Friday, March 15, 2019

Khotbah Jum'at: Taubat yang Semurni-murninya



بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
·      اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَ اْلاَرْضِ وَ هُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكرِيْم:
·      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
·      يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً. وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
·      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
·      أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهَ وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّي اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِىالنَّارِ. 
·      اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang menguasai langit dan bumi, dan Dia-lah yang Maha Kuasa. Kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami, dan dari kejahatan amal perbuatan kami.

Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.
Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Maha Esa Dia dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba utusan Allah.

Ya Allah ya Tuhan kami, limpahkanlah sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan pengikutnya yang senantiasa mengikutinya hingga akhir zaman nanti.
Selanjutnya dari mimbar ini saya serukan kepada diri saya sendiri dan umumnya pada jama’ah sekalian agar senantiasa menjaga, mempertahankan, dan terus berupaya meningkatkan iman dan takwa. Sebab dengan iman dan takwa kita dapat selamat di hari pengadilan-Nya kelak.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Kesempatan khutbah ini saya akan menyampaikan tentang: Taubat yang Semurni-murninya. Melalui penghayatan dalam memaknai taubat yang semurni-murninya, kita mampu memupuk iman serta ketakwaan, mampu membedakan mana yang hak dan yang batil, mampu memilah dan memilih perkara yang sejalan dengan perintah Allah dan Rasulullah dan menjauhi perkara yang dilarang Allah dan Rasulullah. Berbagai hal tersebut merupakan perwujudan taat kita kepada Allah dan Rasulullah.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Sudah menjadi tabiat manusia bahwa pernah salah, dosa, khilaf, dan keliru, yang senantiasa menyertai di dalam seluruh aktivitas manusia. Bahkan sejak manusia pertama hingga sekarang ini, tabiat itu tidak pernah lepas. Tidak heran bila di dalam suatu hadis menjelaskan:

عَنْ اَنَسٍ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَ خَيْرُ اْلخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ. الترمذى و ابن ماجه و الحاكم و قال: صحيح الاسناد
Dari Anas RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Setiap anak Adam banyak salahnya, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang mau bertaubat”. [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, ia berkata shahih sanadnya]

Nabi Muhammad SAW sebagai manusia biasa juga pernah berbuat salah, tetapi beliau adalah Rasul utusan Allah yang bila melakukan kesalahan akan ditegur dengan turunnya wahyu Allah. Sehingga bisa ditarik pelajaran bahwa kehidupan manusia tidak sebagaimana malaikat yang senantiasa di dalam ketaatan dan tidak mendurhakai Allah. Manusia diberi kenikmatan yang lengkap, yaitu pancaindera, akal, dan hawa nafsu.

Fungsi dari pancaindera diantaranya ada mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk membaui, kulit sebagai indera peraba, dan lidah yang merupakan indera pengecap. Akal digunakan untuk berpikir sehingga mampu memperoleh pelajaran tentang kebenaran, dengan akal pula bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Hawa nafsu cenderung pada kemauan yang mengarah kepada berbagai hal yang tidak baik dan merugikan. Setiap apa yang diterima oleh pancaindera menjadi perdebatan maupun pertimbangan antara akal dan hawa nafsu. Namun biasanya pertimbangan hawa nafsu lebih dominan dan yang akan menang. Oleh sebab itu bila hawa nafsu lebih dikedepankan dan lebih dominan daripada akal, pastilah berbagai langkah dalam hidup manusia akan cenderung pada pelanggaran, kezaliman, dan perbuatan dosa.

... إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ ... . يوسف: ٥٣
... sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada kejahatan ... . [QS. Yusuf: 53]

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Iman seseorang akan senantiasa bertambah dengan ketaatan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sebaiknya, iman akan berkurang dan bahkan bisa hilang melalui sebab bermaksiat dan melanggar segala aturan-Nya. Terlalu sering berkubang di dalam kemaksiatan menyebabkan hati menjadi keras sehingga menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Di dalam Kalam-Nya, Allah berfirman:

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ. وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ. الزخرف: ٣٦ – ٣٧.
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. [QS. Az-Zukhruf: 36-37]    

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Bila kemaksiatan telah dimanfaatkan oleh setan, maka menyebabkan seseorang ketagihan dengan kemaksiatan sehingga membuat seseorang sulit lepas dari ketergantungannya. Setan yang selalu menyertainya akan berusaha menghalangi mereka kembali ke jalan yang benar dan bahkan membisikkan ke dalam hatinya bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Betapa banyak manusia tidak menyadari bahwa hidup mereka tertipu oleh setan. Ketidak-sadaran manusia mengikuti jalan setan kelak akan tetap dipertanggung-jawabkan di akhirat. Mereka mati dalam kenistaan dan di akhirat mendapat azab yang menghinakan. Di sisi lain, merupakan keberuntungan bagi hamba Allah yang mau kembali ke jalan-Nya, mau membuka mata hatinya untuk mau menerima hidayah kebenaran dari-Nya dan membangkitkan semangat untuk mendapatkan ampunan dan bartaubat kehadirat-Nya. Sungguh amat besar kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang melampaui batas. 

قُلْ يٰعِبَادِىَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ اللهِ ۚ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. الزمر: ٥٣
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Az-Zumar: 53]

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Allah SWT mengingatkan kepada hamba-Nya untuk tidak berputus asa dalam mendapatkan ampunan-Nya dan bahkan berjanji akan memberikan surga seluas langit dan bumi.

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.  آل عمران: ١٣٣
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. [QS. Ali Imran: 133]

Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya di kemudian hari. Oleh sebab itu mari bersegera mengharapkan ampunan-Nya dengan melakukan taubat yang semurni-murninya sebelum ajal datang.

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى اللَّـهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ ... . التحريم :٨
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai... . [QS. At Tahrim: 8]

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Taubat itu hukumnya wajib disegerakan dan tidak boleh ditunda-tunda. Taubat merupakan perintah Allah dan Rasulullah. Taubat adalah meninggalkan perbuatan maksiat dan menuju ketaatan kepada Allah SWT, serta hanya Allah-lah yang berhak untuk disembah dan ditaati dari semua aturan maupun syariat-Nya.

Terdapat beberapa hal yang semestinya diperhatikan bagi hamba Allah yang mengharap ampunan dan ingin bertaubat yang semurni-murninya. Pertama, beristighfar memohon ampunan Allah, tidak menginginkan sesuatu yang bersifat duniawi seperti pangkat, jabatan, kedudukan dan kemuliaan dihadapan manusia. Kedua, bersedih dan menyesal atas perbuatan dosa yang telah diperbuat dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi dikemudian hari. Ketiga, hendaklah taubat dilaksanakan sebelum pintu taubat tertutup, yakni ketika ajal menghampiri.

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّى  تُبْتُ الْـٰٔنَ ... . النساء: ١٨ 
Dan tidaklah taubat itu diterima oleh Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan (yang) apabila datang ajal bagi seseorang diantara mereka barulah mengatakan, “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”... . [QS. An Nisa: 18]   

Demikianlah bahasan Taubat yang Semurni-murninya. Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan hamba-hamba yang senantiasa taat sehingga tergolong dalam hamba-Nya yang mendapat petunjuk.

 أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّ حِمِيْنَ.


اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا وَ خَيْرًا مَجِيْدًا، هُوَ الَّذِى اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِاْلهُدَى وَ دِيْنِ اْلحَقّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدّيْنِ كُلّهِ وَ لَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ. وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ وَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الَّذِى لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Berdasarkan uraian di khutbah pertama, terdapat beberapa hal yang semestinya diperhatikan seseorang dalam menggapai taubat yang semurni-murninya. Pertama beristighfar memohon ampun. Kedua, menyesali perbuatan maksiat yang lalu dan bertekad tidak dilakukan lagi. Ketiga, segera bertaubat sebelum ajal menjemput. Semoga Allah SWT memberi kemudahan dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya. Aamiin.

Demikianlah khutbah yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi diri saya dan jama’ah semua. Mohon maaf apabila terdapat tutur kata yang kurang berkenan. Sebagai penutup, marilah kita berdo’a.

·      وَ اِلـهُكُمْ اِلهٌ وَّاحِدٌ، لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، اَللهُ لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ
·      اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنْ، وَ ارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ،
·      اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
·      رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا، غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
·      رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
·      رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
·      وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ وَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.
·      سُبْحَانَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
·      وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.




Penyampai:
Revolusi Prajaningrat Saktiyudha, S.Si., M.Pd.

Wednesday, February 20, 2019

Tutorial Salat Sunah Duha



Selain melakukan ibadah wajib, kaum muslim dianjurkan juga melakukan ibadah sunah. Diantaranya salat sunah yaitu mendirikan salat sunah duha. Salat sunah menjadi ibadah tambahan dan bernilai pahala. Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai: (a) pengertian dan dalil pelaksanaan salat duha; (b) hukum salat duha; (c) tempat pelaksanaan salat duha; (d) waktu pelaksaan salat duha; (e) tata cara salat duha dan bilangan rakaatnya; dan (f) fadilah salat duha.

 

A. Pengertian dan Dalil Pelaksanaan Salat Duha

Sekadar diketahui bahwa kata duha (atau ada yang menulis dhuha atau dluha) secara bahasa adalah nama untuk awal siang hari (pagi). Sedangkan salat duha dalam fikih adalah salat sunah yang dilakukan di waktu duha, yaitu mulai matahari terbit seukuran satu tombak (tujuh hasta atau 2,5 meter) sampai waktu zawal (saat matahari tergelincir ke arah barat). Adapun dalil adanya salat duha adalah sebagai berikut.

 

Hadis Pertama

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَبُو التَّيَّاحِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عُثْمَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ: صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ. البخاري

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami Abu At Tayyah, ia berkata: telah menceritakan kepada saya Abu 'Utsman dari Abu Hurairah RA berkata: Kekasih saya (Nabi Muhammad SAW) telah berwashiat kepada saya dengan tiga perkara yaitu: (1) puasa tiga hari tiap-tiap bulan; (2) salat duha dua rakaat; dan (3) salat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari, no. 1845).

 

B. Hukum Salat Duha

Mayoritas ulama menyatakan salat duha hukumnya sunah muakkad (sangat dianjurkan). Hal tersebut dikarenakan Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan berpesan kepada para sahabatnya untuk mengerjakan salat duha sekaligus menjadikannya sebagai wasiat. Adapun wasiat yang diberikan Rasulullah kepada satu orang juga berlaku untuk seluruh umat, kecuali terdapat dalil yang menunjukkan kekhususan hukumnya bagi orang tersebut. Pada suatu hadis menerangkan sebagai berikut.

 

Hadis Kedua

و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ: قُلْتُ لِعَائِشَةَ هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى قَالَتْ لَا إِلَّا أَنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ. مسلم

Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Zurai' dari Said Al Jurairi dari Abdullah bin Syaqiq, katanya: Aku berkata kepada 'Aisyah: “Apakah Nabi SAW selalu melaksanakan salat duha?” ‘Aisyah menjawab, “Tidak, kecuali beliau baru tiba dari perjalanannya.” (HR. Muslim, no. 1172).

 

C. Tempat Pelaksanaan Salat Duha

Pada dasarnya, salat bisa dikerjakan di mana saja asalkan tempat tersebut adalah tempat yang bersih dan suci. Namun demikian sebagaimana salat sunah yang lain, salat duha lebih utama dikerjakan di rumah. Dalil pelaksanaan yang meyatakan salat sunah lebih utama dikerjakan di rumah adalah pada hadis berikut.

 

Hadis Ketiga

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمٍ أَبِي النَّضْرِ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ حُجْرَةً قَالَ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ مِنْ حَصِيرٍ فِي رَمَضَانَ فَصَلَّى فِيهَا لَيَالِيَ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَلَمَّا عَلِمَ بِهِمْ جَعَلَ يَقْعُدُ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ قَدْ عَرَفْتُ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ. قَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا مُوسَى سَمِعْتُ أَبَا النَّضْرِ عَنْ بُسْرٍ عَنْ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. البخاري

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Abdul A'la bin Hammad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Wuhaib, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Salim Abu An Nadlr dari Busr bin Sa'id dari Zaid bin Tsabit, bahwasannya Rasulullah SAW membuat satu ruangan. Busr berkata: Aku menduga Zaid bin Tsabit berkata: Membuat tikar pada bulan Ramadan, lalu beliau melaksakan salat malam di (kamar atau tikar) tersebut dalam beberapa malam. Kemudian para sahabat mengikuti salat beliau. Ketika mengetahui apa yang mereka lakukan beliau pun berdiam di rumah, setelah itu beliau keluar seraya berkata kepada mereka: "Sungguh aku telah mengetahui sebagaimana aku lihat apa yang kalian lakukan. Salatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik salat itu ialah salat seseorang di rumahnya, kecuali salat fardu." 'Affan berkata: telah menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Musa, aku mendengar Abu An Nadlr dari Busr dari Zaid dari Nabi SAW. (HR. Muslim, no. 689).

 

Melalui hadis tadi bisa kita ambil pengertian bahwa salat sunah lebih utama dikerjakan di rumah, termasuk di dalamnya salat sunah duha. Adapun alasan mengapa kita dianjurkan untuk melaksanakan salat duha karena salat duha merupakan salah satu wasiat Nabi Muhammad SAW. Anjuran yang merupakan wasiat Nabi Muhammad di dalam hadis yang dimaksud adalah supaya puasa tiga hari setiap bulan (puasa sunnah tanggal 13, 14, 15 kalender Hijriyah), salat duha dua rakaat, dan salat witir sebelum tidur.

 

D. Waktu Pelaksaan Salat Duha

Waktu pelaksanaan salat duha dilakukan di pagi hari dengan setidaknya menghindari waktu yang tidak diperbolehkan untuk salat. Pada waktu pagi terdapat waktu dimana tidak diperbolehkan salat, yaitu setelah salat subuh hingga terbitnya matahari. Dalil tersebut termaktub dalam hadis berikut.

 

Hadis Keempat

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعَتَيْنِ وَعَنْ لِبْسَتَيْنِ وَعَنْ صَلَاتَيْنِ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَعَنْ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ وَعَنْ الِاحْتِبَاءِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ يُفْضِي بِفَرْجِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَعَنْ الْمُنَابَذَةِ وَالْمُلَامَسَةِ. البخاري

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Ubaid bin Isma'il, dari Abu Usamah dari 'Ubaidullah dari Khubaib bin 'Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah SAW melarang dari dua macam jual beli, dua cara berpakaian dan dua salat. Beliau melarang salat setelah Subuh sampai terbit matahari dan setelah 'Asar sampai matahari terbenam. Melarang dari pakaian shama` dan duduk ihtiba` dengan satu kain sehingga menghadapkan kemaluannya ke langit. Dan beliau juga melarang dari jual beli Al Munabadzah dan Al Mulamasah. (HR. Bukhari, no. 549).

 

E. Tata Cara Salat Duha dan Bilangan Rakaatnya

Pelaksanaan salat duha sepertihalnya salat fardu, tetapi dengan dua rakaat lalu salam – dua rakaat lalu salam. Salat duha dikerjakan secara sendiri-sendiri dengan bacaan sirr (suara lembut). Berikut adalah hadis yang menerangkan salat sunah dikerjakan dua rakaat lalu salam – dua rakaat lalu salam.

 

Hadis Kelima

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَغُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَلِيٍّ الْأَزْدِيِّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى. وَقَالَ أَحَدُهُمَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ. الدارمي

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Waki' dan Ghudar dari Syu'bah dari Ya'la bin 'Atho` dari Ali Al Azdi dari Ibnu Umar ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Salat (sunah) di malam dan siang adalah dua dua." Salah seorang dari mereka menyebutkan, "Dua rakaat, dua rakaat." (HR. Darimi, no. 1422).

 

Adapun salat duha bisa dikerjakan dengan berdiri, duduk, atau bahkan tiduran. Penejelasannya terdapat pada hadis berikut.

 

Hadis Keenam

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ أَخْبَرَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ أَخْبَرَنَا حُسَيْنٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَأَلَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ عَنْ أَبِي بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ وَكَانَ مَبْسُورًا قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ قَاعِدًا فَقَالَ إِنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ. البخاري

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur berkata: telah mengabarkan kepada kami Rauh bin 'Ubadah, telah mengabarkan kepada kami Husain dari 'Abdullah bin Buraidah dari 'Imran bin Hushain RA bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi SAW, dan telah mengabarkan kepada kami Ishaq berkata: telah mengabarkan kepada kami 'Abdush Shamad berkata: Aku mendengar Bapakku (Rauh bin Ubadah) berkata: telah menceritakan kepada kami Al Husain dari Abu Buraidah berkata: telah menceritakan kepada saya 'Imran bin Hushain RA yang dahulu ia sakit bawasir (ambeiyen), ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang salatnya seseorang dengan duduk, maka beliau SAW bersabda, "Jika (orang) salat dengan berdiri, itu adalah yang paling baik/ sempurna, dan barangsiapa yang salat dengan duduk, maka baginya separuh dari pahala yang berdiri, dan barangsiapa salat dengan tiduran maka baginya separuh dari pahala yang duduk." Abu 'Abdullah berkata: "Menurutku yang dimaksud dengan tidur adalah berbaring." (HR. Bukhari, no. 1049).

Keterangan: Salat-salat yang dimaksud dalam hadis ini adalah salat sunah karena salat wajib tidak boleh dikerjakan dengan duduk atau berbaring/ tiduran kecuali ada sebab/ uzur yang dibenarkan oleh agama.

 

Apabila hendak melaksanakan salat duha bisa dengan berdiri, duduk, atau tiduran. Masing-masing pilihan cara pelaksanaan terdapat ketentuan sendiri-sendiri. Bila dikerjakan dengan berdiri, maka pahalanya sempurna. Bila dikerjakan dengan duduk, maka pahalanya separuh dari salat duha dengan berdiri. Bila salat duha dikerjakan dengan tiduran, maka pahalanya separuh dari salat duha yang dikerjakan dengan duduk.  Supaya pahala yang kita dapat bisa maksimal, kiranya kita mengerjakan salat duha dengan berdiri.

 

Selain cara pelaksaan yang beragam, bilangan rekaat salat duha juga beragam. Bilangan rakaat salat duha minimal dua rakaat dan maksimal delapan rakaat. Adapun masing-masing dalil tentang jumlah rakaat salat duha sebagaimana berikut.

 

1. Salat Duha Dua Rakaat

Salat duha sebanyak dua rakaat sepertihanya keterangan hadis yang sudah disampaikan di awal tentang wasiat Nabi SAW. Hadis yang dimaksud adalah hadis riwayat Bukhari nomor 1845 dan hadis berikut.

 

Hadis Ketujuh

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَبُو التَّيَّاحِ حَدَّثَنِي أَبُو عُثْمَانَ النَّهْدِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ. و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبَّاسٍ الْجُرَيْرِيِّ وَأَبِي شِمْرٍ الضُّبَعِيِّ قَالَا سَمِعْنَا أَبَا عُثْمَانَ النَّهْدِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ و حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ مَعْبَدٍ حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الدَّانَاجِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو رَافِعٍ الصَّائِغُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ فَذَكَرَ مِثْلَ حَدِيثِ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. مسلم

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami Abu Tayyah, telah menceritakan kepadaku Abu Utsman An Nahdi dari Abu Hurairah katanya: “Sahabat karibku (Rasulullah) SAW mewasiatiku tiga hal: (1) puasa tiga hari pada setiap bulan; (2) salat duha dua rakaat; (3) dan salat witir sebelum tidur.” Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abbas Al Jariri dan Abu Syimr Adl Dluba`i, keduanya berkata: Kami mendengar Abu Utsman An Nahdi menceritakan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW seperti hadis di atas. Dan telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Ma'bad, telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Mukhtar dari Abdullah bin Danakh katanya: telah menceritakan kepadaku Abu Rafi' Ash Shaigh katanya: Aku mendengar Abu Hurairah mengatakan: "Sahabat akrabku Abul Qasim SAW mewasiatikan kepadaku untuk melakukan tiga perkara, lantas ia menyebutkan hadis Abu Utsman dari Abu Hurairah. (HR. Muslim, no. 1182).

 

2. Salat Duha Empat Rakaat

Salat duha bisa dikerjakan sebanyak empat rakaat. Adapun jumlah rakaat salat duha sebanyak empat rekaat berdasarkan hadis berikut.

 

Hadis Kedelapan

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ يَعْنِي الرِّشْكَ حَدَّثَتْنِي مُعَاذَةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَزِيدَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ وَقَالَ يَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ. مسلم

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami Yazid yaitu Yazid Ar Risyk, telah menceritakan kepadaku Ma'adzah, ia pernah bertanya kepada 'Aisyah RA: “Berapa raka’at Rasulullah SAW salat duha?” Jawab Aisyah, “Empat rakaat dan kadang-kadang beliau menambah dengan beberapa yang beliau kehendaki.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Yazid dengan sanad seperti ini, Yazid mengatakan: "Maasya Allah." (HR. Muslim, no. 1175).

 

3. Salat Duha Delapan Rakaat

Salat duha bisa dikerjakan sebanyak delapan rakaat. Dalil tentang salat duha delapan rakaat adalah sebagai berikut.

 

Hadis Kesembilan

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ: مَا أَخْبَرَنِي أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى إِلَّا أُمُّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا حَدَّثَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَصَلَّى ثَمَانِي رَكَعَاتٍ مَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ. وَلَمْ يَذْكُرْ ابْنُ بَشَّارٍ فِي حَدِيثِهِ قَوْلَهُ قَطُّ. مسلم

Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Amru bin Murrah dari Abdurrhman bin Abu Laila katanya: “Tidak ada seseorang yang mengkabarkan kepadaku bahwa ia melihat Nabi SAW salat Duha kecuali Ummu Hani’. Sesungguhnya ia berkata, “Bahwasanya Nabi SAW masuk ke rumahnya pada waktu Fathu Makkah, kemudian beliau salat Duha delapan rakaat, saya tidak pernah melihat beliau salat yang lebih ringan dari pada itu, namun beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” Namun dalam hadisnya, Ibnu Basyar tidak menyebutkan ucapannya sama sekali. (HR. Muslim , no. 1177).

 

4. Salat Duha Dua Belas Rakaat

Terdapat riwayat tentang salat duha sebanyak dua belas rakaat. Hal tersebut berdasarkan hadis sebagai berikut.

 

Hadis Kesepuluh

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ مُوسَى بْنِ أَنَسٍ عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا مِنْ ذَهَبٍ فِي الْجَنَّةِ. ابن ماجه

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair dan Abu Kuraib, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhamad bin Ishaq dari Musa bin Anas dari Tsumamah bin Anas dari Anas bin Malik ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang salat Duha dua belas rakaat, Allah akan membangunkan untuknya istana emas di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 1370).

Keterangan: Terkait rawi Musa bin Anas yakni Musa bin Fulan bin Anas merupakan tabi'ut tabi'in kalangan biasa. Ibnu Hajar Al 'Asqalani mengomentarinya majhul.

 

Hadis pelaksanaan salat duha sebanyak dua belas rakaat terdapat perawi yang majhul, maka hadis tersebut adalah dla’if. Oleh karena itu hadis tersebut tidak bisa kita jadikah dasar/ hujjah dalam pengamalan ibadah kita.

 

 

F. Fadilah Salat Duha

Ibadah yang kita lakukan hanyalah untuk mengharap rida Allah SWT semata. Apa yang kita upayakan adalah agar kelak kita bisa memanen banyak kebaikan yang kita peroleh selama di dunia. Sebagai penambah semangat, amaliyah yang bisa kita lakukan dalam hal ini adalah salat dhuha. Dijelaskan oleh Rasulullah SAW bahwa bila kita melaksanakan salat dhuha, maka amaliyah paling ringan untuk mensedekahi 360 persendian tubuh bila kita tidak mampu menutup dahak di masjid atau menyingkirkan gangguan di jalan. Bila kita pikir, siapa yang mampu mensedekahi 360 persendiannya sendiri kalau tidak kita sendiri usahakan? Penjelasan Rasulullah SAW terdapat dalam hadis berikut.

 

Hadis Kesebelas

حَدَّثَنَا زَيْدٌ حَدَّثَنِي حُسَيْنٌ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي بُرَيْدَةَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: فِي الْإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلَاثُ مِائَةِ مَفْصِلٍ، فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً. قَالُوا: فَمَنْ الَّذِي يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: النُّخَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوْ الشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنْ الطَّرِيقِ، فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ. احمد

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zaid (bin Al Hubbab bin Ar Rayyan), telah bercerita kepadaku Husain (bin Waqid), telah bercerita kepadaku 'Abdullah bin Buraidah berkata: Aku mendengar Buraidah berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Dalam diri manusia itu ada 360 persendian, yang ia harus bersedekah untuk tiap-tiap persendian itu.” Para sahabat bertanya, “Lalu siapa orang yang mampu mengerjakan yang demikian itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Engkau menutup dahak yang berada di masjid dengan tanah (itu merupakan sedekah), atau engkau menyingkirkan gangguan yang ada di jalan (itu merupakan sedekah), jika kamu tidak mampu maka mengerjakan salat Duha dua rakaat itu mencukupi bagimu.” (HR. Ahmad, 21920).

 

Kita patut bersyukur bahwa 360 persendian yang ada pada diri kita berfungsi semua. Bayangkan bila ada beberapa yang tidak bisa berfungsi dengan baik, pastilah menjadi masalah dan mengganggu kita dalam kegiatan sehari-hari. Sudah semestinya kita berupaya mensedekahinya sebagai wujud syukur kita. Oleh sebab itu, didalam hadis diatas bisa kita pahami bahwa dalam rangka mensedekahi 360 persendian yang terdapat pada diri kita adalah minimal dengan menutup dahak di masjid atau menyingkirkan gangguan di jalan. Namun bila kita tidak mampu, maka salat dhuha dua rekat sudah dinyatakan cukup untuk mensedekahi 360 persendian yang ada pada diri kita. Wallahu a’lam bishshawwab. Semoga kita menjadi hamba yang istiqomah dan bersungguh-sungguh dalam menggapai rida Allah SWT sehingga termasuk hamba-hamba yang bertakwa. Aamiin.

 

Demikianlah berbagai dalil ataupun pelajaran yang bisa menjadi acuan kita dalam ibadah salat duha. Dalil yang kita gunakan untuk beribadah adalah dalil dari Al-Qur’an yang sudah pasti benar dan/ atau hadis shahih atau setidaknya hasan lidzatihi. Adapun selain dalil yang ada, tidak menutup kemungkinan terdapat dalil yang shahih maupun sharih lainnya yang bisa kita gunakan sebagai landasan hukum ibadah. Semoga kita semuanya mampu melaksanakan salat dengan baik dan benar sebagai upaya kita meraih kesempurnaan amal salih. Aamiin.