Wednesday, August 2, 2017

Tutorial Wudu




Bersuci merupakan hal penting dalam implementasi Rukun Islam yang kedua di kehidupan sehari-hari, yaitu salat. Seorang muslim dengan seorang non-muslim yang membedakannya adalah salat. Dalam ibadah salat, sangat erat sekali hubungannya dengan wudu. Salat seseorang akan tidak sah apabila wudunya tidak sempurna. Oleh karena itu kita harus memperhatikan sejak dari wudu untuk memperoleh salat yang sah. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT:


ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلَوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَ اَيْدِيَكُمْ اِلَى اْلمَرَافِقِ وَ امْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَ اَرْجُلَكُمْ اِلَى اْلكَعْبَيْنِ. المائدة:6
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki ... [QS. Al-Maidah : 6]


Ayat tersebut menerangkan bahwa orang yang hendak salat (dan berhadats kecil) wajib hukumnya untuk berwudu dalam keadaan yang normal. Adapun tata cara berwudu atau umumnya ditulis wudhu/ wudlu, berdasar sunah-sunahnya adalah sebagai berikut: (1) membaca basmalah; (2) membasuh dua tangan sampai pergelangan; (3) berkumur dan menaikkan air ke hidung, lalu menghembuskannya; (4) membasuh muka hingga rata; (5) membasuh kedua tangan hingga siku-siku sampai rata; (6) mengusap kepala dengan air yang ada pada kedua telapak tangan dan langsung telinga sebanyak satu kali; (7) membasuh kaki hingga mata kaki dan meratakannya; (8) membaca syahadat. Adapun penjelasan tata cara wudu beserta sunah-sunahnya ialah sebagai berikut:


1.       Membaca Basmalah
Sebelum berwudu hendaknya mengucap basmalah terlebih dahulu. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis berikut:


 عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رض. قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ وَ لاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ. ابن ماجه 1: 140
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,  “Tak ada salat bagi orang yang tidak berwudu, dan tidak ada wudu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah atasnya”. [HR. Ibnu Majah 1 : 140].

Hadis tersebut menerangkan bahwa kita diperintahkan untuk mengucap basmalah sebelum berwudu sebagai wujud menyebut asma Allah SWT.


2.       Membasuh Dua Tangan Sampai Pergelangan
Basuh kedua telapak tangan dengan air hingga pergelangan dengan mendahulukan yang kanan. Hal tersebut berdasarkan hadis berikut:


عَنْ اَوْسِ بْنِ اَوْسٍ الثَّقَفِيّ رض قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص تَوَضَّأَ فَاسْتَوْكَفَّ ثَلاَثًا أَيْ غَسَلَ كَفَّيْهِ. احمد و النسائى، فى نيل الاوطار 1: 162
Dari Aus bin Aus Ats-Tsaqafiy RA, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW berwudu, maka beliau memulai dengan membasuh telapak tangannya tiga kali, yaitu mencuci dua telapak tangan beliau”. [HR. Ahmad dan Nasai, dalam Nailul Authar 1 : 162]


3.       Berkumur dan menaikkan air ke hidung, lalu menghembuskannya
Caranya adalah dengan mengambil air seciduk dengan telapak tangan kemudian sebagian air digunakan untuk berkumur dan sebagian dinaikkan untuk dimasukkan ke hidung. Hal tersebut sebagaimana hadis berikut:


عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: اَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص بِاْلمَضْمَضَةِ وَ اْلاِسْتِنْشَاقِ. الدارقطنى، فى نيل الاوطار 1: 170
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW menyuruh berkumur dan menghirup air ke hidung”. [HR. Daruquthni, dalam Nailul Authar 1 : 170]


4.       Membasuh muka hingga rata
Caranya adalah dengan mengambil air dengan dua telapak tangan, lalu dibasuhkan ke muka sampai merata. Dasar hadisnya ialah sebagai berikut:


عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى اْلمَازِنِيِّ رض قَالَ: قِيْلَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ يَوْمًا: تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوْءَ رَسُوْلِ اللهِ ص: فَدَعَا بِاِنَاءٍ فَاَكْفَأَ مِنْهُ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثًا، ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ مِنْ كَفًّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذلِكَ ثَلاَثًا، ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا، ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ اِلَى اْلمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ، ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَاَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَ اَدْبَرَ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ اِلَى اْلكَعْبَيْنِ، ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا كَانَ وُضُوْءَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ. احمد و البخارى و مسلم
Dari ‘Amr bin Yahya Al-Mazani RA, ia berkata, “Pada suatu hari ada orang meminta kepada ‘Abdullah bin Zaid supaya menerangkan (memberi contoh) tentang wudunya Rasulullah SAW. Maka ‘Abdullah bin Zaid meminta bejana berisi air lalu menuangkan air atas kedua tangannya dan membasuhnya tiga kali. Sesudah itu beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana untuk menceduk air dan berkumur-kumur, menghirupnya ke hidung dan menghembuskannya, dari satu telapak tangannya, beliau mengerjakan tangannya lagi ke dalam bejana untuk menciduk air dan terus membasuh mukanya tiga kali, sesudah itu beliau memasukkan tangannya untuk menceduk air dan membasuh kedua tangan hingga siku dua kali. Sesudah itu, beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu mengeluarkannya dan menyapu kepala dengan dua tangannya ke depan dan ke belakang (beliau mengusapkan kedua tangannya sampai ke belakang hingga ke tengkuk dan mengembalikan ke muka lagi). Sesudah itu beliau membasuh kakinya hingga dua mata kaki. Kemudian beliau berkata, “Beginilah wudunya Rasulullah SAW”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].


5.       Membasuh kedua tangan hingga siku-siku sampai rata
Caranya adalah dengan mengambil seciduk air dengan telapak tangan kanan atau dengan dua tangan untuk mencuci tangan kanan dengan rata sampai siku-siku. Lalu ambil seciduk air dengan tangan kiri atau dengan dua tangan untuk mencuci tangan kiri dengan rata sampai siku-siku. Hal tersebut sebagaimana ‘Abdullah bin Zaid dalam memperagakan wudu Rasullullah SAW demikian:


 ...ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ اِلَى اْلمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ.... مسلم
... kemudian ia masukkan tangannya (untuk menciduk air) lalu ia keluarkan, terus dicucinya kedua tangannya sampai siku-sikunya.... [HR. Muslim, juz 1 hal. 210]


6.       Mengusap kepala dengan air yang ada pada kedua telapak tangan dan langsung telinga sebanyak satu kali
Caranya adalah dengan membasahi kedua telapak tangan dan letakkan di kepala sebelah depan, lalu sapukan tangan tersebut kebelakang kepala, kemudian kembalikan menyapu kedepan, lalu turunkan tangan itu, terus disapukan/ diusapkan pada dua telinga dengan memasukkan jari telunjuk kedalam telinga untuk menyapu/ mengusap daun telinga yang sebelah dalam, dan ibu jari untuk menyapu/ mengusap daun telinga sebelah luar. Hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan pada hadis berikut:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَاَقْبَلَ بِهِمَا وَ اَدْبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا اِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا اِلَى اْلمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ. الجماعة، فى نيل الاوطار 1: 183
Dari ‘Abdullah bin Zaid RA, bahwasanya Rasulullah SAW mengusap kepala beliau dengan kedua tangannya, beliau tarik kedua tangan itu ke depan dan ke belakang. Beliau memulai dari bagian depan kepala, lalu mengusap dengan kedua tangannya itu sampai ke tengkuknya, kemudian mengembalikan kedua tangan itu ke tempat memulainya tadi. [HR. Jama’ah, dalam Nailul Authar 1 : 183]


Lalu dalam hadis lain juga menerangkan sebagai berikut:


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رض قَالَ: ثُمَّ رَاَيْتُ النَّبِيَّ ص مَسَحَ بِرَاْسِهِ وَ اَدْخَلَ اُصْبُعَيْهِ السَّبَابَتَيْنِ فِى اُذُنَيْهِ وَ مَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ طَاهِرَ اُذُنَيْهِ. ابو داود و النسائى
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr RA, ia berkata, “Kemudian saya melihat Nabi SAW menyapu kepalanya dan memasukkan dua jari telunjuknya dalam lipatan daun telinganya dan mengusap bagian belakang telinganya dengan kedua ibu jarinya”. [HR. Abu Dawud dan Nasai]


7.       Membasuh kaki hingga mata kaki dan meratakannya
Caranya adalah dengan membasuh kaki kanan terlebih dahulu sampai dengan mata kaki hingga bersih, kemudian membasuh kaki kiri sampai bersih. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis berikut:


‘Abdullah bin Zaid dalam memperagakan wudu Rasullullah SAW demikian:
... ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ اِلَى اْلكَعْبَيْنِ ....  البخارى و مسلم
... kemudian ia mencuci dua kakinya sampai dua mata kakinya .... [HR. Al Bukhari dan Muslim]


8.       Membaca syahadat
Perintah membaca syahadat untuk menyempurnakan wudu diterangkan dalam hadis berikut:


عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا مِنْكُمْ مِنْ اَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْلُ: اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ ابْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ اَيِّهَا شَاءَ. احمد و مسلم و ابو داود، فى نيل الاوطار 1: 204
Dari Umar bin Khaththab RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang diantara kalian yang berwudu dengan menyempurnakan wudunya, lalu membaca, “Asyhadu allaa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh. (Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu hamba-Nya dan Rasul-Nya) melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu manasaja yang ia kehendaki”. [HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 204].



Umumnya kita membasuh anggota wudu sebanyak tiga kali-tiga kali. Namun perlu kita melihat situasi keberadaan air yang ada dalam sebelum berwudu. Keberadaan air yang sulit tetapi cukup untuk berwudu, kita sebaiknya berwudu dengan membasuh anggota-anggota wudu dengan satu kali-satu kali atau dua kali-dua kali. Namun demikian, tetaplah membasuh anggota-anggota wudu secara merata. Adapun membaca basmalah, mengusap kepala serta daun telinga, dan membaca syahadat tetap hanya sekali saja. Landasan dalam berwudu dengan membasuh anggota wudu dengan satu kali-satu kali ialah berdasarkan hadis sebagai berikut:


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً. الجماعة الا مسلما
Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW berwudu sekali-sekali”. [HR. Jama’ah, kecuali Muslim]


Berwudu dengan membasuh anggota wudu sebanyak dua kali-dua kali dijelaskan dalam hadis sebagai berikut:


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ رض قَالَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ. احمد و البخارى
Dari ’Abdullah bin Zaid RA, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW berwudu dua kali-dua kali”. [HR. Ahmad dan Bukhari]


Kemudian membasuh anggota wudu sebanyak tiga kali-tiga kali berdasarkan pada hadis berikut:


عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رض قَالَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص تَوَضَّأَ ثَلاَثًا ثَلاَثًا. احمد و مسلم
Dari ‘Utsman bin ‘Affan RA, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW berwudu tiga kali-tiga kali”. [HR. Ahmad dan Muslim]

Demikian sedikit tutorial wudu yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi diri saya khususnya dan para netizen sekalian pada umumnya.

Wednesday, June 21, 2017

Kultum: Samudra Dunya




Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Pernah kita berwisata ke pantai. Saat kita melihat samudera nan jauh disana, dari kejauhan kita melihat ombak yang mendekat menyapu bibir pantai. Ombak-ombak tersebut menjadi salah satu daya tarik pantai dan kekaguman kita karena panorama alam yang indah dan ada beberapa yang digunakan untuk berselancar oleh peselancar. Namun apa jadinya apabila ombak tersebut ukurannya lebih besar seperti yang terjadi di Aceh beberapa tahun yang lalu? Tentu samudera juga mematikan. Ombak yang kita kira indah juga bisa membunuh kita. Samudra terdiri dari air. Substansi sama yang tentunya menjadi kebutuhan manusia setiap harinya juga bisa mengakhiri hidup manusia sendiri. Bila kita melihat lebih jauh lagi, samudra bisa menopang kapal-kapal besar agar tetap terapung diatasnya akan tetapi juga mampu menghancurkannya sampai berkeping-keping.

Kehidupan dunya, atau duniawi seperti samudra dan hati kita sebagai kapal-kapalnya. Kita menggunakan samudera untuk kebutuhan kita dan sebagai sarana agar tujuan kita tercapai. Itulah makna samudra yang merupakan sarana untuk mencari makan, berpergian, sarana mencari tujuan yang lebih luhur. Laut adalah yang kita lewati dan bukan menjadi tempat tinggal kita. Kita tidak bisa terus-terusan diatas laut karena bisa jadi akan tenggelam.

Kapal akan terus mengapung bila air laut terus berada diluar kapal. Namun bila terjadi kebocoran kapal dan air laut masuk kedalam kapal menyebabkan kapal tenggelam. Begitu jugalah kita jika dunya masuk kedalam hati kita, kita akan tenggelam kedalam dunya.

Saat kita tenggelam kedalam dunya, hati kita tersandera dan menjadi budak. Dunya yang semula dapat kita kendalikan akan mengendalikan kita. Ibarat kapal yang telah mengalami kebocoran sehingga kapal tak lagi bisa dikendalikan dan akhirnya karam.

Supaya kapal kita tetap terapung, kita mesti melihat dunia ini dengan cara pandang yang sama karena Allah telah berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 190:

إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَءَايٰتٍ لِّأُو۟لِى الْأَلْبٰبِ.
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Ditambah lagi firman Allah SWT pada Surat An Nur ayat 44:

يُقَلِّبُ اللَّـهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِى ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُو۟لِى الْأَبْصٰرِ.
44. Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.

Dunya diciptakan agar kita pergunakan sekaligus kita hidup di dunya ini. Kita berlaku zuhud bukan berarti kita tidak bisa berinteraksi dengan dunia. Sebagaimana dalam suatu riwayat:

جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا ، فَقَالُوا : وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا ، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ ، فَقَالَ : ” أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.
“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi SAW dan bertanya tentang ibadah Nabi SAW. Setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah SAW, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah SAW kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari No. 5063).

Rasulullah tidak memisahkan dirinya dari dunya. Pemisahan yang dilakukan jauh lebih dalam, yaitu pemisahan hati. Keterikatan beliau adalah kepada Allah SWT karena beliau memahami firman Allah pada Surat Al Ankabut ayat 64:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْءَاخِرَةَ لَهِىَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ.
64. dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

Pemisahan bukan diartikan tidak boleh memiliki benda-benda duniawi. Sebab dalam melaksanakan ibadah, kita memerlukan harta benda misalnya untuk shodaqoh, menunaikan ibadah haji dan amal shaleh lainnya. Selain itu pada jaman Rasulullah, para sahabat Rasulullah kaya raya. Pemisahan berarti memandang dan berinteraksi dengan dunya dalam arti yang sebenarnya, yaitu sekedar suatu sarana. Pemisahan ialah ketika kita menyimpan dunya di tangan dan bukan di hati. Hal itu sesuai pernyataan Ali bahwa: “Zuhud bukan berarti kamu tidak boleh memiliki sesuatu, melainkan tidak ada sesuatu pun yang boleh memilikimu”.

Layaknya air laut yang masuk kapal, ketika kita biarkan dunya masuk hati kita maka kita akan tenggelam. Air laut dimaksudkan hanya sebagai sarana yang harus tetap berada di luar kapal. Dunya juga tidak dimasukkan kedalam hati kita. Sebab dunya hanya sarana yang tidak boleh masuk dan mengendalikan kita. Dunya bukan tujuan kita.

Seperti dalam Surat Al Ankabut ayat 64 tadi, kehidupan dunia hanyalah senda gurau dan main-main, dan akhirat adalah yang sebenar-benarnya kehidupan. Dunya hanyalah fana (bersifat sementara). Akhir setelah kehidupan ini usai, seluruh manusia akan kembali menghadap Allah SWT untuk mempertanggung-jawabkan dari segala apa yang diperbuat dalam hidup di dunia ini. Sesuai firman Allah SWT yang sudah terabadikan pada Surat Az Zumar ayat 7:

إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ اللَّـهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُورِ.
7. Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu[1] dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[2]. kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.
[1] Maksudnya: manusia beriman atau tidak hal itu tidak merugikan Tuhan sedikitpun.
[2] Maksudnya: masing-masing memikul dosanya sendiri- sendiri.