَمِيمٍ. مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ. عُتُلٍّۭ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيمٍ.

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian-kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya. [QS. Al-Qalam (68): 10-13].

Orang yang melakukan namimah tidak akan masuk surga. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadist berikut:

عَنْ هَمَّامِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ: كُنَّا جُلُوْسًا مَعَ حُذَيْفَةَ فِى الْمَسْجِدِ. فَجَاءَ رَجُلٌ حَتَّى جَلَسَ اِلَيْنَا. فَقِيْلَ لِحُذَيْفَةَ: اِنَّ هَذَا يَرْفَعُ اِلَى السُّلْطَانِ اَشْيَاءَ. فَقَالَ حُذَيْفَةَ اِرَادَةَ اَنْ يُسْمِعَهُ: رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ. مسلم 1: 101
Dari Hammam bin Harits, ia berkata: Dahulu ketika kami sedang duduk bersama Hudzaifah di masjid, datanglah seorang laki-laki ikut duduk diantara kami, lalu dikatakan kepada Hudzaifah, “Sesungguhnya orang ini suka melaporkan omongan-omongan kepada penguasa”. Maka Hudzaifah berkata agar didengar orang tersebut: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka berbuat namimah”. [HR. Muslim juz 1, hal 101]

Oleh sebab itu kita sebagai kaum muslim semestinya berhati-hati dalam berinteraksi. Jangan hanya karena miskomunikasi, umat jadi terpecah belah. Kita sebagai umat Islam diperintahkan untuk taat kepada Alloh dan Rasul-Nya, serta tidak berbantah-bantahan karena justru akan memperlemah umat. Hal tersebut sebagaimana dalam surat Al Anfaal (8) ayat 46: 

وَأَطِيعُوا۟ اللَّـهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ.
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [QS. Al-Anfaal : 46]

Seorang muslim merupakan saudara bagi muslim lainnya. Hal tersebut dijelaskan dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. [QS. Al-Hujurat: 10]