Manusia dalam hidupnya tidak bisa berdiri sendiri. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk pemenuhan kebutuhan primer perlu campur tangan manusia lain. Pemenuhan kebutuhan primer tersebut melalui transaksi jual beli antara satu manusia dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, kita sebagai orang Islam mesti mengetahui rambu-rambu yang digariskan oleh agama Islam mengenai jual beli. Adapun pada ulasan kali ini membahas tentang mengenal modus penawaran palsu (najsy).
A. Riwayat Berkaitan Mengenal Modus Penawaran Palsu (Najsy)
Menjalankan aktivitas dagang yang jujur merupakan kunci utama untuk meraih keberkahan. Namun faktanya banyak orang sering mempraktikkan trik curang demi keuntungan sesaat. Salah satu tindakan yang dilarang keras adalah najsy (sering pula ditulis najasy), atau yang secara sederhana kita sebut sebagai penawaran palsu. Praktik ini bertujuan memanipulasi harga dengan cara menampilkan kesan seolah-olah sebuah barang sangat diminati banyak orang. Pelaku biasanya melakukan penawaran harga tinggi atau memberikan pujian berlebihan tanpa ada niat sedikit pun untuk membeli. Hal tersebut menyebabkan pembeli asli terkecoh dan bersedia membayar lebih mahal dari nilai yang seharusnya.
Fenomena sebagaimana disebutkan sangat mudah kita jumpai pada era digital saat ini. Hal tersebut terutama di berbagai platform marketplace dan media sosial. Modusnya kini telah berubah menjadi aksi merekayasa testimoni positif melalui akun-akun palsu atau mengatur angka penjualan fiktif agar sebuah toko terlihat tepercaya. Di sesi lelang live, kita menjumpai perilaku orang suruhan penjual yang sengaja memanaskan suasana dengan tawaran-tawaran tinggi untuk mendorong pembeli agar segera melakukan transaksi. Mengidentifikasi modus penawaran palsu tersebut, kita dapat lebih berhati-hati dalam memutuskan pembelian dan terhindar dari skema manipulasi yang merugikan.
Menanggapi fenomena manipulasi tersebut, prinsip syariat telah meletakkan batasan yang tegas agar hak-hak pembeli tetap terlindungi. Terdapat riwayat yang menegaskan perlunya kejujuran dalam penawaran agar tidak ada pihak yang merasa tertipu oleh permainan harga sepihak. Pernyataan tersebut bersandar pada dalil sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut.
Hadis Ke-1
سنن أبي داوود ٢٩٨١: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ السَّرْحِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَنَاجَشُوا.
Artinya: Sunan Abu Daud nomor 2981: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Amru bin As-Sarh, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Az-Zuhri, dari Said bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda: "Janganlah kalian melakukan (jual beli dengan sistem) najsy (penawaran palsu)."
Hadis Ke-2
صحيح البخاري ١٩٩٦: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا يَبِيعُ الرَّجُلُ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلَا يَخْطُبُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ وَلَا تَسْأَلُ الْمَرْأَةُ طَلَاقَ أُخْتِهَا لِتَكْفَأَ مَا فِي إِنَائِهَا.
Artinya: Shahih Bukhari nomor 1996: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Az-Zuhri, dari Said bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW melarang orang kota menjualkan barang milik orang desa (sehingga pemilik barang tidak tahu harga pasar), melarang praktik najsy atau penawaran palsu (dengan meninggikan harga), melarang seseorang menjual di atas tawaran saudaranya, melarang seseorang meminang wanita yang sedang dipinang saudaranya, serta melarang seorang wanita meminta suaminya untuk menceraikan istri lainnya dengan tujuan agar ia bisa menguasai apa yang menjadi hak (rezeki) saudarinya tersebut.
Hadis Ke-3
صحيح البخاري ١٩٩٨: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّجْشِ.
Artinya: Shahih Bukhari nomor 1998: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Nafi, dari Ibnu Umar RA, ia berkata bahwa Nabi SAW melarang praktik najsy (penawaran palsu).
B. Penjelasan Dalil
Kitab Mukhtasar Nailul Authar jilid 3 halaman 38 menerangkan bahwa: Pensyarah Rahimahullah Ta'ala mengatakan: Ucapan perawi (‘an-najsy), disebutkan di dalam Al Fath: An-Najsy secara etimologi berarti melepaskan binatang buruan dari kandangnya dengan maksud untuk diburu, sedangkan menurut terminologi syari’at ialah menambah harga barang dagangan, dan itu bisa terjadi dengan sepengetahuan si penjual, sehingga keduanya (si penawar yang menaikan harga) dan si penjual sama-sama menanggung dosa, dan bisa juga diiakukan tanpa sepengetahuan si penjual, sehingga pelakunya (si penawar) disebut sebagai najisy (pelaku praktek ini).
Asy-Syafi’i mengatakan, "An-Najsy adalah mendatangi barang dagangan yang sedang diperdagangkan lalu menawar dengan suatu harga padahal ia tidak bermaksud membelinya, akan tetapi bermaksud agar para penawar lainnya tertarik lalu menawar dengan harga yang lebih tinggi ketika mendengar tawarannya." Ibnu Bathal mengatakan, “Para ulama telah sepakat bahwa pelaku praktek najsy adalah orang yang bermaksiat karena perbuatannya itu, namun mereka berbeda pendapat mengenai transaksi jual beli yang dilakukan dengan cara ini. Ibnu Al Mundzir mengutip pendapat dari segolongan ahli hadis, bahwa jual beli tersebut rusak (tidak sah) jika dilakukan dengan cara najsy, demikian juga pendapat golongan Azh-Zhahiri, salah satu riwayat dari Malik dan pendapat yang masyhur dari mazhab Hanbali bila hal itu dilakukan dengan kesepakatan si penjual. Sedangkan pendapat yang masyhur dari mazhab Maliki adalah tetapnya hak memilih (antara melanjutkan jual beli atau membatalkan). Demikian juga salah satu pandangan Asy-Syafi’i sebagai kiasan atas jual beli cara musharrah.
Sebagaimana catatan kaki dalm kitab Mukhtasar Nailul Authar halaman 39 disebutkan penjelasan jual beli musharrah. Pengertian jual beli musharrah adalah menjual kambing, sapi, atau unta dengan cara menahan air susunya tetap berada di dalam ambingnya (kelenjar susunya) selama beberapa hari supaya hewan itu terlihat seakan-akan air susunya subur, sehingga orang-orang tertarik untuk membelinya. Alasannya, karena di dalamnya mengandung unsur penipuan.
C. Menyikapi Tentang Mengenal Modus Penawaran Palsu (Najsy)
Sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhan. Berbagai kebutuhan barang atau jasa seorang manusia memerlukan uluran tangan manusia lain. Adanya kenyataan tersebut, sebagai umat Islam harus mengetahui garis besar aturan jual beli yang sudah ditentukan Agama Islam. Umat Islam mengetahui aturan jual beli supaya tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang Agama Islam. Allah menciptakan bumi untuk manusia. Sumber daya alam (SDA) di bumi untuk kesejahteraan makhluk di dalamnya. Pemenuhan kebutuhan hidup manusia dengan jual beli merupakan sesuatu yang halal. Hal tersebut menjadi terlarang apabila dalam jual beli menerjang larangan syariat Agama Islam. Salah satu yang diperhatikan adalah pentingnya mengenal modus penawaran palsu (najsy).
Syariat Islam secara konsep menempatkan kejujuran dan transparansi sebagai pilar utama dalam setiap transaksi ekonomi. Membedah etimologi kata najsy yang bermakna melepaskan binatang buruan dari kandang dengan tujuan untuk diburu kembali sehingga kita mendapati gambaran sangat akurat mengenai hakikat praktik ini. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’i, inti praktik najsy adalah jebakan sehingga penjual atau orang-orangnya (najisy) sengaja melemparkan umpan berupa penawaran tinggi. Hal tersebut dilakukan agar pembeli asli yang menjadi "korban buruan" merasa terdesak, tertarik, dan akhirnya masuk ke dalam perangkap harga tidak wajar. Tindakan ini secara pada dasarnya cacat karena transaksi yang seharusnya didasari pada prinsip kerelaan (an taradhin) telah hilang oleh informasi harga yang dibuat-buat. Hubungan antara larangan tegas dalam ketiga riwayat hadis di atas dengan narasi hukum para ulama menunjukkan betapa seriusnya Islam melindungi hak konsumen.
Sabda Nabi SAW yang secara langsung melarang najsy memunculkan ijmak (kesepakatan) ulama sebagaimana dikutip oleh Ibnu Bathal, bahwa pelakunya jelas telah berbuat maksiat dan menanggung dosa. Menariknya, ulama mazhab Maliki dan Asy-Syafi'i mengkiaskan najsy dengan praktik jual beli musharrah (menahan air susu hewan ternak agar terlihat gemuk). Analogi ini sangat relevan karena keduanya beroperasi pada modus yang sama, yakni penipuan sehingga persepsi pembeli salah. Hal itu karena adanya unsur penipuan, semestinya pembeli yang menjadi korban diberikan hak untuk memilih (khiyar), apakah ingin membatalkan transaksi atau tetap melanjutkannya sesuai kesepakatan akhir. Perubahan zaman tidak lantas menghapus praktik terlarang ini, melainkan hanya mengubah mediumnya.
Apabila pada masa klasik, orang-orang yang mempraktikkan sistem najsy berdiri di tengah pasar tradisional untuk meneriakkan harga palsu. Namun pada era sekarang ini, peran tersebut digantikan oleh bot, akun anonim, atau pasukan pendengung (buzzer) di dunia maya. Di berbagai platform marketplace, manipulasi ini wujudnya adalah rekayasa ulasan bintang lima, pembelian fiktif (sering disebut fake order atau brushing), hingga pengaturan algoritma agar sebuah produk terlihat sangat laris. Demikian pula pada fitur lelang live di media sosial, intervensi akun-akun suruhan yang sengaja melakukan "perang harga" di kolom komentar adalah bentuk penerapan najsy yang paling nyata di abad modern. Hal ini membuktikan bahwa dalil yang diturunkan belasan abad silam masih sangat kontekstual untuk memecahkan problematika ekonomi digital saat ini.
Sebagai penutup, praktik najsy tidak hanya merugikan individu secara finansial, tetapi juga merusak tatanan kepercayaan (trust) yang menjadi urat nadi perniagaan yang sehat. Syariat Islam tidak melarang seorang pedagang mencari keuntungan yang besar, asalkan hal tersebut dicapai melalui peningkatan kualitas barang dan pelayanan, bukan melalui ilusi atau penawaran palsu yang menzalimi pihak lain. Mengidentifikasi dan memahami hukum najsy di era digital merupakan sebuah keharusan bagi setiap Muslim. Kesadaran ini akan membentengi para pembeli agar tidak mudah terprovokasi oleh rekayasa popularitas semu, sekaligus menjadi alarm keras bagi para penjual bahwa keberkahan rezeki tidak akan pernah bisa bersanding dengan kecurangan.
Agama Islam membolehkan jual beli asalkan sesuai rambu-rambu yang diberikan oleh syariat Agama Islam. Oleh karena itu, mari sebisa mungkin mengetahui rambu-rambu jual beli dalam Agama Islam, termasuk jual beli dengan praktik sistem najsy. Wallahu a’lam.
Semoga pengetahuan mengenai fikih jual beli mampu memberi rambu-rambu kita sebagai umat Islam dalam bertransaksi. Hal ini penting karena sebagai manusia, mereka tidak bisa lepas dari pemenuhan berbagai kebutuhan. Hal tersebut termasuk utamanya kebutuhan primer. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dan dijauhkan dari sesuatu yang terlarang atau haram sehingga apa yang kita konsumsi ataupun yang dipakai semuanya halal. Apa yang kita konsumsi dan apa yang kita pakai mempunyai andil terkabul atau tidaknya doa kita.
.png)
No comments:
Post a Comment