Friday, November 27, 2020

Khotbah Jum'at: Warga Negara yang Baik Menjalankan Perintah Agama

 


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

  • اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَ اْلاَرْضِ وَ هُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكرِيْم:
  • يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
  • يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً. وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
  • يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
  • أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهَ وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّي اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِىالنَّارِ.
  • اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Syukur alkhamdulillah pada siang ini kita diberi kesempatan untuk melaksanakan rangkaian ibadah salat Jum’at. Kesempatan beramal salih ini merupakan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita semua. Hal tersebut mesti kita syukuri di tengah kesibukan kita dalam beraktivitas. Kita mesti menyempatkan untuk melaksanakan kewajiban yang Allah berikan. Kita juga berupaya mengamalkan amalan-amalan sunah lainnya. Tak lupa shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah SAW yang telah membawa risalah Islam kepada umatnya. Risalah yang membawa umat ke jalan yang lurus dan juga jalan yang terang.

Selanjutnya dari mimbar ini saya serukan secara khusus kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah salat jumat pada umumnya agar senantiasa menjaga, mempertahankan, dan terus berupaya meningkatkan iman dan takwa. Melalui bekal iman dan takwa, kita dapat selamat di dunia dan di akhirat. Hal tersebut tentunya diikuti dengan belajar ilmu agama.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Seorang muslim hendaknya menghiasi kehidupannya dengan nilai-nilai yang ada pada Agama Islam. Setiap aspek pada sendi kehidupan seorang muslim mestinya bersesuaian dengan nilai-nilai yang ada pada Agama Islam. Kita sebagai seorang muslim yang menjadi warga Negara Indonesia juga berkewajiban untuk menjalankan perintah agama. Warga negara yang baik adalah warga negara yang menjalankan perintah agama. Hal tersebut sebagaimana sila pertama Pancasila yang berbunyi: Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal tersebut menunjukkan bahwa negara hadir ditengah-tengah umat beragama. Selain itu juga sudah menjadi keharusan bagi warga negaranya untuk beragama atau meyakini adanya Tuhan. Sebagai warga negara, kita semaksimalnya menjalankan perintah agama. Hal tersebut adalah wujud dari warga negara yang baik. Bisa dikatakan ketika seseorang yang beragama Islam tidak salat lima waktu adalah bentuk warga negara yang kurang baik, atau bahkan tidak baik. Oleh karenanya, supaya kita tidak menerjang perintah agama maupun negara, kita sebagai seorang muslim mesti paham akan ilmu Agama Islam.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Ilmu agama tidak seperti ilmu dunia. Perbedaannya adalah ilmu Agama Islam mesti diketahui oleh seluruh pemeluknya. Tetapi ilmu dunia ada sebagian yang tidak tahu tidak mengapa. Sebagai contoh ilmu tentang salat mesti diketahui oleh pemeluk agama Islam. Bagaimana gerakan salat, bagaimana bacaan salat, bagaimana tata tertib salat berjamaah, dan lain sebagainya, pemeluk Agama Islam mesti paham. Hal tersebut dikarenakan berkaitan dengan praktik ibadah masing-masing seorang muslim. Selain itu dalam bermuamalah, ada batasan-batasan yang perlu diketahui seorang muslim agar tidak terjerembab ke jurang kefasikan. Berbeda dengan ilmu dunia yang tidak harus diketahui setiap orang. Misalnya ilmu pertanian tidak semua orang mesti paham akan ilmu pertanian. Hal tersebut karena tidak semua orang diwajibkan untuk menjadi petani.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Tidak dipungkiri bahwa seseorang yang berilmu akan diberi derajat yang lebih. Ketika seseorang belajar ilmu dunia akan diberi gelar akademik setelah menyelesaikan belajarnya. Sebagai seorang muslim, kita juga terus belajar ilmu agama untuk menggapai rida Allah. Orang yang belajar ilmu agama akan dinaikkan derajatnya oleh Allah. Namun orang yang berlepas diri dari ilmu agama atau mengikuti hawa nafsu akan dihinakan oleh Allah. Hal tersebut sebagaimana Alquran Surat Al A’raf ayat 176.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. الا عراف: 176

Artinya: Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir (QS. Al A’raf: 176).

Melalui Alquran Surat Al A’raf ayat 176 bisa kita ketahui bahwa Allah akan meninggikan derajat seseorang karena paham akan ilmu agama. Kita tahu bahwa sumber ilmu Agama Islam adalah Alquran dan hadis Nabi. Allah mengangkat derajat seseorang yang paham ilmu agama karena seluruh aspek kehidupan seorang hamba tersebut berlandaskan Alquran dan sunah. Hal tersebut tercermin pada akhlak seorang hamba sebagaimana nilai-nilai yang ada pada Alquran dan sunah. Sebaliknya, orang yang berlepas diri dari ilmu agama dengan mengikuti hawa nafsu diibaratkan seperti anjing. Digambarkan pada ayat tadi bahwa ketika anjing dihalau, maka anjing tersebut menjulurkan lidah. Ketika anjing tersebut didiamkan saja, anjing tersebut tetap menjulurkan lidahnya. Penggambaran itu sepertihanya seseorang yang berlepas diri dari ilmu agama dan cenderung mengikuti hawa nafsunya apabila diingatkan akan tetap menuruti hawa nafsunya. Begitu juga ketika dibiarkan, seseorang yang mengikuti hawa nafsunya tetap menuruti apa yang menjadi hawa nafsunya. Artinya sama saja kelakuannya ketika diingatkan atau tidak dingatkan dengan aturan-aturan Agama Islam. Oleh karenanya sebagai seorang muslim sekaligus warga negara yang baik, kita ketika diingatkan dengan nasehat-nasehat Agama Islam ya sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami taati).

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Sebagai seorang muslim ketika dinasehati dengan ilmu Agama hendaknya mentaatinya. Hal tersebut menandakan bahwa hati kita sehat. Namun sebaliknya apabila seseorang diingatkan dengan ilmu agama malah bertambah kekufurannya, berarti dalam hatinya ada penyakit. Allah SWT berfirman,

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوْا وَهُمْ كٰفِرُوْنَ

Artinya: Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surah itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir (QS. At Taubah: 125).

Melalui Alquran Surat At Taubah ayat 125 dapat diketahui bahwa apabila seseorang yang kejelekkannya disinggung dengan Alquran malah bertambah kekufurannya, berarti hatinya ada penyakit. Sebaliknya seseorang yang hatinya sehat ketika diingatkan dengan aturan-aturan Agama Islam justru bertambah imannya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah surat Al Anfal ayat 2 dan 3.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ {2} الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ {3}

Artinya: (2) Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (3) (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka (QS. Al Anfal: 2 - 3).

Melalui Surat Al Anfal ayat 2 dan 3, kita tahu bahwa hati yang sehat itu apabila dibacakan ayat-ayat Allah akan gemetar hatinya dan justru bertambah kuat imannya. Melalui iman yang kuat, seorang hamba menegakkan salat dan menginfakkan hartanya. Hal tersebut merupakan tanda hamba yang bertawakal kepada Allah. Oleh karena itu marilah senantiasa belajar Agama. Sebab mempelajari ilmu agama tidak akan selesai meskipun belajarnya dari ayunan sampai liang lahat. Seseorang akan mulia dengan diangkat derajatnya oleh Allah karena paham ilmu agama. Seseorang melaksanakan perintah agama berdasarkan ilmu agama. Melaksanakan perintah agama merupakan wujud warga negara yang baik.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Demikian yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi nasihat bagi saya pribadi dan keluarga, serta secara umum bila ada manfaatnya dihaturkan kepada jamaah sekalian. Mohon maaf apabila terdapat tutur kata yang kurang berkenan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا وَ خَيْرًا مَجِيْدًا، هُوَ الَّذِى اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِاْلهُدَى وَ دِيْنِ اْلحَقّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدّيْنِ كُلّهِ وَ لَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ. وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ وَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الَّذِى لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ الله، وَ اتَّقُوا اللهَ وَ اعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ،

·      اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّـيْتَ عَلَى آلِ اِبـْرَاهِيْمَ. وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ اِبـْرَاهِيْمَ، فِى اْلعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

·      اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

·      رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا، غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

·      رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

·      اللَّهُمَّ اِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ.

·      رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

·      سُبْحَانَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

·      وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Penyampai: Revolusi Prajaningrat Saktiyudha, S.Si., M.Pd.

Monday, November 2, 2020

Doa Mohon Ketetapan Hati

 


 

Hati adalah segumpal daging yang mempengaruhi segala aspek  yang ada pada diri seseorang. Apa yang terbesit dalam hati kelak akan dipertanggung-jawabkan. Hal tersebut seperti yang ada pada Alquran Surat Al Israa’ ayat 36.

 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ، اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولـــٰۤئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا. الاسراء: 36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS. Al Israa': 36).

 

Sebagaimana dalam Surat Al Israa’ ayat 36 tadi diterangkan bahwa terdapat larangan mengikuti segala sesuatu yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Allah SWT kemudian menekankan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karenanya sebagai seorang muslim, kita memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan ketetapan hati dalam rangka takwa kepada Allah dan mengharap rida-Nya. Sehingga segala sesuatu yang ada pada diri seorang muslim adalah kebaikan. Adapun doa memohon ketetapan hati adalah sebagai berikut:

 

A.       Doa dari Alquran

 

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَ هَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً، اِنَّكَ اَنْتَ اْلوَهَّابُ. ال عمران:8

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau lah Maha Pemberi (karunia) (QS. Ali Imran: 8).

 

B.       Doa dari Hadis

 

Hadis Pertama

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ كِلَاهُمَا عَنْ الْمُقْرِئِ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ قَالَ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ. مسلم

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair, keduanya dari Al Muqri. Zuhair berkata; Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yazid Al Muqri, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Haiwah; Telah mengabarkan kepadaku Abu Hani bahwa dia mendengar Abu 'Abdur Rahman Al Hubuli, dia mendengar 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata; bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah SWT akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya." Setelah itu, Rasulullah SAW berdoa; Allahumma musharrifal quluubi sharrif quluubanaa ‘alaa thaa’atik (Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!) (HR. Muslim, no. 4798).

 

Hadis Kedua

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَعَائِشَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَهَكَذَا رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ وَرَوَى بَعْضُهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَدِيثُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ أَصَحُّ. الترمذى

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hannad; telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al A'masy, dari Abu Sufyan, dari Anas dia berkata; adalah Rasulullah SAW terbiasa membaca do'a "YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu)." Kemudian aku pun bertanya, "Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa. Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami?" beliau menjawab: "Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya." Abu Isa berkata; Hadis semakna juga diriwayatkan dari An Nawwas bin Sam'an, Ummu Salamah, Abdullah bin Amr dan A'isyah. Dan ini adalah hadis Hasan, demikianlah kebanyakan telah meriwayatkannya dari Al A'masy, dari Abu Sufyan, dari Anas, dan sebagian yang lainnya telah meriwayatkannya dari Al A'masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, dari Nabi SAW, namun hadis Abu Sufyan, dari Anas lebih shahih. (HR. Thabrani, no. 2066)

 

Keterangan:

Hadis tersebut adalah hadis hasan karena ada perawi yang bernama Talhah bin Nafi’  di kedua jalur. Ia dikomentari   laisa bihi ba`s oleh Ahmad bin Hanbal dan An Nasaaiy. Adapun dua jalur sanad yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 

Jalur sanad pertama

Anas bin Malik bin Dlamdlom bin Zaid bin Haram – Talhah bin Nafi’ – Sulaiman bin Mihran – Muhammad bin Khazim – Hannad bin As Sariy bin Mush’ab

Jalur sanad kedua

Jabir bin ‘Abdullah bin ‘Amru bin Haram – Talhah bin Nafi’ – Sulaiman bin Mihran

 

Hadis Ketiga

 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ صَالِحِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ زَائِدَةَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ إِلَّا قَالَ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ. أحمد

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata; telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il, dari Shalih bin Muhammad bin Za`idah, dari Abu Salamah, dari 'Aisyah, ia berkata; Rasulullah SAW tidak pernah mengangkat kepalanya ke langit kecuali beliau berdoa: Yaa musharrifal quluubi tsabbit qalbii ‘alaa tha’atik (Wahai Dzat yang merubah hati tetapkanlah hatiku untuk mentaati-Mu) (HR. Ahmad, no. 9052).

 

Keterangan:

Hadis tersebut adalah hadis dlaif. Hal tersebut karena ada rawi yang bernama Shalih bin Muhammad bin Za'idah. Ad Daruquthni dan Ibnu Hajar Al Atsqalani mengomentarinya dlaif.

 

Demikian doa memohon ketetapan hati dari Alquran dan hadis. Doa berasal dari Alquran maupun hadis shahih dan hasan bisa diamalkan. Doa di dalam Alquran sebagaimana firman Allah. Sedangkan doa dari hadis shahih dan hasan berasal dari Rasulullah. Pada dasarnya doa yang berisikan kebaikan boleh-boleh saja diamalkan. Hal tersebut termasuk untuk doa dari hadis dlaif, tetapi tidak bisa diyakini bahwa doa tersebut berasal dari Rasulullah SAW. Namun demikian masih ada hadis lain yang terkait dengan doa mohon ketetapan hati dan tidak semua hadis ditulis pada kesempatan kali ini. Semoga kita semuanya senantiasa diberi ketetapan hati oleh Allah SWT. Aamiin.

 

Wallahu ‘alam bishshawab